Showing posts with label Diary. Show all posts
Showing posts with label Diary. Show all posts

Thursday, June 7, 2012

Ingin

بسم الله الرحمن الرحيم
tak ada kata
tak ada canda
tak ada tawa
yang memecah kembali senyap di balik senyum rembulan

diam ini menyesakkan
berjejal-jejal bak ombak menyisir tepian pantai
rindu ini menjerit
pilu pada tuts berirama
tanpa alunan suara

hanya padaMu kuingin
saat derai air mata perlahan jatuh dari pelupuk
bersama rintihan kata melayang tinggi ke langit
sujudku khusyuk
adakah pinta ini terjawab
canda dan tawa itu kembali
mewarnai lembaran-lembaran hati yang sepi

Tuesday, May 8, 2012

Kangen FULDFK

بسم الله الرحمن الرحيم
Kangen parah sama FULDFK. Dulu semangat ini meletup ingin bertemu wajah-wajah luar biasa. Terlalu sering rapat via chatting karena terpisah jarak memberi sensasi berbeda sewaktu bertemu (kan? kan?). Sekarang sama saja. Saya perlu melihat mereka, bersalam-salaman hangat, cupika-cupiki, tertawa, bertegur sapa sampai berbagi asa dan rahasia. Saya perlu tertular aura itu lagi. Aaaaaaaa...

Markija, mari kita bekerja, menabung untuk menemui mereka yang masih muda sebentar lagi di Jakarta, Jatinangor, Purwokerto, Padang.. menuntaskan amanah terakhir insyaAllah sebagai DPO di penghujung tahun 2012.

Ya Allah, pertemukanlah kami

Monday, May 7, 2012

Tentang Konsulen Saat OSCE

بسم الله الرحمن الرحيم
Sepi banget ini blog ya Allah. Maafkan saya para pembaca setia *sok eksis*. Saya sedang terkena penyakit malas tingkat Jawa Barat. Buka-buka blog sendiri, balas komentar, tapi tidak kontributif. Jadi menohok diri sendiri.
Eh, tapi ada satu cerita menggelitik pikiran saya saat OSCE (ujian praktik) beberapa bulan lalu. Tentang salah satu konsulen penguji yang menurut saya gaul di usia bayanya. FYI, konsulen-konsulen FK itu ajaib, selain sibuk bisa berpindah-pindah kota dalam sehari, apa yang mereka pikirkan pun sering membuat saya terpana. Kalau tentang kedokteran menurut spesialisasinya mah biasa ya. Tapi ini..

Pagi itu ujian OSCE 15 station yang terdiri dari 12 station kasus dan 3 station istirahat. Singkat cerita, tibalah saya di station Apendisitis Akut (radang usus buntu). Berhubung kasus ini sering dijumpai sewaktu pendidikan dokter muda (koas) bagian Bedah, saya lebih cepat menuntaskan kasusnya mulai dari anamnesis pasien, pemeriksaan fisik, lab penunjang, surat rujukan, terapi farmakologis dan non farmakologis.  Sepuluh menit dari 13 menit waktu yg disediakan. Kecepetan, pikir saya. Suka lupa waktu kalau standardized pasiennya kooperatif, tahu-tahu selesai. Haduw, ga suka kondisi begini bikin salah tingkah. Mau lari-lari salah, mau keluar duluan salah, mau loncat-loncat apa lagi, hehe. Mana konsulen penguji biasanya satu suara untuk tutup mulut berjamaah. Yaudahlah diem aja. 
"Dek, pengetahuan agama kamu dalam?" Tiba-tiba penguji bertanya.

Thursday, April 19, 2012

Amanah Lagi

بسم الله الرحمن الرحيم
"Intan, bisa bicara sehabis acara ini?". Innalillahi, feeling khas seperti biasa, tapi sudah lama tidak; seperti akan menanggung bukit, ah bukan, gunung. Daaaan, benar saja hahaha *sudah pasrah*

Bagi saya amanah itu benteng penjaga yang memiliki fungsi luar biasa. Asalkan dibangun pada tempat yang tepat di waktu yang tepat. Saya tepatkah mendapatkan amanah ini? Dari dulu saya ingin sekali terlibat untuk berkontribusi secara real kepada masyarakat dan da'wah. See, waktunya sudah tiba dan akan dimulai (lagi) sejak saat ini. Meskipun dulu sering terlibat langsung. Tapi itu dulu dengan pemahaman dan kompetensi minimal. Kini kondisinya sudah berubah. Saya sih yang merasa berubah. Alhamdulillah.

Lalu, perlukah ada tulisan "Invisible"? Saya suka sih being invisible. Gimana dong hehe
"Karena kasih sayangNya, Allah membebankan amanah pada pundak yang tepat, duhai jiwa pengemban amanah. Bersabarlah. Sungguh, Allah Maha Melihat"
Bagus dan mengena bukan? itu kalimat sakti kiriman teman modifikasi cantik dari ayat di surat Al-Baqarah.. laa yukallifullahu nafsan ilaa wus'aha..

Mau amanah lagi? Gak mauuuu! Andai saya boleh berbicara seperti itu. Sebab, setiap amanah yang kita terima akan dimintai pertanggungjawabannya. Sungguh berat konsekuensi pelanggarannya di dunia dan akhirat nanti. Tapi saya punya mimpi. Amanah itulah fasilitas mimpi saya. Jadi, suka ga suka, ya belajar aja untuk menyukai. Belajar untuk eksis. Kontras sekali. Wallahi, kebutuhannya seperti itu. Suka ga suka, toh itu baik buat kita! Apa sih yang ga baik dari Allah buat makhluk2Nya? Karena bisa jadi apa yang kita sangka buruk, ternyata itu baik bagi kita. Karena mudah sekali, terlalu cepat malah, kita menilai sesuatu dari kacamata manusia. Padahal kalau dijalani prosesnya, ada akhir yang indah lho..

