Ini dia event yg saya tunggu. Entah baru bertama, atau memang acara tahunan yang jelas saya baru tahu beberapa hari yang lalu.
Jenuh belum saatnya. Pencarian ini belum berakhir. Tapi dua kata --luar biasa-- yang terucap itu mengiang ditelingaku. Siapa?

Munsyid : Rakhmat Fajar
KepadaMu Tuhan bersama bintang, Ku pun bertasbih
merindu siang malam penuh keberkahan
Reff:
Dalam doa penuh cinta ini
Ku tak akan lagi sendiri
Malaikat kumenaungi sujud malamku
Di tengah tunduknya hati ini
Mohon tanamkan Iman disini
Agar tiada ragu Ku berkata,
"Kau Tiada Terdua"
Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas'ud ra. berkata, Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam yang jujur dan terpercaya bersabda kepada kami,"Sesungguhnya penciptaan kalian dikumpulkan dalam rahim ibu, selama 40 hari berupa nutfah (sperma), lalu menjadi alaqah (segumpal darah) selama itu pula, lalu menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu pula. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh dan mencatat 4 perkara yang telah ditentukan, yaitu: rezeki, ajal, amal dan sengsara atau bahagianya...."
(HR Bukhari dan Muslim)
TAHAPAN PERKEMBANGAN JANIN
Hadits ini menjelaskan bahwa selama seratus dua puluh hari janin mengalami 3 kali perkembangan. Perkembangan tersebut terjadi setiap 40 hari.
Empat puluh hari pertama, janin masih berbentuk nuthfah.
Empat puluh hari kedua berbentuk gumpalan darah
Empat puluh hari berikutnya menjadi segumpal daging
Setelah 120 hari, malaikat meniupkan ruh kedalamnya dan ditetapkan bagi janin tersebut empat ketentuan diatas.
Perkembangan janin juga disebutkan dalam Al-Qur'an. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Wahai sekalian manusia jika kalian ragu-ragu terhadap hari kebangkitan, maka (ingatlah) sesungguhnya Aku telah menciptakanmu dari tanah, lalu dari setetes air, kemudian menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging" (Al-Hajj: 5)

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari satu sari pati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian kami jadikan dia makhluq yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang Paling Baik" (Al-Mukminuun: 12-14)
Dalam ayat ini Allah menyebutkan 4 tahapan penciptaan manusia yang ada dalam hadits di atas dan menambah 4 tahapan yang lain. Sehingga menjadi 7 tahapan. Ibnu Abbas ra. berkata, "Anak Adam diciptakan melalui 7 tahapan". Lalu ia membaca ayat di atas.
Hikmah diciptakannya manusia secara bertahap, padahal Allah sebenarnya mampu untuk menciptakan secara langsung dan dalam waktu yang singkat, adalah untuk menyesuaikan dengan sunatullah yang berlaku di alam semesta. Semuanya berjalan sesuai hukum sebab akibat. Semua ini justru menandakan kekuasaan Allah yang sangat besar.
Hikmah lainnya, agar manusia berhati-hati dalam melakukan segala urusannya, tidak terburu-buru. Juga mengajarkan kepada manusia bahwa untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan sempurna baik dalam masalah2 batin maupun lahir, adalah dengan melakukannya dengan penuh hati-hati dan bertahap.
PENIUPAN RUH

