Saturday, March 10, 2012

Efek Ujian Kronik

بسم الله الرحمن الرحيم
Betapa waktu terkadang terasa begitu cepat, kadang pula terasa lambat. Seperti saat ini: lambat. Ah, seolah saya pemilik waktu yang bebas mengutak-ngatiknya. Padahal, untuk hal yang sama, mungkin ada yang merasa waktu lebih lambat daripada saya.

Kini waktunya diam, kembali meluruskan niat dan mendekat padaNya. Melampaui setiap momen lebih cermat sambil memaknainya. Itu yang membuatnya terasa lebih lambat. Tapi tidak dengan cairan lambung yang hipersekresi, bikin sakit perut. Tidak juga dengan SA node yang menambah pulsasi jantung. Tidak dengan irama sirkardian saya yang makin tidak karuan.

Why do I have this kind of feeling..

Oke, ujian minggu depan itu salah satu stresor. Oke, ujian bulan depan juga menjadi stresor. Oke, ujian dua bulan lagi juga stresor. Tapi hal lainnya adalah ujian non-akademik saya sejak bertahun-tahun lalu.

Kawan, ketika niat berbuat baik sudah terlantun, Allah tidak pernah luput mencatatnya.Sadar maupun tidak, sudah akan ada antrian ujian demi kebaikan yang kita inginkan. Bukankah Allah Maha Mengabulkan Doa?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Malu dan Maha Pemurah. Allah malu jika ada seseorang yang menengadahkan kedua tangan kepada-Nya tapi kemudian menolaknya dengan tangan hampa” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah). 

Kita diuji, lalu bisa lulus. Diuji lagi dengan hal lain, lulus lagi? seperti game: level-up, level up, up and up..
Hmmm, saya jadi ingat quote teman:

Manusia Bertanya : Bolehkah aku frustrasi ?
Qur'an Menjawab : Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali Imraan : 139)
Manusia Bertanya : Kenapa aku diberi ujian seberat ini?
Qur'an Menjawab : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (Al-Baqarah : 286)
Manusia Bertanya : Kenapa aku tidak diuji saja dengan hal-hal yang baik ?
Qur'an Menjawab : .. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216)
Manusia Bertanya : Kenapa aku diuji ?
Qur'an Menjawab : Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-Ankabuut : 2). Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabuut : 3)
Manusia Bertanya : Bolehkah aku berputus asa ?
Qur'an Menjawab : ..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (Yusuf : 87)
Manusia Bertanya : Bagaimana cara menghadapi ujian hidup ini?
Qur'an Menjawab : Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (Ali Imraan : 200)
Manusia Bertanya : Bagaimana menguatkan hatiku?
Qur'an Menjawab : ..Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal.. (At-Taubah : 129)
Manusia Bertanya : Apa yang kudapat dari semua ujian ini?
Qur'an Menjawab : Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.. (At-Taubah : 111)


Tertampar. Saya tidak boleh terbawa efek psikologis macam ini. hikss...mari berbenah.

"God doesn’t give you the people you want. 
He gives you the people you need. 
To hurt you, to love you, to teach you, to break you, 
to turn you into the person you’re supposed to be"
-unknown-

Monday, March 5, 2012

Tanda Tanya

بسم الله الرحمن الرحيم
Berdebu. Sudah lama ruangan ini dibiarkan oleh pemiliknya. Hanya segelintir kenangan tersimpan pada rak-rak memori kayu abasia. Ringan dan mudah dibentuk. Memang bukan jati berpelitur.

Dibiarkannya jendela terbuka. Menyilakan angin sesekali membelai perabot-perabot untaian kata dan warna. Husssh.. Namun debu lebih senang menyandar dari pada terbang bersama angin. Walau terkadang si empunya berkunjung. Mengintip. Ia tetap tenang menyelimuti segala.

Kini ia datang mencari file-file memori yang tak sengaja singgah. Terekam mata. Bersampul tanda tanya. Menepuk-nepuk debunya, lalu menyibak setiap halaman waktu. Jelas dan tak koyak meski sudah 6 tahun silam. Semua sama; yang terlihat dan tak bernama.

Perlahan tanda tanya itu memudar. Berganti titik tiga. Titik dua dan pembuka senyum.

Friday, March 2, 2012

Menjadi Keluarga yang Berbeda

بسم الله الرحمن الرحيم
“Bu, kita harus berbeda dengan orang lain dalam kebaikan. Orang lain duduk kita sudah harus berjalan, orang lain berjalan kita sudah harus berlari, orang berlari kita sudah tidur, orang lain tidur kita sudah bangun. Jangan sedikitpun berhenti berbuat baik sampai soal niat. Kita tidak boleh lalai karena kita tidak tahu kapan Allah mencabut nyawa kita”

Itulah sepenggal pesan dari seorang pemimpin keluarga kepada istrinya, Pak Tamim (Mutamimul Ula) kepada Ibu Wiwi (Wirianingsih). Kedua pasangan luar biasa yang melahirkan 11 anak penghafal Al-Qur'an. Saya merinding 'menemukan' paragraf itu. Betapa tersurat visi yang kuat. Ada mimpi yang besar yang--masyaAllah--ditopang oleh orang-orang besar. 