Sudah siapkah? Sudah pantaskah? Fasilitas dah ada nih. Mari berkontribusi dan memasyarakat. Bismillah.

Wednesday, April 18, 2012

Invisible

بسم الله الرحمن الرحيم
Cukup orang lain tahu apa yang saya lakukan. Mereka tidak perlu tahu siapa saya, seperti apa saya, di mana saya berada, hidup atau mati. I prefer to stay in the back stage. Prepare all the things they need. Support every single things to be performed. Aaaaaargh. 

Tapi apa yang terjadi justru sebaliknya. Saya diam, malah ditantang berbicara. Saya lebih senang sendiri, malah ditempatkan di  tengah-tengah massa. Saya inferior, malah digiatkan menjadi superior. Mengapa harus seperti ini? Saya bukan siapa-siapa. 

Lihat, manusia-manusia bawah dunia eh.."underworld" saja bisa melakukan apa yang mereka mau tanpa terlihat batang hidungnya, tidak tercatat namanya, atau justru memiliki berbagai ID. Mereka merangsek seperti gelap dalam terang. Ada tapi tertutupi.

Yah, cukup seperti itu; being invisible, tapi untuk kebaikan. 
 

Saturday, April 7, 2012

Curhat Agenda Awal Tahun (1)

بسم الله الرحمن الرحيم
Dear All,
Saya baru saja diingatkan tentang atrofi; bahwa sel, jaringan, organ tubuh kita akan mengalami penyusutan bila tidak digunakan. Contohnya pasien yang terbaring berberapa hari di rumah sakit akan mengalami penyusutan otot beberapa persen. Akibatnya pasien dapat terlihat lebih kurus juga sulit menggerakan kembali tubuhnya.

Blog ini seperti empunya --meskipun tidak sepenuhnya-- yang sedang menuju atrofi sebab dibiarkan saja dan sepi dari tulisan baru. Padahal saya ingin sekali menuangkan banyak tulisan sejak awal tahun lalu. Uhhhhf.. Memang blognya sepi, tapi saya merasa lebih kaya dengan berbagai aktifitas lama dan baru;

..menyelesaikan stase terakhir di obgin dengan antusiasme naik turun. Stase ini saya banyak bersentuhan dengan pasien, dengan perutnya, anaknya, ari-ari, perineum dan bagian terlarang bagi bukan mahram. Disinilah saya merasakan langsung betapa pentingnya dokter kandungan (Sp.OG) itu seorang wanita. Saya juga tergoda untuk menjadi Sp.OG, tapi begitu melihat proses pendidikannya.. enggg.. mikir-mikir lagi deh.

Sembilan minggu saja di obgin. Minggu-minggu awal semangat konstan, teman-teman bilang saya kosambi (koas ambisius). Gimana enggak, list targetnya aja segitu banyak (lihat buku panduan). Tapi setelah target yang saya buat terpenuhi, apalagi selesai midtest dan mini C-Ex, semangat itu menguap. Uapnya saya tampung dan ditransformasi menjadi semangat yang lainnya; bikin paper-bukan-sembarang-paper *halah* yang bikin saya pusing tujuh keliling et causa ujian keimanan. Selera obgin saya berkurang;
teman: "pasien baru, tan"
saya:"mangga, kamu aja atau yang belum" (jari saya setia senam diatas keyboard)
Hari-hari berlalu, sampai-sampai seorang teteh berkomentar, "Intan itu semangatnya cuma dua; kalau ga diatas banget ya dibawah banget..hahaha" TEPAT SEKALI. Kan semangat saya teralihkan teteh. Saya hanya bisa ikut tertawa membenarkan saat itu.

Mengapa ujian keimanan? karena saat menulis paper, saya juga harus menuntaskan satu hal yang memberatkan kualitas hidup saya. Makanya, kalau orang lain bisa menyelesaikan tulisannya 1-2 jam, saya membutuhkan waktu 3 minggu, sodaraa! #tepokjidat. Maaf. Tapi saya suka dengan hasilnya. Betapa perjuangan mengumpulkan memori yang terpencar dalam berbagai dimensi itu begitu memeras otak dan melelahkan hati; capek, karena harus merepresi hal yang tidak jelas.

Friday, March 23, 2012

Chat

بسم الله الرحمن الرحيم
Ternyata sangat manusia. Penuh lupa, khilaf, tak sadar dengan ucapannya.

Saya baru mengerti, makin lama saya mengerti, kalau chit-chat dua subjek itu 'menggemaskan'. Saya hanya salah satu dari orang ketiga; penonton setia. Penonton yang merasa berhak menilai apa yang disaksikannya. Itu salah atau benar terserah saya. Kalau menurut saya ga benar memang kenapa?

Judgement setiap orang yang berbeda-beda makin membuat saya khawatir. Ini penilaian saya sajakah atau malah hampir semuanya berpendapat sama. Tak usahlah menjadi konsumsi publik apa yang diperbincangkan berdua. Saya risih. Lebih baik chat dibelakang layar saja. Saya tak perlu lihat. Saya juga tak perlu resah, su'uzhon, menyangka para da'i dan da'iyahnya saling komentar apalagi mengumbar perhatian padahal belum halal. Eh, apakah sedang menuju halal?