Para ulama sepakat bahwa ruh ditiupkan pada janin ketika janin berusia seratus duapuluh hari terhitung sejak bertemunya sel sperma dengan ovum. Artinya, peniupan tersebut ketika janin berusia 4 bulan penuh, masuk bulan ke 5. Pada masa inilah segala hukum mulai berlaku padanya. Karena itu wanita yang ditinggal mati suaminya menjalani masa iddah selama 4 bulan 10 hari untuk memastikan bahwa ia tidak hamil dari suaminya yang meninggal, agar tidak menimbulkan keraguan ketika ia menikah lagi lalu hamil.
Ruh adalah sesuatu yang membuat manusia hidup. Ini sepenuhnya urusan Allah swt. sebagaimana yang dinyatakan dalam firmanNya:
"Dan mereka bertanya tentang ruh. Katakanlah, hai Muhammad, 'Bahwa ruh adalah urusan Tuhanku, dan tidaklah ia diberi ilmu kecuali sangat sedikit" (Al-Israa': 85)
Tahapan pertumbuhan janin yang dijelaskan dalam hadits ini , belum terdeteksi oleh ilmu kedokteran kecuali pada masa-masa akhir. Hal ini adalah bukti kemu'jizatan Al-Qur'an dan As-Sunnah yang sangat nyata.
Sekarang, mari kita tengok sedikit fakta yang telah diungkap oleh ilmu kedokteran:
Seluruh struktur utama (internal dan eksternal) janin berkembang pesat selama pekan keempat sampai kedelapan. Pada akhir periode ini, sistem organ utama telah berkembang, namun fungsinya masih minimal kecuali pada sistem kardiovaskular.
Selama pembentukan jaringan dan organ, janin (embrio) mengalami perubahan bentuk, dan saat akhir pekan ke 8, sudah nampak seperti bayi.
Memasuki pekan ke 9, embrio berganti nama menjadi fetus. Perubahan nama ini berarti sebagai tanda bahwa embrio telah berkembang menjadi makhluk yang dapat dikenali serta seluruh sistem organ utama telah terbentuk.
Sistem organ yang pertama kali berfungsi adalah Sistem kardiovaskuler. Masih ingat kapan pertama kali jantung berdegup di dalam rahim?? Yap, saat awal pekan keempat.

Kalau kita kaitkan hadits diatas dengan penelitian para ahli kedokteran:
Waktu pertama kali jantung berdetak: Awal pekan keempat (sekitar hari ke 22)
Waktu ditiupkannya ruh: Setelah hari ke 120.
Jadi, detak jantung tidak menandakan bahwa ruh telah ada.
Allahu'alam bishshawwab. :) Mohon tanggapannya......
Sumber:
- Al-Wafi Syarah Kitab Arba'in An-Nawawiyah. Fiqhul Hadits Keempat: Tahapan Penciptaan Manusia dan Amalan Terakhirnya.
- Moore & Persaud. The Developing Human. 7th Ed: Elsevier; 2005

"Nikah itu...", kata ustadz Hervy diawal acara Queen Day FIK UNPAD, "Tidak hanya untuk di dunia, tapi juga berlanjut sampai ke akhirat."
Dengan menikah suatu pasangan dapat menambah ketaqwaan. Ketaqwaan itulah yang menjauhkannya pada 'huru-hara' pada hari kiamat. *Em, saya lupa dan tidak mencatat ayatnya, afwan*
"Kemuliaan yang Allah berikan kepada manusia adalah Dia memberikan pahala bagi semua bentuk ikatan cinta yang mengeratkan hubungan kita denganNya, bukan cinta yang justru menghalangi hubungan kita kepadaNya. Allah dan RasulNya telah mengingatkan kita akan menjauh dari segala bentuk cinta yang memutuskan dan melalaikan dari tujuan mulia", lanjut sang ustadz.
Yang saya tangkap adalah bahwa motivasi menikah sesungguhnya MENGERATKAN hubungan kita dengan ALLAH, bukan sebaliknya. Jadi, ketika kita khawatir dengan calon pasangan kita bahwa dia tidak dapat membawa kita pada hal itu maka kita berhak me-NOLAK untuk menikahinya.
weiiisss... Judul yang menggugah pandangan kan?
Kalimat itu sebenarnya nama acara keputrian Rohis Quwwatul Azzam (F. Ilmu Keperawatan UNPAD) sepekan lalu. Alhamdulillah, saya sempat menghadiri acara itu. Acara yang luar biasa, se-luar biasa judulnya.
Coba teman-teman jawab, apa yang terbesit ketika membaca judul itu? Acara khitbah (tunangan)-kah?? Tips n trik menerima pinangan??? BUKAAAN ternyata saudaraku. Heuheu..
Ini acara persiapan pernikahan dalam Islam. *Huaaa, ga jauh-jauh juga tho ternyata*
Secara umum bentuk acaranya seminar dengan pembicara2 yang kompeten pada bidangnya pasti.
Secara pribadi saya suka sesi I tentang ilmu menikahnya. Sesi ini dijelaskan oleh Ustadz Hervy (siapa dia? cari sendiri ya. Pokoknya salah satu ustadz muda keren versi Intan ;)). Ada juga pembicara untuk sesi kesehatannya. Untuk sesi ini, karena sesama anak kesehatan, saya jadi me-review ilmu tingkat 2 tentang sistem reproduksi. Jadi bukan lagi hal asing.
Yang tak kalah menarik adalah sesi 3 yang dibawakan oleh dosen FIKOM UNPAD: Teh Maimun (biasa dipanggil teteh padahal seumuran sama Mama, heu2.. tapi kalau ngajar tetep dipanggil ibu kan ya, teh??). Sesi 3 ini acara sharing/ talkshow. Sang teteh bercerita tentang proses nikahnya dari awal yaitu dari proses ta'aruf. Proses yang beliau jalani sangat Islami, jadi buat saya beliau adalah nara sumber sekaligus teladan yang tepat membahas masalah ini.
Sayangnya saya tidak sempat menghadiri seluruh sesi. Berhubung cuaca mendung dan tadi sempat hujan, jadi saya putuskan untuk pulang. Tapi bukan itu alasan sebenarnya deng... hehehe... ada kegiatan lain yang harus saya hadiri.
Walaupun hanya sebentar, tapi ilmu yang saya dapatkan banyak sekali. Alhamdulillah. Jazakillah untuk panitia. Sangat menambah wawasan ^^,
Untuk selanjutnya, materi dari ust. Hervy saya share di blog ini. And it's all about Prewed's Knowledge!
Ga cukup semangat aja.. kalau tidak dibarengi dengan kesempurnaan ikhtiar dan kekritisan berpikir.. ;)

