Saturday, April 7, 2012

Curhat Agenda Awal Tahun (1)

بسم الله الرحمن الرحيم
Dear All,
Saya baru saja diingatkan tentang atrofi; bahwa sel, jaringan, organ tubuh kita akan mengalami penyusutan bila tidak digunakan. Contohnya pasien yang terbaring berberapa hari di rumah sakit akan mengalami penyusutan otot beberapa persen. Akibatnya pasien dapat terlihat lebih kurus juga sulit menggerakan kembali tubuhnya.

Blog ini seperti empunya --meskipun tidak sepenuhnya-- yang sedang menuju atrofi sebab dibiarkan saja dan sepi dari tulisan baru. Padahal saya ingin sekali menuangkan banyak tulisan sejak awal tahun lalu. Uhhhhf.. Memang blognya sepi, tapi saya merasa lebih kaya dengan berbagai aktifitas lama dan baru;

..menyelesaikan stase terakhir di obgin dengan antusiasme naik turun. Stase ini saya banyak bersentuhan dengan pasien, dengan perutnya, anaknya, ari-ari, perineum dan bagian terlarang bagi bukan mahram. Disinilah saya merasakan langsung betapa pentingnya dokter kandungan (Sp.OG) itu seorang wanita. Saya juga tergoda untuk menjadi Sp.OG, tapi begitu melihat proses pendidikannya.. enggg.. mikir-mikir lagi deh.

Sembilan minggu saja di obgin. Minggu-minggu awal semangat konstan, teman-teman bilang saya kosambi (koas ambisius). Gimana enggak, list targetnya aja segitu banyak (lihat buku panduan). Tapi setelah target yang saya buat terpenuhi, apalagi selesai midtest dan mini C-Ex, semangat itu menguap. Uapnya saya tampung dan ditransformasi menjadi semangat yang lainnya; bikin paper-bukan-sembarang-paper *halah* yang bikin saya pusing tujuh keliling et causa ujian keimanan. Selera obgin saya berkurang;
teman: "pasien baru, tan"
saya:"mangga, kamu aja atau yang belum" (jari saya setia senam diatas keyboard)
Hari-hari berlalu, sampai-sampai seorang teteh berkomentar, "Intan itu semangatnya cuma dua; kalau ga diatas banget ya dibawah banget..hahaha" TEPAT SEKALI. Kan semangat saya teralihkan teteh. Saya hanya bisa ikut tertawa membenarkan saat itu.

Mengapa ujian keimanan? karena saat menulis paper, saya juga harus menuntaskan satu hal yang memberatkan kualitas hidup saya. Makanya, kalau orang lain bisa menyelesaikan tulisannya 1-2 jam, saya membutuhkan waktu 3 minggu, sodaraa! #tepokjidat. Maaf. Tapi saya suka dengan hasilnya. Betapa perjuangan mengumpulkan memori yang terpencar dalam berbagai dimensi itu begitu memeras otak dan melelahkan hati; capek, karena harus merepresi hal yang tidak jelas.


Masih di obgin, saya dikejutkan dengan berita walimah teman. "Jadi pager ayu ya taaan". Ada lagi agenda menjadi tim kesehatan di acara Rakornas. Bener-bener yaaa, weekend saat itu saya full-booked. Jumat malam baru pulang dari agenda pekanan, sabtu pagi sekali jaga shift pagi di Rakornas, siangnya ke Bekasi, sampai tengah malam masih fitting baju, minggu sebelum subuh pergi ke tempat walimah, malam sekali baru sampai Bandung lagi.

Masih di obgin, ada pembukaan pendaftaran tim buku ajar FK Unpad  (suatu unit di fakultas, tidak berhubungan dengan pendidikan di obgin); pilihannya hanya dua antara menjadi editor muda atau layouter. Wah, seperti dibawah komando, saya pilih layouter aja nanti (kebiasaan waktu ngurus majalah Senat & DKM, meski kadang multi peran). Taunya, "...kalian kesini untuk jadi editor kan..", kata ketua tim. Eng??? Saya mengangguk. Tidak ada pilihan atau tidak ada tampang? hehe. Bismillah, lalu malamnya mengerjakan tes beberapa paragraf tulisan untuk di edit sesuai EYD. Udah mah daftar di hari terakhir, mepet jam pulang kerja, narik-narik temen lain biar ga jadi urutan terakhir. Ternyata saya lulus kualifikasi. Mari belajar menjadi editor profesional.

Setelah itu amanah saya bertambah lagi; mendapatkan naskah buku ajar dari konsulen yg ditunjuk oleh unit. Masalahnya tidak seperti editor yang teman-teman pikir; naskah di depan mata, lalu tinggal edit sana-sini. Kenyataannya saya dan teman-teman segrup harus "menjemput bola". Konsulennya sibuk dan lebih leluasa ditemui di suatu RS Swasta di Bandung, tempat praktek lainnya. Pasalnya, jam praktik beliau adalah pukul 6 sore sampai waktu tidak terbatas seminggu 3 kali. Bila pasien banyak, waktu praktik bisa diatas jam 1 pagi. Sehingga kesempatan untuk berdiskusi dengan beliau tentang naskah buku ajar pun dilakukan setelah beliau selesai praktik. Gawat.com. Jujur saja, saya kurang sreg karena seringnya melewati jam malam saya berada di luar rumah. Kalau bukan karena amanah, kalau bukan karena saya dan teman-teman lain mendapatkan kesempatan membersamai beliau saat praktik, menimba ilmu tentang tumbuh kembang anak dan bebas berdiskusi tentang pasien-pasiennya itu (tandem/fellowship), maka saya tidak akan segan meminta izin pulang lebih awal.