Kemudian baru saya ketahui tentang misi-misi yang mereka kerjakan dengan kedisiplinan tingkat tinggi melalui sebuah buku berjudul 10 bintang penghapal Al-Qur'an (terbitan 2010). Sampai-sampai peraturan-peraturan di rumah mereka disertakan ke dalam buku.

"Dua pertiga keberhasilan pendidikan itu ada di rumah. Keberhasilan adalah hasil integrasi kedua orang tuanya. Tanggung jawab seorang ayah lebih besar dibandingkan dengan ibu. Ketika ada anak yang mencuri, Rasulullah memanggil ayahnya. Dalam Al-Qur'an, ayah favorit adalah Lukman. Tak lupa kisah Ibrahim alahissalam mentarbiyah istri dan anaknya. Sesungguhnya, suami yang membangun visi dan istri yang mengisi kerangka itu."

Pendeknya, ada visioner ada misionaris *bahasanyaa.

Saya ingin seperti mereka; mewujudkan mimpi besar bersama. Meski saat ini masih terus belajar dari keluarga-keluarga teladan. Suatu hari, insyaAllah, keluarga saya menjadi salah satunya. 

Hei para calon ayah, mau dibawa kemana keluargamu nanti? Sudah jelaskah peta pencarian berkah Allah di antara langit dan bumi?
Hei para calon ibu, mari bersiap untuk komandan yang telah bersiap.

Maher Zain: Number One for Me (Mother)

بسم الله الرحمن الرحيم
Munsyid: Maher Zain
Download (4shared): disini

I was a foolish little child
Crazy things I used to do
And all the pain I put you through
Mama now I'm here for you

For all the times I made you cry
The days I told you lies
Now it's time for you to rise
For all the things you sacrificed

Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you

Mom I'm all grown up now
I'ts a brand new day
I'd like to put a smile on your face everyday

Mom I'm all grown up now
And it's not too late
I'd like to put a smile on your face everyday

You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
Oh oh
number one for me

Now I finally understand
That famous line
About the day I'd face in time
Coz now I have a child of mine

Even though I was so bad
I've learnt so much from you
Now I'm trying to do it too
Love my kids the way you do

Saturday, February 11, 2012

Obgin: RS Jejaring #2; Lahir sendiri

بسم الله الرحمن الرحيم
Teman-teman pernah mendengar kalau melahirkan itu alami dan tanpa penolong pun bayi akan keluar sendiri? Itu benar! Di RS Jejaring #2 hal itu terjadi. Saat saya jaga malam sekitar pukul 10 sang ibu G3P2A0 tampak gelisah mengeluh mules-mules ingin melahirkan. Saya periksa kontraksinya sering, lama (> 60 detik) dan kuat. Dari pemeriksaan dalam, masih pembukaan 4 cm. Saya perkirakan masih 3-4 jam lagi lahirnya, maka saya tunggu di luar kamar bersalin (nurse station dekat pintu) bersama teman dari kebidanan sambil berkenalan, cerita, ngerumpilah biar tetap melek. Tapi saya was-was dengan ibu itu sebab kontraksinya lebih lama daripada ibu-ibu lainnya dengan pembukaan yg sama. Ibu ini juga begitu gelisah meski tidak rewel.

Sekitar jam 12 malam, tiba-tiba ada yang memanggil dari dalam "Sus (suster maksudnya, padahal kami Dokter dan Bidan, huhu)..tolong suuuuuss", terdentar teriakan lelaki. Lalu kami bergegas mendekati sumber suara beberapa meter dari pintu sambil berlari. Tak lama ada suara tangisan bayi. Subhanallah, ada bayi di depan sang ibu. Kami segera bertindak tanpa suara *speechless*, menyelimuti dan mengeringkan bayi, memotong tali pusat, mengeluarkan ari-ari, dll.

Herannya, suaminya terlihat santai dan biasa saja. Bahkan meminta tolong ketika bayinya sudah benar-benar keluar dari rahim istrinya. Padahal sedari tadi dia di samping istrinya, apakah sedari tadi takjub dengan proses persalinan sehingga lupa? Saya hanya geleng-geleng. Sang bidan yang bertanya langsung.

Kalau sudah begini hanya bisa berkata; tak bisa menolak kehendak Allah. Kalau sudah waktunya, perkiraan manusia pun tak ada artinya, kecuali jadi pengingat agar terus belajar ilmuNya.

Omong-omong, kalau teman-teman jadi saya, mau diisi apa keterangan status persalinan:
"PENOLONG: ......"
"ASISTEN:....."
Jika yang dimaksud hanya menolong melahirkan bayi, kosongkan saja status (rekam medis-red) itu? hehe. Tapi kan tindakan medis terhadap parturien tidak hanya itu saja ya :)
Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.