Sunday, January 15, 2012

Ibu, Ada Surga di Bawah Kakimu

بسم الله الرحمن الرحيم
http://3.bp.blogspot.com/_fKjKe5YUrXg/SbQMEdMf_gI/AAAAAAAACvs/7sedsnswTVQ/s320/Ummi.jpg

Ada hal menarik dan menyentuh di setiap status kawan yang baru saja memasuki rotasi obgin. Obgin, entah mengapa hampir semua yang memasuki bagian ini selalu teringat akan seseorang bernama ibu. Lalu menulis hal yang melankolis, dramatis, namun begitu menggetarkan jiwa karena lahir dari hati-hati yang berkesempatan melihat dan membantu perjuangan ibu di depan mata.

Tapi ini bukan kali pertama saya melihat seorang ibu melahirkan. Di rotasi sebelumnya: Anak, saya juga sempat melihat. Bukan tidak punya hati, tapi saya hanya bisa melihat dan standby di dekat kaki ibu untuk 'menangkap' anak yang lahir dari rahimnya lalu mengurusnya di bawah radiant warmer, menimbang dan sebagainya, lalu follow up di ruang perinatologi.
Lain halnya ketika saya benar-benar berada di Obgin. Peran saya ternyata tidak sesimpel itu. Mulai dari menganamnesis (wawancara dokter-pasien) ketika ibu itu datang dalam posisi duduk atau berbaring. Ada yang datang karena mules-mules pertanda waktu melahirkan kian dekat. Ada juga yang datang karena perdarahan dari jalan lahir dengan atau tanpa nyeri. Ada yg datang dengan kejang-kejang. Ada yang datang dengan tekanan darah begitu tinggi, dll. Membuat rencana terapi. Menyiapkan partus set jika dekat waktu melahirkan. Informed consent.

 Sampai tibalah saatnya melahirkan. Saya tidak lagi berdiri di dekat kakinya, tapi saya berada dekat diantara kedua kakinya; membantu persalinan! Ah, jika saya bukan dokter, jika saya tidak pernah dididik selama ini tentang ilmu melahirkan, mungkin saya bisa pingsan atau lari menjauh melihat prosesnya yang berdarah-darah. Melihat 'sesuatu' yang begitu besar keluar dari jalan lahir yang begitu kecil.
Melihat wajah sang ibu yang begitu kesakitan. Merasakan betapa banyak energi yang ia keluarkan selama meneran. Seraya mengarahkan dan memotivasi ibu untuk meneran yang benar. Ada ibu yang begitu bersemangat tapi menerannya tidak efektif dan kontraksinya tidak adekuat. Ada ibu yang kelelahan dan kurang energinya sehingga sang bayi terlalu lama di dalam rahim. Ada ibu yang 'malas' meneran dengan alasan kesakitan, dll. Siapa yang tidak cenat-cenut dalam kondisi seperti ini? ada dua nyawa di depan mata kami yang harus di tolong. Sangat wajar jika kami (dokter dan bidan) begitu bersemangat berteriak-teriak bak cheerleaders menyemangati ibu. Sangat wajar juga teriakan kami terkesan memarahi dan mengancam sang ibu. Semua demi keselamatan ibu dan bayi. Semua ada waktunya. Dan durasi melahirkan bukan jam karet yang bisa di tarik ulur seenaknya.

Tugas tidak berhenti disitu, kawan. Tidak hanya anak yang dilahirkan tapi ada plasenta. Plasenta normalnya lahir maksimal 30 menit setelah bayi lahir. Perlahan saja, tidak perlu terburu-buru. Bahayanya kalau ada sisa jaringan di rahim ibu yang menghambat kontraksi rahim. Akibatnya perdarahan patologis yang berisiko kematian ibu. Makanya ada kesakitan ketiga setelah mules-mules (his) dan meneran, yaitu saat rahimnya di eksplorasi oleh tangan dokter/bidan untuk memastikan tidak ada plasenta yang tertinggal. Lagi-lagi inform consent yang baik sangat diperlukan. Looks like very hurts you, mom..

Kesakitan keempat saat ada ruptur atau robekan jalan lahir. Bayangkan, sudah susah mengeluarkan badan kita, jalan lahir ibu sangat mungkin robek dan itu harus dijahit. Walaupun dibius sebelum dijahit, tapi bagaimana setelah reaksi obatnya habis?

Lalu ibu menjalani masa nifas sambil menyusui sang bayi. Merawat dirinya dan anaknya. Belum lagi mengurus suami dan anak-anaknya yang lahir lebih dulu. Hei, bagaimana pula jika ASI sang ibu tidak mau keluar?

Semua kondisi tersebut dapat terjadi pada ibu yang melahirkan dengan normal. Yang normal saja berisiko kematian apalagi yang berlangsung dengan bantuan alat atau dioperasi?