Tenang, saya tidak menyalahkan siapapun. Itu juga saya yang pernah disangka yang tidak-tidak. Padahal saya tidak bermaksud macam-macam. Sejuta alasan menuju satu kesimpulan: kami hanya teman kok. Memang itu adanya, sampai akhirnya saya berada di posisi sebaliknya lalu saya mendapat satu kesimpulan lagi; GAK SELAMANYA APA YANG KITA PIKIRKAN SAMA DENGAN YANG ORANG LAIN PIKIRKAN.

Jadi merasa bersalah :(. Tapi, dengan mengubah sikap dan menyesuaikan dengan pikiran orang lain saya pikir lebih bijak. Untuk yang ini seperti kaidah fiqh: menghindari mudharat lebih baik daripada mengambil manfaat.Tak perlu diulangin lagi.

Pinggir jendela, 23 maret 2012. untuk sesuatu yang serius.

Saturday, March 10, 2012

Efek Ujian Kronik

بسم الله الرحمن الرحيم
Betapa waktu terkadang terasa begitu cepat, kadang pula terasa lambat. Seperti saat ini: lambat. Ah, seolah saya pemilik waktu yang bebas mengutak-ngatiknya. Padahal, untuk hal yang sama, mungkin ada yang merasa waktu lebih lambat daripada saya.

Kini waktunya diam, kembali meluruskan niat dan mendekat padaNya. Melampaui setiap momen lebih cermat sambil memaknainya. Itu yang membuatnya terasa lebih lambat. Tapi tidak dengan cairan lambung yang hipersekresi, bikin sakit perut. Tidak juga dengan SA node yang menambah pulsasi jantung. Tidak dengan irama sirkardian saya yang makin tidak karuan.

Why do I have this kind of feeling..

Oke, ujian minggu depan itu salah satu stresor. Oke, ujian bulan depan juga menjadi stresor. Oke, ujian dua bulan lagi juga stresor. Tapi hal lainnya adalah ujian non-akademik saya sejak bertahun-tahun lalu.

Kawan, ketika niat berbuat baik sudah terlantun, Allah tidak pernah luput mencatatnya.Sadar maupun tidak, sudah akan ada antrian ujian demi kebaikan yang kita inginkan. Bukankah Allah Maha Mengabulkan Doa?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Malu dan Maha Pemurah. Allah malu jika ada seseorang yang menengadahkan kedua tangan kepada-Nya tapi kemudian menolaknya dengan tangan hampa” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah). 

Kita diuji, lalu bisa lulus. Diuji lagi dengan hal lain, lulus lagi? seperti game: level-up, level up, up and up..
Hmmm, saya jadi ingat quote teman:

Manusia Bertanya : Bolehkah aku frustrasi ?
Qur'an Menjawab : Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali Imraan : 139)
Manusia Bertanya : Kenapa aku diberi ujian seberat ini?
Qur'an Menjawab : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (Al-Baqarah : 286)
Manusia Bertanya : Kenapa aku tidak diuji saja dengan hal-hal yang baik ?
Qur'an Menjawab : .. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216)
Manusia Bertanya : Kenapa aku diuji ?
Qur'an Menjawab : Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-Ankabuut : 2). Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabuut : 3)
Manusia Bertanya : Bolehkah aku berputus asa ?
Qur'an Menjawab : ..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (Yusuf : 87)
Manusia Bertanya : Bagaimana cara menghadapi ujian hidup ini?
Qur'an Menjawab : Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (Ali Imraan : 200)
Manusia Bertanya : Bagaimana menguatkan hatiku?
Qur'an Menjawab : ..Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal.. (At-Taubah : 129)
Manusia Bertanya : Apa yang kudapat dari semua ujian ini?
Qur'an Menjawab : Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.. (At-Taubah : 111)


Tertampar. Saya tidak boleh terbawa efek psikologis macam ini. hikss...mari berbenah.

"God doesn’t give you the people you want. 
He gives you the people you need. 
To hurt you, to love you, to teach you, to break you, 
to turn you into the person you’re supposed to be"
-unknown-

Monday, March 5, 2012

Tanda Tanya

بسم الله الرحمن الرحيم
Berdebu. Sudah lama ruangan ini dibiarkan oleh pemiliknya. Hanya segelintir kenangan tersimpan pada rak-rak memori kayu abasia. Ringan dan mudah dibentuk. Memang bukan jati berpelitur.

Dibiarkannya jendela terbuka. Menyilakan angin sesekali membelai perabot-perabot untaian kata dan warna. Husssh.. Namun debu lebih senang menyandar dari pada terbang bersama angin. Walau terkadang si empunya berkunjung. Mengintip. Ia tetap tenang menyelimuti segala.

Kini ia datang mencari file-file memori yang tak sengaja singgah. Terekam mata. Bersampul tanda tanya. Menepuk-nepuk debunya, lalu menyibak setiap halaman waktu. Jelas dan tak koyak meski sudah 6 tahun silam. Semua sama; yang terlihat dan tak bernama.

Perlahan tanda tanya itu memudar. Berganti titik tiga. Titik dua dan pembuka senyum.