Suatu hari, semangat belajar web saya membara, begitu membara sampai menguasai pikiran saya.
Belajar dari nol. Sama sekali ga tau dunia web kecuali Google, Yahoomail, dan Friendster.
Belajar dari orang yang sama sekali saya ga pernah ketemu. *Lama-lama ga aneh juga kerja bareng orang2 yang "tak nampak"*
Ada satu misi memajukan suatu web, tapi entah mengapa dulu saya belum mengerti benar misi itu ; bagaimana langkahnya, apa yang harus saya lakukan. Saya hanya diminta seputar menjaga.
Dengan bekal semangat tanpa arahan yang jelas (bagi saya) otomatis membuat gerak saya ga jelas.
Dan akhirnya teguran itu pun datang...
"Nah, itu, kamu tu ga ngerti apa yang kamu lakukan. Jangan cuma modal semangat aja, dik!"
AJLEBBBBBB!
*haduh, berdarah sebenernya*
Sambil meringis menahan tembakan beribu panah, saya coba berpikir..
JADI apa yang HARUS SAYA LAKUKAN???
dan kemudian menyudahi ke-ndableg-an saya dengan bertanya langsung.
Galak euy, tapi solutif dan inspiratif. Intinya pilih satu bagian di web yang saya mau, konsisten dalam berkontribusi meskipun hanya seminggu sekali. Terserah, katanya.
SIMPEL aja ternyata. Tapi ngejalaninnya itu looo.
Memang jalan kebenaran itu banyak liku, susah untuk istiqamah.
***
Dunia maya memang aneh tapi menarik. Dunia yang bisa menghubungkan banyak orang seberapa pun jauhnya. Dunia yang mengenalkan sahabat tanpa memandang fisik dan harta.
Berjuta harapan dengan satu tujuan di dalamnya.
Dan itu...Ga cukup dijalani dengan modal semangat doang.
Yap. Memang ga bisa dengan SEMANGAT AJA.
30 November 2009
Untuk kakak dimanapun berada. Terimakasih atas 'tamparannya' yang menyadarkan :)

