Tuesday, December 21, 2010

Bedah: Eagle's eyes, Lion's heart, Women's hands

بسم الله الرحمن الرحيم
Dokter bedah itu katanya--kata CR bedah-- bermata elang, berhati singa dan bertangan wanita. Beliau menyebutnya dengan bahasa Inggris.
Bermata tajam...seperti elang..
Berhati singa.. artinya tidak terpengaruh kondisi pasien semalang apapun.. jadi, tetap profesional dalam mengambil keputusan.
Bertangan wanita.. ini nih.. maksudnya pinter masak?? jadi membedah = memasak? Surgeon = chef??
heheheg...

Siapa mau jadi dokter bedah? *saya ngacung!* Dari dulu tuh, bahkan tes2 spesialistik juga mencondongkan hasilnya ke surgery.. sampai sekarang, ketika ditanya pertanyaan yang sama saya masih menjawab dengan jawaban yang sama pula: saya mau.

"Tapi bedah mata, bedah THT, bedah yang"kecil-kecil" aja dok :p", lanjut saya. Akhir-akhir ini jawabannya bertambah panjang ding. Semakin ke sini kok semakin ga mantap melanjutkan ke bedah, masih terlalu luas kalau saya pikir.

***
"Eh, dik, kenapa sih kalian disuruh jaga? tau ga kenapa?", tanya CR yang sedang stase di Poli Onkologi.
"Biar kalian capek!" Yang denger melongo

"Kalau capek kalian disuruh mikir gimana?". Emosi, marah-marah,..
"Nah, jadi biar biasa capek & bisa mikir pas capek", jelas beliau. Iya juga sih..

Pernah suatu hari, pas kali kedua saya jaga malam, ada bos pasien yang protes via telpon. Anak buahnya adalah tukang bangunan yang tertusuk besi di telapak kaki kanannya saat bekerja. Si bos minta konfirmasi kenapa harus di rontgen segala padahal lukanya ga dalem2 amat walaupun berdarah-darah begitu, dan dia pikir ga akan bikin tulang patah. Pasalnya foto rontgennya ternyata dirasa mahal oleh si bos. Sudah saya jelaskan ya dengan detil dan tidak berbelit-belit tapi tetep aja si bos ga ngerti. Memangnya dia bisa buktikan apa kalau tulang kakinya ga ada retak atau patah?
"Kan ibu bisa buka luka itu dan melihat ada tulang yang patah atau ngga?!"
Secara langsung si bos minta saya menginvasi luka pasien -__-" *saya bukan tukang potong juga bukan paranormal paaaak.*
Ternyata ga gampang bikin orang ngerti..dan mmg ga selalu apa yg kita pikirkan sama seperti yg orang lain pikirkan.. hufffh..
Jaga..jaga..
berpikir ketika capek mmg harus dilatih..


Tidak jauh dari tempat berdiri saya, residen ortho sudah memberi sinyal untuk menutup telpon dan segera menghecting luka. Sudah ada hasil rontgennya saat saya menjawab telpon tadi dan pasien hanya VL saja tanpa fraktur jadi tinggal dijahit. Hecting set sudah siap, ampul-ampul lidocain sudah dipotekin,  benang jahit, bisturi, dan keperluan hecting sudah siap--sudah saya siapkan maksudnya.
Luka dibersihkan, lalu dirapikan; diinsisi bagian tepi luka yang tidak rata. Hari itu pertama kali saya jadi asisten residen Ortho, terpukau sama hasil insisinya yang rapi.
"Sudah berapa kali hecting, dik?"tanyanya sambil menutupi kaki pasien dengan drape.
"kemarin 2 dok, VL kecil di bibir sama tangan."
"Eh, ini saya ada pasien lain. Udah ya, saya tinggal, kamu jahit dulu sebisanya". Haaaaah? Yakin dok ninggalin luka 7 cm buat saya hecting?

Terus beliau pergi entah ke pasien ortho yang mana. Saya sibuk membuka bungkus nilon 3-0 plus ngeliatin darah segar mengalir terus *untung saya bukan drakula (o,_,o)*

Eagle's eyes.. Lion's heart.. Woman's hands.. menantang, menantang..
Nikmati saja, Intan..lagi pula jahitan kutan, ga ada ruptur tendon, ga ada fraktur dan ga harus nge-gips..

"Gimana?" Tanya dokter tiba-tiba nongol.
"Baru mau satu, dok" Sementara darah terus mengalir. Dep lagi, berdarah lagi. Ga terlalu banyak sih, tapi menganggu.
"Satu bagian-satu bagian ya, jangan langsung sekali tusuk. Terus di dobel simpul pertamanya biar ga regang"
"Sudah ini dok" Kulit telapak kaki kan kulit paling tebal ya by the way .. Dokter ni, ga bantuin klem simpulnya.. T.T ...lebih kencengin simpulnya aja deh jadinya..

Lalu dokter pergi. Sebentar kemudian balik.
"Sip, tinggal 2 lagi ya diujung sini sama situ", katanya sambil tunjuk ujung2 luka yang darahnya sudah berhenti sekarang. Repotnyaaaaa hecting sendiri itu..
Sekarang kaki pasien gerak-gerak, sudah hilang baalnya.
"Sebentar ya Aa...ditahan dulu sakitnya ya..satu lagi nii", sahut saya.
Tidak lama, dokter berdiri di depan saya.
"Ok, perfect!" Saya nyengir, ngantuk-ngantuk tp exited berhasil menyelesaikan hecting pertama di kaki.
Yeah not bad lah..dokter ga tau aja saya "patahin" benangnya berapa kali tadi :D
"Siapa nama kamu, dik?" Tanyanya sambil memfoto hasil jahitan saya. Wah, dibikin laporan jaga ortho nih..

Habis itu saya nama saya dipanggil terus..
"Intaaan, siapin hecting lagi...", giliran dokter bener2 jadi operator, sambil ngajarin saya jahit ruptur tendon dorsum pedis digiti 2. First time...(pasien ke 2)
"Intaan, ambilin spalk...", kali ini mau persiapan pasang gips. First time lagi.. (pasien ke 3)
Ini pasien-pasien saya kok jadi trauma semua ya



00:52 Selesai CRS, siap2 follow up & jaga papan catur lagi. Semangat!

0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.