Friday, March 2, 2012

Menjadi Keluarga yang Berbeda

بسم الله الرحمن الرحيم
“Bu, kita harus berbeda dengan orang lain dalam kebaikan. Orang lain duduk kita sudah harus berjalan, orang lain berjalan kita sudah harus berlari, orang berlari kita sudah tidur, orang lain tidur kita sudah bangun. Jangan sedikitpun berhenti berbuat baik sampai soal niat. Kita tidak boleh lalai karena kita tidak tahu kapan Allah mencabut nyawa kita”

Itulah sepenggal pesan dari seorang pemimpin keluarga kepada istrinya, Pak Tamim (Mutamimul Ula) kepada Ibu Wiwi (Wirianingsih). Kedua pasangan luar biasa yang melahirkan 11 anak penghafal Al-Qur'an. Saya merinding 'menemukan' paragraf itu. Betapa tersurat visi yang kuat. Ada mimpi yang besar yang--masyaAllah--ditopang oleh orang-orang besar. 

Kemudian baru saya ketahui tentang misi-misi yang mereka kerjakan dengan kedisiplinan tingkat tinggi melalui sebuah buku berjudul 10 bintang penghapal Al-Qur'an (terbitan 2010). Sampai-sampai peraturan-peraturan di rumah mereka disertakan ke dalam buku.

"Dua pertiga keberhasilan pendidikan itu ada di rumah. Keberhasilan adalah hasil integrasi kedua orang tuanya. Tanggung jawab seorang ayah lebih besar dibandingkan dengan ibu. Ketika ada anak yang mencuri, Rasulullah memanggil ayahnya. Dalam Al-Qur'an, ayah favorit adalah Lukman. Tak lupa kisah Ibrahim alahissalam mentarbiyah istri dan anaknya. Sesungguhnya, suami yang membangun visi dan istri yang mengisi kerangka itu."

Pendeknya, ada visioner ada misionaris *bahasanyaa.

Saya ingin seperti mereka; mewujudkan mimpi besar bersama. Meski saat ini masih terus belajar dari keluarga-keluarga teladan. Suatu hari, insyaAllah, keluarga saya menjadi salah satunya. 

Hei para calon ayah, mau dibawa kemana keluargamu nanti? Sudah jelaskah peta pencarian berkah Allah di antara langit dan bumi?
Hei para calon ibu, mari bersiap untuk komandan yang telah bersiap.

Sunday, January 15, 2012

Ibu, Ada Surga di Bawah Kakimu

بسم الله الرحمن الرحيم
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwb_7u9MqPVNxDWhk5Wvn85G2XhfifSV6xHNCOgXG5L4cKqTG0sa9Ap2_PwEoDYjy0TOd-oL7asBnG1l4l6VL1sFU9L9RzlXw3NKeuBo0lWP05Tla_3sbD2xCese780HYN_sYw_Wl90J7M/s320/Ummi.jpg

Ada hal menarik dan menyentuh di setiap status kawan yang baru saja memasuki rotasi obgin. Obgin, entah mengapa hampir semua yang memasuki bagian ini selalu teringat akan seseorang bernama ibu. Lalu menulis hal yang melankolis, dramatis, namun begitu menggetarkan jiwa karena lahir dari hati-hati yang berkesempatan melihat dan membantu perjuangan ibu di depan mata.

Tapi ini bukan kali pertama saya melihat seorang ibu melahirkan. Di rotasi sebelumnya: Anak, saya juga sempat melihat. Bukan tidak punya hati, tapi saya hanya bisa melihat dan standby di dekat kaki ibu untuk 'menangkap' anak yang lahir dari rahimnya lalu mengurusnya di bawah radiant warmer, menimbang dan sebagainya, lalu follow up di ruang perinatologi.
Lain halnya ketika saya benar-benar berada di Obgin. Peran saya ternyata tidak sesimpel itu. Mulai dari menganamnesis (wawancara dokter-pasien) ketika ibu itu datang dalam posisi duduk atau berbaring. Ada yang datang karena mules-mules pertanda waktu melahirkan kian dekat. Ada juga yang datang karena perdarahan dari jalan lahir dengan atau tanpa nyeri. Ada yg datang dengan kejang-kejang. Ada yang datang dengan tekanan darah begitu tinggi, dll. Membuat rencana terapi. Menyiapkan partus set jika dekat waktu melahirkan. Informed consent.

 Sampai tibalah saatnya melahirkan. Saya tidak lagi berdiri di dekat kakinya, tapi saya berada dekat diantara kedua kakinya; membantu persalinan! Ah, jika saya bukan dokter, jika saya tidak pernah dididik selama ini tentang ilmu melahirkan, mungkin saya bisa pingsan atau lari menjauh melihat prosesnya yang berdarah-darah. Melihat 'sesuatu' yang begitu besar keluar dari jalan lahir yang begitu kecil.

Tuesday, December 27, 2011

Ganti Shoutbox Gratis

بسم الله الرحمن الرحيم
Beberapa waktu lalu, saya perhatikan shoutbox:

Lirik-lirik tulisan dari teman2 semua yg berbaik hati mampir dan berkomentar tulus tanpa embel2 iklan di sana. Lalu, pandangan tertuju di daerah yg tidak biasanya saya lirik (atas) "SHOUTMIX IMPORTANT". O-o-w. MSN Onion Emoticon
Shoutmix yg setia menyediakan widget gratisan untuk komentar ini ternyata akan jadi berbayar terhitung tahun 2012 nanti. Hanya beberapa ribu rupiah saja perbulan sebenarnya ($0.99/mo) untuk yg paling murah. Tampilannya juga lebih keren. Tapi emang dasar males ngurusin online payment, jadi saya cari2 yg gratis lagi. Alhamdulillah masih ada. Yes!