Jika momentum pengorbanan terbesar sepanjang sejarah kenabian diabadikan dengan Idul Adha, maka sayang kalau kita sebagai umat mereka hanya memaknainya sebatas kekaguman terhadap sang Bapak para Nabi.
***
Ibrahim begitu cinta. Penantiannya begitu lama. Namun dalam waktu dekat cintanya akan diminta oleh Sang Pemilik Cinta. Seakan baru sesaat cinta hadir di sisi, esok dia harus pergi.
Bimbang,iya..Tak rela iya.. Bila skala iman dihitung saat itu,mungkin Ibrahim dalam posisi terendahnya. Namun ia lekas tersadar, bertanya pada Ismail untuk memastikan.
'Titik' itu adalah kecintaannya terhadap Ismail. Ibrahim disadarkan bahwa ujiannya belum selesai. Masih ada level tertinggi yg harus ia gapai untuk nilai sempurna.
Iman di dada Ibrahim menggeliat, bertanya pada sang anak adalah jawaban pemantapnya. Bagaimanapun titik cintanya harus ditujukan untuk Allah.
Maka tiada keluhan dan umpatan terhadap Rabbnya, tapi ketaatan..
Dan hasilnya pun..Perfect Score!
Saya sering bertanya kepada orang yg mengatakan 'cinta karena Allah'
Seperti apakah itu? sementara makna cinta pun belum saya temukan. (hahahag)
Tapi dari Ibrahim saya belajar paham makna itu.
Ibrahim begitu cinta karena penantiannya terjawab dengan lahirnya Ismail. Dan cinta selalu berteman dengan obsesi memiliki. Tapi manusia sebenarnya tidak memiliki apapun, toh..semua hanya titipan. Lalu saatnya cinta diminta tiba,dibarter dengan upgrading iman. Mana, yg mana yg akan dipilih???
Ibrahim tidak menolak perintah..tidak pula menunda.. dan memohon keduanya; cinta serta iman.
LUAR BIASA!
Makna pertama: cinta karena ALLAH itu ga maruk,kawan.
Makna kedua: Apa Ibrahim dan Ismail saling mencintai? Jelas. Tapi perintah ALLAH lebih mereka sukai. Dan berpisah dengan 'penyembelihan' adalah caranya. Mereka rela. Mereka percaya. Allah punya rencana.
Makna ketiga:
Memang mereka tidak tahu ada apa dibalik semua ini. Tapi, rencana ALLAH selalu indah walau penuh misteri. Dan akhirnya, ALLAH mengganti pengorbanan mental dan jasad mereka dengan iman dan cinta. Karena cinta, kepasrahan, dan kepercayaan total terhadap ALLAH tidak pernah berakhir kesia-siaan.
Makna keempat: Cinta karena Allah adalah mencintai apa yg Allah cintai trhadap apa yg kita cintai.
Bingung?
Biarlah Allah yg mengajari kita makna mencintai karenaNya.
Satu yg saya percaya: Allah punya rencana indah untuk pengorbanan kita.
Ibrahim dan Ismail telah memilih dan berusaha..kini giliran saya..
=)
-uhibbukumfillah-

