Friday, March 23, 2012

Chat

بسم الله الرحمن الرحيم
Ternyata sangat manusia. Penuh lupa, khilaf, tak sadar dengan ucapannya.

Saya baru mengerti, makin lama saya mengerti, kalau chit-chat dua subjek itu 'menggemaskan'. Saya hanya salah satu dari orang ketiga; penonton setia. Penonton yang merasa berhak menilai apa yang disaksikannya. Itu salah atau benar terserah saya. Kalau menurut saya ga benar memang kenapa?

Judgement setiap orang yang berbeda-beda makin membuat saya khawatir. Ini penilaian saya sajakah atau malah hampir semuanya berpendapat sama. Tak usahlah menjadi konsumsi publik apa yang diperbincangkan berdua. Saya risih. Lebih baik chat dibelakang layar saja. Saya tak perlu lihat. Saya juga tak perlu resah, su'uzhon, menyangka para da'i dan da'iyahnya saling komentar apalagi mengumbar perhatian padahal belum halal. Eh, apakah sedang menuju halal?

Tenang, saya tidak menyalahkan siapapun. Itu juga saya yang pernah disangka yang tidak-tidak. Padahal saya tidak bermaksud macam-macam. Sejuta alasan menuju satu kesimpulan: kami hanya teman kok. Memang itu adanya, sampai akhirnya saya berada di posisi sebaliknya lalu saya mendapat satu kesimpulan lagi; GAK SELAMANYA APA YANG KITA PIKIRKAN SAMA DENGAN YANG ORANG LAIN PIKIRKAN.

Jadi merasa bersalah :(. Tapi, dengan mengubah sikap dan menyesuaikan dengan pikiran orang lain saya pikir lebih bijak. Untuk yang ini seperti kaidah fiqh: menghindari mudharat lebih baik daripada mengambil manfaat.Tak perlu diulangin lagi.

Pinggir jendela, 23 maret 2012. untuk sesuatu yang serius.

0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.