Kalau teman2 juga merasa kita punya kemalasan yg sama *hadeh*, mari menggantinya dengan shoutbox gratisan seperti di: http://shoutcamp.com atau http://cbox.ws

Kalau ada yg gratis, kenapa harus bayar. Iya ga? =D  MSN Onion Emoticons

Saturday, December 24, 2011

Ujian Konseling

بسم الله الرحمن الرحيم
My counseling session is in 24 hour. I've done prepping my patient, her medrec, reviewing her illness, writing down the scenario, speaking it not-out loud. She is a lovable old woman, though. And I got my heart beats so fast until I meet her earlier on the next day..

***

Pagi itu, saya sengaja datang satu jam lebih awal. Pendaftaran pasien di Puskemas sudah dibuka sejak sebelum saya datang, namun pemeriksaan pasien masih puluhan menit lagi. Berhubung hari ini Senin, harinya poli lansia selain hari Kamis. Pas sekali, saya mendapat giliran ujian hari Senin dan pasien saya seorang lansia. Sebagian teman lainnya tergilir besok untuk ujian.

Jam 8 kurang, batin saya melihat jam. Saya berjalan sedikit menuju Puskesmas. Dari jauh saya memperhatikan sosok nenek berjilbab duduk dekat pedagang siomay di gerbang depan Puskesmas. Saya percepat langkah mendekatinya.
"Ibu?", saya kaget, ibu itu tidak. Saya tidak lupa kalau janji bertemu adalah jam 9 pagi.
"Kok sudah datang pagi-pagi begini?" Bukannya tidak bersyukur, tapi saya heran dan penasaran. Ternyata ibu itu juga punya janji dengan cucunya yang katanya mau periksa kelenjar di lehernya yang bengkak.
"Tapi cucu ibu belum datang juga" keluhnya sedih. Kasihan, masih pagi sudah dikecewakan cucu.
"Sabar ya, ibu. Ibu mau menunggu disini atau ke dalam sama saya?"
"Disini aja, neng"
"Kalau begitu saya ke dalam dulu ya, bu. Mau siap-siap. Nanti jam 9 saya kesini lagi"

Jam 9 kurang. Puskesmas semakin ramai oleh pasien. Di Puskesmas ini jumlah pasien ratusan setiap harinya; Poli umum (BP) sekitar 70-80 pasien, Lansia 40-50 pasien, MTBS (anak 0-5th) belasan pasien, KIA (ibu hamil,dll) juga banyak dan TB ada puluhan pasien.

Saya tengok dari jendela lantai 2 ke arah para lansia mengantri duduk. Ibu itu tidak ada disana, tidak juga di depan gerbang. Makin deg-deg-an jadinya. Meskipun tadi lebih tenang karena preceptor berhalangan datang menguji karena ada tugas ke luar kota. Tapi Kepala Puskesmas sudah datang dan siap menguji walaupun sendiri.
"Pasien saya sudah datang, dok. Tapi barusan saya lihat beliau 'menghilang'"
"Ya sudah nanti langsung ke bawah saja ya. Saya siapkan tempat dulu sambil periksa di Lansia"
"Oh, iya dok. Tadi saya juga sudah daftarkan pasiennya. Nomor antrian 13"

Tidak lama, saya turun ke lantai 1 mencari sang ibu. Ternyata ibu itu sudah duduk manis seraya mengobrol dengan sejawat di sampingnya.
"Ibu, kalau ibu dipanggil, saya yang periksa di dalam, ya. Saya periksa pasien lain dulu"

Di bagian Lansia, nampak kepala puskesmas sibuk memeriksa pasien. Saya menghampirinya untuk memberi tahu kalau pasien saya sudah datang dan siap (siaaap?) diuji. Sementara menunggu nomor antrian, saya meminta izin untuk membantu teman memeriksa di MTBS. Gak nyambung sama ujian ya? Saya pikir, dari pada nunggu di kantor, lebih baik saya periksa beberapa pasien. Pasien terobati, deg-deg-an saya juga *counter-transference: mode*

***

Ujian dimulai. Setelah saya persilakan duduk, menyapa dan berkenalan *padahal sudah kenal, secara sudah homevisit 3 kali. Lalu, saya jelaskan sedikit tentang konseling dan tujuannya..
"Ibu, kita mengobrol sebentar tentang penyakit ibu ya, mungkin sekitar 10-15 menit. Tujuannya untuk mengetahui penyebab, faktor-faktor risiko, pengobatan dan pencegahannya. Bagaimana bu?"
Ibu itu menangguk dan tersenyum. Lalu saya lanjutkan dengan brief anamnesis.
"Sekarang apa yang dirasakan bu?"
"Pegel-pegel, dok", jawabnya sambil meremas pundak kanan.
"Kalau lututnya bagaimana?". By the way, saya mau konseling tentang osteoartritisnya. Kok jadi pegel pundak? Bukannya tidak mungkin tapi..*gawat.com*

Friday, December 23, 2011

Belajar Konseling

بسم الله الرحمن الرحيم
Kata konseling baru saya kenal saat saya duduk di SMP. Bahkan saya lupa apakah di SD dulu ada yang namanya bagian BK alias Bimbingan Konseling. Yang saya pikirkan hanya satu: BK termasuk blacklist yang harus saya hindari. Habisnya, yang dipanggil kesana kebanyakan yang bermasalah menyangkut attitude. Konseling pertama dan terakhir di SMA yg pernah saya jalani hanya satu: tentang hasil tes IQ dan prospeknya terhadap masa depan saya.