Kalau saya puitis, inginnya saya tulis dalam bait puisi dalam siratan makna. Tak perlu ada yang tahu apa sesungguhnya yang terjadi.
Hufff.. kenapa..
kecewa itu rasanya ga enak?
Saat dengan sungguh hati kita mempercayakan sesuatu kepada seseorang.. orang yg terpilih... sahabat terdekat...
Sekejap saja. Seperti membalikan telapak tangan satu kata PERCAYA menjadi KECEWA.
Kenapaaaaa??
Allah... maafkan hambaMu yang penuh kekurangan ini....yang belum bisa mentolerir perasaan ini.
Phobia.
Phobia.
Phobia.
karena apa yang kita pikirkan belum tentu sama..
karena apa yang kita inginkan belum tentu sama..
karena aku tak mau lagi mengira-ngira...
Duhai dirimu sahabatku...
Acara yang berangkat dari kemisteriusan dua insan. Ikhwan dan akhwat.
Kenapa mereka berbeda?
dan kenapa harus berbeda?
Akhwat begini, ikhwan begitu.
Kalau di generalisasi keduanya memang berbeda.
Tapi bukannya tidak mungkin mereka hampir sama.
Berbicara tentang mereka, berarti berbicara tentang diri sendiri salah satunya.
Hei, hei, apakah saya memiliki sifat mayoritas perempuan?
Iya. Pasti.
Tapi terkadang saya merasa lebih 'nyambung' berbicara dengan lelaki. Ceplas ceplos, nyablak, ga perlu emosi. Apa adanya.
Dan ini nih, yg membuat saya sedikit khawatir...
Khawatir ngobrol tanpa batas, tanpa batasan maksudnya.
Menurut tes psikologi, cara berpikir saya itu minoritas pada perempuan, dan mayoritas ada pada lelaki. Kalau dari berpikir saja sudah berbeda, apalagi saat berbicara yaa..
Perempuan yang terkenal peka, perasa aka sensitif, sering saya tidak seperti itu. Maka saya ga heran kalau ada teman lelaki atau perempuan bilang:"Masa kamu ga ngerasa sih?"
Dan saya menggeleng. Bahkan sampai mereka bilang:"Kita yang liat aja tau..". Yang ini sudah tidak lagi memakai indra perasa (lidah maksudnya? Bukan: Hati), tapi memakai indra penglihatan.
Eh tapi tunggu dulu, apakah lelaki se-tidak-peka ini juga? Atau saya yang memang kelewat ga peka? Hadooo, bisa gawat. Ini juga yang membuat saya khawatir. Kerasnya batu Intan mengebaskan kepekaan. (Segitunyaaa??)
Eniwei, dulu sampai pernah saya bertanya: KENAPA muka lelaki itu memerah?
(polos banget ga siih). Setelah diberitahu teman kalau artinya malu baru saya tahu. Input informasi yang ada di memori saya adalah: MUKA MERAH = MALU.
Jadi, kalau ada seseorang didepan saya yang wajahnya memerah saya cuma berpikir dia malu. Kenapa dia sampai malu, bukan urusan saya.
Nampak kejam bukan?
Sebagai perempuan biasanya berpikir macam2kan? Tapi saya: simpel aja, ga usah berpikir macam-macam. GR? Ngga, kalaupun sempat terlintas, saya langsung berpikir: buat apa saya GR, ga ada sebab yang bikin saya GR. Titik. Cukup sampai disitu. Kalau dia cerita tentang apa penyebab malunya, barulah saya berpikir lebih jauh. Yah, lebih baik tidak menduga-duga dan terjatuh dalam prasangka. Toh belum tentu apa yang saya pikir dipikirkan orang lain juga.
Ustadz Salim A Fillah bilang perempuan itu kalau berbicara muter-muter dulu baru ke intinya. Atau seringnya memakai kalimat tidak langsung. Sebaliknya, lelaki lebih suka to the point. Yang terakhir ini juga apa yg biasanya saya inginkan. "udaaahhh, ga usah muter2...lama.."
Anomali? Aneh ga sih?
Lagi-lagi, hal ini membuat saya khawatir. Tapi dilain pihak, ada untungnya juga :D
Banyaaaaak untungnya...
Menjadi tidak peka terhadap pujian setinggi langit dari seseorang itu menyenangkan.
Tidak perlu dimasukan hati. Tapi cukup ditelinga saja. Senyum, tanpa rasa ingin tahu berlebih. Itu sudah cukup. Cukup membuat saya tidak terjerumus terhadap pikiran-pikiran abstrak. Di depan sana sudah menanti banyak realita yang harus dipikirkan.

Seseorang pernah berkata pada saya: Allah memberikan ujian bagi hamba-Nya pada satu titik terlemahnya. Dan Allah tidak akan memindahkan ujian pada titik lainnya sampai titik itu benar-benar kuat. Saat itu saya sedang bosan, dapet masalah yang SAMA saja. SEJENIS. SATU TEMA.
Sampai sekarang.. titik itu masih tetap di tempat yang sama.. tahukah engkau wahai diriku?
mengapa ujian itu begitu bertubi?
Sebuah titik. Ya, hanya titik. Titik itu mungkin bagi setiap orang berbeda wujudnya. Titik yang menjadi ujian. Bisa jadi keluarga menjadi masalah sedari dulu. Atau ekonomi yang tak kunjung membaik. Tapi lain halnya bagi jiwa ini...
Titik yang menghilangkan kepekaanku. Titik yang membuatku sedingin salju. Titik itu kini kebas dan tak peduli.
Allah, Kau yang Maha Tahu, Kau yang Maha Kuat.. maka kuatkanlah diriku..dan jangan biarkan aku termasuk orang2 yg dzalim..


