Sreg tak sreg. Dilematis. Berdiskusi dengan beliau, seorang pakar neuropediatri yang sudah diakui secara internasional, bisa membuat lupa waktu. Beliau pintar dan sangat berpengalaman. Pasiennya tidak hanya dari Bandung, tapi dari seluruh Indonesia bahkan ada yang dari luar negeri (eg. Singapura). Pasien terjauh dari Indonesia yang saya baca di rekam medis berasal dari Papua dan Pekanbaru. Mereka dengan sengaja membawa terbang anaknya bertemu dengan beliau dan menjalani terapi tidak kurang dari sepekan sekali. Bayangkan berapa banyak pengorbanan orang tua mereka!

Tentang kesibukan beliau, ternyata waiting list pasiennya itu sampai 3 bulan. Artinya, kalau seseorang baru pertama kali datang dan ingin konsultasi, maka orang itu baru dapat bertemu dengan beliau 3 bulan lagi.
"Guru saya, Prof Alexis di luar negeri, bahkan sampai 1 tahun waiting listnya lho" Ckckck, sulit dibayangkan.. anak didiknya saja hanya memperhatikan pasien baru dan mengajukan beberapa pertanyaan tambahan sudah dapat mendiagnosa, bagaimana dengan gurunya itu?
"Bukannya sebentar, saya dulu mengerjakan pertanyaan di PPDST (diagnostic tool), menjumlahkan skornya, baru membuat diagnosa..satu per satu untuk setiap pasien" Saya tertegun. Pasti buanyak sekali pengalaman suka-duka beliau untuk menjadi sosok luar biasa seperti saat ini. Dan semuanya dilalui step by step. See, ga ada orang yg bisa konsisten dalam ke-luar-biasa-annya dengan cara instan. Siapa pun!

Beliau itu dokter spesialis anak subspesialis saraf anak (neuropediatri). Di negara kita hanya ada dua orang pakar neuropediatri level internasional. Selain beliau, ada dokter di Jakarta. Bagaimana saya tidak bersyukur? Ah, haruskah saya menjadi dokter anak seperti impian saya di tingkat 1. Tahukah teman, bahwa pakar seperti beliau itu masih sangat sedikit sementara angka kejadian gangguan saraf pada anak terus bertambah. Pasien juga tidak terpusat di Bandung dan Jakarta. Lalu, siapa yang akan mengobati pasien-pasien di tempat lainnya?

Ketika tandem:
...melihat pasien autis.Oo, ternyata yang orang-orang bilang penderita autis tapi pintar sekali itu bukanlah autis. Karena skor IQ maksimal penderita autis itu 89.
...melihat pasien yang disangka autis, tapi ternyata skor IQnya normal, bisa jadi mereka hanya mengalami gangguan kesulitan belajar (disleksia, disgrafi, diskalkuli), atau Sindrom Asperger yang ketika memasuki usia 3 tahun bicaranya jauh lebih baik dan nyambung, atau malah PPD-NOS (pervasive developmental disorder-not otherwised specified) yang suka bohong; duduk sebentar di kelas, gelisah lalu minta izin ke WC atau kemana, lalu duduk lagi, sebentar saja minta izin lagi, misalnya. Bisa jadi dia menderita ADHD dan ini bukan autis meski sama-sama kontaknya kurang.
...melihat pasien yang disangka autis, malas di kelas, suka melakukan hal-hal 'aneh' tapi sangat berbakat pada mata pelajaran tertentu,setelah di tes ternyata IQnya di atas normal (biasanya >140), maka diagnosisnya adalah Anak Gifted. Bisa jadi saat usia sebelum 3 tahun bicaranya kacau dan interaksinya tidak baik. Tapi toh dia adalah anak berbakat!
"Ingat, anak-anak seperti itu hanya berbakat pada pelajaran tertentu, lainnya tidak. Maka SALAH SEKALI menyatukan mereka dalam kelas khusus (i.e akselerasi), karena pada akhirnya mereka akan saling mencontek. Yang tidak pintar pelajaran A, akan mencontek ke yang pintar. Begitu seterusnya..", jelas beliau.
Aaah, saya bersyukur ga diizinkan masuk kelas aksel (lhoo?)

Lalu apa bedanya dengan Indigo? Saya juga penasaran dengan bakat yang satu ini; orang bilang sixth-sense ya.. tapi apa sebenarnya menurut ilmu medis?

Selain berdiskusi hal diatas, kami juga membahas beberapa kasus seperti cerebral palsy, Down syndrome, kejang demam, mental retardation, global delay, juga pernah ada Sturge-Weber syndrome.. menarik sekali belajar langsung dengan pasien itu..Alhamdulillaaaah...dapat banyak ilmu meski seringnya pulang larut (hiks).

Yups. Sembari menyelesaikan event besar obgin bikinan dokter muda di setiap periode yang kali ini bertajuk  Save Your Area; deteksi dini kanker serviks.  Acara yang sukses besar dengan peserta lebih dari 400 orang, dimuat di media masa PR dan Republika serta meraup pujian dan keuntungan beberapa juta rupiah.



Sampai sekarang, kegiatan tandem masih sesekali dilakukan. Tentang naskah pun sudah ada kemajuan. Go for dreams! Fighting!

bersambung..

0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.