Bertahun-tahun kemudian, beberapa minggu yang lalu tepatnya, saya diingatkan lagi tentang kata konseling di rotasi Family Medicine (FM). Pembekalan sesi terakhir berupa kuliah tentang itu. Senang & inspiratif. Narasumbernya luar biasa, dosen tapi nampak seperti trainer handal. Inti materinya adalah tentang: How to be a good councelor.

eh?

Mau jadi dokter saya mah.. ;p
Iya, buat apa sih belajar tentang konseling? Saya hampir-hampir melupakan salah satu aspek penting untuk menjadi dokter-bintang-lima-plus-dua (7 Stars Doctor maksudnya): a good communicator. Bukannya di rotasi lain tidak dipelajari, tapi di FM benar-benar saya mendapatkan nilai tambah tentang berkomunikasi dengan pasien. Pasti bukan saya saja yang berpikir tidak ada hubungan yang baik tanpa komunikasi yang baik. Untuk apa kita berhubungan baik dengan pasien? Hubungan dokter-pasien bukan sebatas resep dan imbalan tapi "hubungan yang membantu". Dokter membantu pasiennya untuk menjaga kesehatan. Pasien juga membantu dokter menjaga kelangsungan hidupnya. Menjalankan profesinya, maksudnya.. (sama aja :D)

Konseling secara umum berguna untuk memberikan informasi, membantu klien (kalau dokter pasangannya pasien, kalau konselor pasangannya klien) untuk berperan sendiri dalam kelangsungan hidupnya, membantu mengambil keputusan yang bijak dan realistis, dan menuntun perilaku klien agar mampu menerima segala konsekuensi.

Jadi, dalam bimbingan konseling dengan pasien, seorang dokter tidak mendominasi percakapan tapi memotivasi pasiennya untuk mengungkapkan masalah baik dari aspek medis dan non-medis. Dokter hanya memaparkan informasi tentang masalah pasien (co: penyakit dari sisi medis), pemecahan masalah dan konsekuensinya lalu menuntun pasien mengambil keputusan yang dapat dilakukannya.

Sangat berbeda dengan apa yang saya lihat pada kebanyakan dokter yang lebih senang menyuruh pasiennya untuk tidak melakukan ini dan harus melakukan itu. Melarang dan melarang. Salahkah dokter? Ngga juga sih, kan pertanyaan pasiennya juga: "Ada pantangan ga, dok? kalau ini boleh ga? kalau itu ga boleh ya dok?" Ya otomatis jawabannya sesuai pertanyaan. Apalagi pasien banyak dan waktu terbatas. Padahal apa yang sebenarnya disarankan dokter belum tentu bisa dilakukan pasien sepulangnya berobat.

Namun demikian, tidak sedikit juga dokter yang tanpa mengikuti rotasi FM pun sudah menerapkan ilmu konselingnya dengan sangat-sangat baik. Bukan mustahil jika mereka adalah dokter-dokter yang pasiennya banyak dan disayangi.

Belajar konseling = belajar metode yang baik dalam berkomunikasi dengan pasien.

Saturday, December 17, 2011

IKM & FM, feat. or vs.?

بسم الله الرحمن الرحيم
Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Family Medicine (Kedokteran Keluarga) adalah rotasi besar setelah bagian Ilmu Kesehatan Anak. Setiap rotasi besar sama2 berdurasi sembilan minggu. Tapi, berhubung dua ilmu yg berbeda maka dibagi lagi: IKM = 4 minggu dan FM = 5 minggu. Sekarang saya sudah di awal minggu ke 5.. means.. minggu terakhir di rotasi ini..means.. minggu ujian (konseling & presentasi kasus)


"5 minggu itu tidak lama lho..", kata preceptor di FM pada pertemuan pertama kami. Benar saja, apalagi FM masih terasa asing di telinga dan kepala saya, secara baru diterapkan di angkatan saya (2006). Setiap hari penasaran dengan apa yg terjadi, apa yg harus dilakukan. Tidak ada senior di kelompok yg biasanya memberi petunjuk. Karena di rotasi ini satu kelompoknya satu angkatan. Sama-sama deh nol-nya..

Ingin cerita banyak tentang keduanya. Sebab, bagi saya dua hal itu memberikan impresi yg berbeda setelah menjalaninya..
IKM tentang Kebijakan dan Manajemen Kesehatan yg fokusnya top-to-bottom..Manajemen Puskesmas.. Cakupan Kesehatan..Analisis situasi & sistem informasi kesehatan.. Intervensi... Yang mengubah mind-set saya tentang "kerjaan kepala puskesmas" dan atasan2nya (Dinkes, Kemenkes) yg ternyata sangat-sangat tidak simpel.

Disisi lain ada FM yg fokusnya bottom-up, tentang pengelolaan kesehatan individu dan keluarga yg komprehensif..Home visit mandiri.. Analisis..Bikin meal planning (rencana gizi) yg dulu pas kuliah sy ga mudheng banget bagaimana mengaplikasikannya..Rencana Olah Raga..Konseling dan ilmunya..

Ditambah tempat rotasi IKM & FM yg oke. Puskesmasnya berbeda. Apa yg kita lakukan juga berbeda. Di IKM sama sekali tidak memeriksa pasien, tapi benar-benar memahami manajemen, berkutat dengan data dan laporan, ditambah penyuluhan komunitas. Sebaliknya, di FM benar-benar mengelola pasien secara mandiri, diizinkan sampai memberi resep dan tidak ketinggalan: ttg aspek gizi, faal olah raga dan konseling lainnya mulai dari preventif, promotif, rehabilitatif dan tentu kuratif. Dihadapkan pada pasien yg banyak dan beragam keluhannya, juga terbatasnya waktu jam kerja, membuat saya mendapat banyak pengalaman terutama tentang komunikasi efektif.