Membaca semua tulisan ini, apakah teman2 perempuan menyurutkan niatnya untut melahirkan dengan normal? Semoga tidak! Tahukah engkau sabda Rasulullah tentang ibu yang mengandung? 
"Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah S.W.T. mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan"
Juga tentang ibu yang melahirkan?
"Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah S.W.T mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah S.W.T." 

Juga menyusui?  
"Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya daripada badannya (ASI) akan dapat satu pahala dari pada tiap-tiap titik/tetes susu yang diberikannya."

Masih banyak hadits-hadits lain yang begitu memotivasi ibu menuai pahala dan surgaNya dengan menjalani tugas "konvensional"nya. Boleh saja para so-called aktifis perempuan berkoar-koar tentang emansipasi dan persamaan hak dengan lelaki. Sampai tertulis undang-undang di US sana bahwa perempuan berhak menentukan kapan boleh hamil. Perempuan bebas menggugurkan kandungannya, bekerja seperti lelaki, dll. Tapi untuk apa belelah-lelah menuntut sesuatu yang sebenarnya sudah secara adil dibagi oleh Allah. Sementara ada peluang yang begitu besar bagi kita (perempuan) yang tidak dapat dilakukan oleh lelaki. Yang apabila kita berlelah-lelah terhadapnya, mengharap ridhaNya, maka jelas sekali apa balasannya.



Justru ada kebahagiaan besar yang tidak terlukiskan dengan kata-kata bila perempuan dapat melahirkan dan merasakan prosesnya. Perlu bukti? Tanya saja pada kebanyakan ibu. Justru ibu-ibu begitu sedih ketika bisa hamil tapi sampai hamil saja karena janinnya keguguran. Ada juga yang dinyatakan dokter sehat namun Allah belum berkenan mengamanahkannya menimang bayi, lalu menunggu bertahun-tahun lamanya. Kalau banyak cerita perempuan yang sedih dirampas hak-haknya atas nama emansipasi, nyatanya lebih banyak yang merasa sedih belum bisa menunaikan hak-haknya sebagai ibu. Adalah konsekuensi bagi ibu mendapat hak dari anaknya berupa rasa syukur, perlakuan baik dan doa dari anaknya.

Allah berfirman, "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang tua (ibu dan bapaknya); ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah; dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang tuamu (ibu dan bapakmu), hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman, 31:14). 

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia. Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan perkataan "ah", dan janganlah kamu membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra: 23) 
Ibu juga lebih didahulukan dari pada ayah, lho.
Dari Abu Hurairah, dia berkata, telah datang kepada Rasulullah saw, seorang laki-laki lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih berhak untuk saya pergauli (perlakukan) dengan baik?" Beliau menjawab, "Ibumu" dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu" dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu" dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ayahmu." (HR. Muslim)

Dari Mu'awiyah bin Jahimah As-Salami, sesungguhnya Jahimah datang kepada Nabi Muhammad SAW, lalu berkata: "Wahai Rasulullah, aku ingin pergi perang dan aku sekarang datang minta nasihat kepada Tuan." Beliau bertanya: "Apakah kamu masih mempunyai ibu?" Ia menjawab: "Masih." Beliau bersabda: "Uruslah dia, karena "Aljannatu Tahta Aqdamil Ummahat (Surga Itu Dibawah Telapak Kaki Ibu)"
(HR. Nasa'i, Ahmad, dan Ibnu Majah)
Kurang apa lagi? 
Sungguh bersyukur dapat menimba ilmu dan menolong langsung ibu yang sedang berjihad melahirkan anaknya. Sungguh, seharusnya pada dokter yang lebih bersyukur tentang kehadiran seorang ibu di dunia ini yang semestinya kita junjung begitu tinggi karena kita yang begitu dekat dengan perjuangannya. Sehingga kita begitu mencintai ibu kita sendiri.
http://www.waislama.info/wp-content/uploads/2012/01/ibu-dan-anak.jpg 
Di dunia ini, tak akan pernah kita temukan cinta kasih seindah cinta kasih seorang Ibu. Tentang hal ini dengan apik Imam Adz Dzahabi rahimahullahu menguraikan, “Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan yang serasa sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dia telah menyusuimu dengan air susunya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dia bersihkan kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikanmu semua kebaikan, dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan kesedihan yang panjang. Dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu, dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka ia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras. Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlaq yang tidak baik. Dia selalu mendoakanmu agar mendapat petunjuk, baik di dalam sunyi maupun ditempat terbuka. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan ia haus. Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat. Begitu berat rasanya bagimu memeliharanya, padahal itu urusan yang mudah…”

“Ya….Allah Ampunillah dosa-dosaku dan kedua orang tuaku sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka menyayangiku selagi aku kecil”

0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.