Komunikasi yg diaplikasikan dilapangan itu menantang. Betapa mudah dan sulit itu relatif untuk meminta izin agar pasien mau dikunjungi dan ditanyai banyak hal yg bisa jadi itu sensitif. FYI, pasien yg harus dikunjungi (home visit) itu minimal 3 orang plus acara nyasar karena rumahnya di gang-gang. Pernah saya bertandang kedua-kalinya ke rumah pasien lansia. Beliau malah menangis terharu. Wawancara pun mengalir dan garing. Sang nenek senang bercanda. Ada juga teman saya yg pasiennya seorang bapak, malah minta bukti surat2 tentang kunjungan rumah. Belum selesai sampai disana, masih ada membuat janji dengan mereka agar mau datang ke Puskesmas untuk sesi konseling. Sebentar saja sebenarnya, tapi pemahaman masyarakat tentang pengobatan multi aspek seperti ini mungkin masih terasa asing. Jadinya, benar-benar menuntut masing-masing untuk membina doctor-patient relationship yg tak selesai dalam sekali pertemuan. Membina kepercayaan pasien, itu hal sangat penting.

Akhirnya, IKM dan FM, dua hal yang berbeda tapi saling mengisi. Senang pernah belajar keduanya. Alhamdulillah.

*Menjelang Ujian Konseling Pasien OA+HT st.I

Sunday, December 11, 2011

TanpaMu

بسم الله الرحمن الرحيم
Sejenak pikiran ini terhenti, berputar melihat ke belakang, menatap jejak-jejak langkah.
Menatap jalan-jalan yang ditempuh. Likunya, curamnya, terjalnya.
Pun disana ada bunga indah bermekaran. Aku pilih mawar merah bertangkai duri.
Membiarkan diriku meringis menahan perihnya tertusuk agar kelopak itu tak koyak.
Agar kelopak itu tetap utuh tak gugur.

Lihat disekelilingnya banyak pagar beraneka rupa.
Kilauan bening beruntai bak permata. Butiran air mata yang tertampung dalam cawan-cawan hatimu.
Kemilau karena takut akan api neraka yang menyala-nyala.
Berpilin-pilin tertiup angin. Yang bergerak saat yang lain terdiam. Melangkah bersama menyeru-nyeru.
Ia kokoh bak genggaman tanganmu. Ia menenangkan seperti tatapanmu. Ia melindungi sekuat peluk dan pundakmu. Melantun suara-suara merdu nan syahdu. Bergetar hati yang mendengarnya. Ia mengucap ayat Tuhannya.

Menyusuri pagar berkelok di muara sungai. Masa kita tenggelam mengikuti arusnya. Gelombang tenang beriak-riak kecil. Riak-riak yang kita lalui bersama. Perlahan bangkit menggenggam kembali apa yang terlupa. Lalu kita berjalan. Aku disini di dunia seberang. Kau beranjak ke lain persinggahan.

Tuesday, November 29, 2011

Inspired

بسم الله الرحمن الرحيم
Perkenalan stase baru bersama preceptor yang baru tidak jarang membawa kesan tersendiri. Semua preceptor kami sangat luar biasa. Alhamdulillah, benar-benar mendapat kesempatan untuk jadi kosambi (koas ambisius). Menjadi kosambi itu kan tidak hanya bergantung pada pribadi masing-masing, tapi juga bagaimana style preceptor yg kita temui.

Sewaktu lalu, saya terinspirasi lagi dengan seorang preceptor. Setelah seperti biasa di awal pertemuan kami bergiliran memperkenalkan diri, saatnya beliau yang terakhir bercerita. BERCERITA, sahabat.

"Saya orang Sunda, SMP di Cimahi, suka main ke sekitar SMA 3 Bandung. Dari Cimahi ke sana saya pakai sepeda --cimahi ke SMA 3 dan sekitarnya itu jauh--. Lulus SMP sy daftar ke SMA 3, karena saya yakin saya mampu. Lalu diterima, Alhamdulillah. Waktu SMA saya juga aktif ngaji di Salman ITB, makanya sesuatu tentang ITB menjadi tidak asing bagi saya."
Sepakat,dok. Saya juga merasa terintoksikasi semangat sistemik gambaran tentang ITB, dulu.

"Tapi saya ingin jadi Kopasus. Saya daftarkan diri, sambil ikut tes STAN. Saya lulus tes STAN, tapi di tahap tertentu saya gagal lulus Kopasus. Malah saudara saya yg diterima. Saya jadi berpikir, apa STAN yg saya ambil?"

"Tapi..apakah saya kuat bertahan dengan kultur STAN. Cepet jadi kaya sih. Tapi, ngga, ah. Dan saat itu pendaftaran ulang STAN bersamaan dengan pendaftaran SPMB. Saya putuskan untuk meninggalkan STAN dan daftar SPMB. Saya lulus Kedokteran Unpad.", ujarnya sumringah.

"Pas kuliah, jam-jam sebelum masuk kuliah saya biasa rapat", ehm. Buat para aktivis, kuliah tanpa organisasi bagai nasi tanpa sayur. Dan berorganisasi tanpa rapat sebelum dan atau sesudah kuliah bagaikan sayur tanpa garam. Tapi kalau sampai rapat meninggalkan kuliah, hati2 hipertensi :D --kebanyakan garam :p

"Saya pernah menjabat sebagai Ketua Senat. Saya juga pernah menjabat sebagai Ketua ISMKI"
Sampai sini saya terpesona *melongo profesional dengan wajah tersenyum sopan* Wahhhhhh. Subhanallah sekaliii. Kalau sudah selevel ini, bisa-bisa jajaran rektor dan PR-nya bukan lagi orang asing yang sulit terjangkau.
"Lulus menjadi dokter, saya berpikir untuk melanjutkan ke jenjang akademis berikutnya. Saya bukan anak siapa-siapa, tapi saya bisa menjadi siapa-siapa. Pasalnya, saya suka jalan-jalan.

Saturday, November 19, 2011

Ada Saatnya #4: No Excuse!

بسم الله الرحمن الرحيم
Meminjam judul buku tulisan Isa Alamsyah; No Excuse!, saatnya mengintai kembali gelagat lawan jenis yang aneh bin klasik. Aneh karena saya merasa tidak nyaman harus menjawab pertanyaan tentang keseharian saya. Klasik karena bukan kali ini saja hal itu menimpa saya dan anda yang pernah merasa--tentu saja ;)

"Itu artinya dia lagi approaching, ntan." Ujar seorang teman yang melihat saya tertawa kecil lalu melenguh bosan selepas melirik benda kotak di tangan; hape.
"Ohya?" Saya merasa terjustifikasi. Lalu rentetan pertanyaan 5W1H bermunculan seakan saya ABG yang baru pertama diperlakukan seperti itu.
Awalnya saya ragu seraya berbaik sangka. Kata Nabi saw kan harus husnuzhan dengan saudara kita. Kalau ga bisa, terus husnuzhan bahkan sampai 70 kali. Kalau masih tetep ga bisa, petunjuknya masih sama untuk tetap ber-husnuzhan. Itu saja.
"Polos banget sih, ntan" sahutnya lalu tertawa setelah mendengar penjelasan saya. Yang dikatain nyengir kuda.

Namun pendapatnya baru saja membasmi keraguan saya. Yah, mengapa tidak percaya saja pada teman yang sama-sama lelaki, sama-sama pernah pdkt dg perempuan dan mungkin sama-sama pernah memiliki pacar.Serahkan urusan pada ahlinya. Hehe..

Jadi males. So, no excuse! maaf saya kejam untuk hal ini.

Monday, November 14, 2011

Simfoni Sahabat

بسم الله الرحمن الرحيم
sejenak bintang utara bermain dengan air
mengitari planet Saturnus bersama-sama

kata-kata yang indah tidaklah perlu
sungguh menyenangkan hati
hingga waktu pun terlupakan

planet Venus yang indah
seperti dari emas
tempat yang paling indah
yang pernah kau antar

_OST Mojako: Seandainya Sahabatku dari Luar Angkasa
Lagu yang riang, tapi 

Ah, itu bukan dirimu
karena ku dapat menemuimu
tanpa harus ku mengangkasa menyibak awan di ketinggian
tidak pula harus ku selami ke tujuh samudera
atau menunggu bintang-bintang jatuh bersamamu
karena memang engkau bukan dari luar angkasa

setinggi apapun pandanganmu tertuju
percayalah
kita masih ada di bawah langit yang sama
yang terkadang sebiru bersih menenangkan
atau bergelayut mendung meluntur bersama hujan
yang terkadang bersemburat jingga di ufuk timur dan barat
atau berselimut hitam berludru bertabur bintang dan cahaya rembulan

sejauh apapun jejak yang kau buat
percayalah
kita masih ada di atas bumi yang sama
di atas hamparan rumput-rumput hijau muda
di atas bentangan padang cokelat berdebu
yang sesekali berbau tanah selepas hujan
meski kerap kali ubin-ubin putih persegi
yang rela untuk ditapaki

sejauh apapun
percayalah
aku disini ada untukmu
berbagi canda, tawa, asa
do'a

aku pun bukan dari luar angkasa

Wednesday, October 19, 2011

Jaga Perinatologi

بسم الله الرحمن الرحيم
Subdiv Perinatologi adalah salah satu dari 11 subdiv di bagian Pediatri. Kita singkat saja menyebutnya dengan Peri (e dibaca seperti 'bebek'). Peri juga bagian yang paling saya senangi, karena disini kita tidak melulu melihat anak yang sakit. Disini ada bayi lucu nan menggemaskan. Sampai salah satu teman saya berujar "jadi pengen punya anak". Kalau dia mengelus-elus perutnya, saya cubit-cubit pipi bayi yg lucu itu. Hihi.. Kayak bakpao :p
Bayi lucu di peri 17
Bayi-bayi yang sehat ada yang tidak langsung dibawa pulang oleh ibunya. Di kamar I Ruang Peri 17, beberapa bayi harus menginap paling tidak selama 2 hari untuk diobservasi misalnya bayi yang lahir dengan SC atau Forcep atau Vaccum, meskipun mereka nampak sehat.

Siapa sih yang ga suka lihat bayi lucu. Apalagi pas mereka bobo atau pas bangun terus matanya kedip-kedip seakan memandang kita. Padahal nggak, hehe. Ya, bayi baru lahir belum bisa melihat. Penglihatannya baru sempurna sekitar akhir bulan pertama. Tapi tetep aja lucu. Irisnya yang besar nampak kelebihan proporsi menjadi ide produsen softlens model baby eyes, lho. Kalau bingung, perhatiin aja mata temen-temen sekitar yg agak 'kebesaran' bagian hitamnya, mungkin dia sedang ingin kembali menjadi bayi ^^v

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.
Click to view my Personality Profile page