Wednesday, December 15, 2010

Penyebab Ca Nasofaring: Ikan Asin, Sumpit atau EBV???

بسم الله الرحمن الرحيم
*Sebuah catatan dari ruh yang penasaran setelah stase di bedah Onkologi


Di stase blok sebelumnya saya pernah ditanya perihal Ca Nasofaring (KNF):
Apa penyebab tersering terjadinya KNF?
Hari pertama masih geleng kepala.
Hari kedua saya dengar kalau salah satu penyebab utamanya adalah ikan asin. Kenapa? karena ada nitrosamin--pengawet karsinogenik--yang terkandung dalam ikan asin. Hal ini berhubungan dengan insidensi KNF pada nelayan atau masyarakat yg sering mengonsumsi ikan asin. Nitrosamine juga digunakan sebagai pengawet pada alat bantu makan di Cina Selatan yaitu sumpit. Makanya insidensi KNF juga tinggi di Cina Selatan.

Itu jawaban yang saya dapat dari mendengar. Cukup sampai di sana saja, tanpa membuka buku lagi saya cukup puas dengan penjelasan itu.

Di Stase blok berikutnya, KNF sempat dibahas kembali. Ikan asin menjadi jawaban bermasalah ketika saya ditanya pertanyaan yang sama oleh orang yang berbeda (perseptor).
"Bukan ikan asinnya...", kata beliau tenang. Saya yang kebingungan. Nah loo...

"Nitrosaminenya, dok.", timpal teman saya. Beliau menggeleng.
"Kejadian KNF memang banyak di Cina Selatan. Setelah diteliti lebih lanjut, faktor pencetus utamanya adalah EBV (Epstein Barr Virus) dan justru rangsangan kronis dari kebiasaan makan merekalah yang menimbulkan Ca"
"Penggunaan sumpit ya, dok?" tanya kami.
"Sumpitnya kenapa?"
"Sumpitnya mengandung nitrosamine", jawab kami berharap jawabannya benar. Kembali beliau kecewa. Hadeeehh...
"Tahu kalian kebiasaan makan orang Cina? Mereka makan bubur pakai sumpit. Agar lebih mudah, mangkuknya didekatkan ke mulut. Nah, UAP PANAS yang terus menerus mengenai mukosa nasofaring-nyalah yang menimbulkan rangsangan kronis tadi", jelas beliau.
"ooooo...", bulat, kompak. Iya gitu?

Lagi-lagi, kawan, itu jawaban yang saya DENGAR. Saya jadi penasaran, apa sih etiologi KNF sebenarnya?
Dua minggu sudah berlalu, baru sekarang sempat saya buka teksbuk tercinta :p gara2 penasaran yang tak tertunda XP.
Mari kita bahas sedikit...
(Sumber: Robin's Pathologic Basic of Disease Edisi ke 7.2005)
1. Nasopharyngeal Carcinoma atau Karsinoma Nasofaring atau KNF berhubungan dengan EBV. Genome EBV telah ditemukan di sel2 kanker tersebut. Insidensi tertinggi di Afrika (anak2) dan di Cina Selatan (dewasa). *tetapi di buku ini tidak disinggung tentang sumpit dan kebiasaan makan mereka.
2. Nitrosamine adalah preservatif alias pengawet yang biasa digunakan pada alat makan oleh penduduk Cina Selatan. Zat ini juga terdapat pada makanan serta rokok dalam bentuk nitrat atau nitrit.
3. Nitrosamine adalah salah satu zat paling karsinogenik yang berhubungan dengan terjadinya Ca traktus gastrointestinal bagian atas (bibir dan esofagus), laring, liver dan ginjal.
4. Nitrosamine adalah salah satu penyebab terjadinya SCC pada esofagus. Hal ini berhubungan dengan minuman beralkohol karena beberapa minuman tersebut mengandung nitrosamine. Penggunaan alat makan yg menggunakan nitrosamine atau yang terkontaminasi jamur menjadi penyebab lain terjadinya Ca esofagus di Cina.

Jadi, kesimpulannya... silakan disimpulkan sendiri..hehe..
Yang jelas, dalam proses terjadinya kanker (karsinogensis) ada banyak pencetusnya baik itu genetik ataupun lingkungan (termasuk diet dan gaya hidup).
Dalam kasus KNF, EBV dan nitrosamine berperan sebagai inisiator. Sedangkan pajanan uap panas berperan sebagai promotor. Bila terdapat faktor genetik maka lengkaplah sudah :'(

Secara singkat karsinogenesis dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pada tahap inisiasi sel normal yang terpajan karsinogen ada 3 hal yang akan terjadi: repair DNA menjadi sel normal kembali, sel mati, atau bisa terjadi mutasi DNA secara permanen (initiated cell). Karsinogen berupa bahan2 kimia atau radiasi berperan sebagai inisiator.
 
Faktor keturunan (seperti kerusakan pada p53, BRCA1, BRCA2) dan adanya promotor melanjutkan tahap inisiasi dari initiated cell ke tahap promosi. Tahap promosi merupakan proses yang berulang sampai periode tertentu (lama) sehingga terjadilah kanker. Pada tahap ini terjadi perubahan DNA sel (mutasi) permanen. Promotor biasanya berupa enzim, hormon dan proses inflamasi kronis. Selanjutnya, sel mengalami progresi membentuk massa kanker. Jadi, kanker dapat terjadi bila ada: inisiator, faktor keturunan dan promotor.

Promotor juga bisa berperan sebagai inisiator. Misalnya estrogen pada Ca mamae. Ternyata menurut penelitian, diperlukan waktu lebih dari 20 tahun bagi estrogen untuk memicu terjadinya kanker payudara. 20 tahun tersebut dihitung sejak menstruasi pertama, misalnya pada perempuan yang tidak juga menikah, tidak hamil serta menyusui. Karena kehamilan dan menyusui dapat memotong periode paparan estrogen pada tubuh. 

By the way, saya jadi ingat sebuah hadits:
Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang. Beliau bersabda: "Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat." (HR Ahmad)

Banyak anak banyak rizki? Banyak anak dibanggakan Nabi, yuaa :)

Satu lagi yang menarik. Masih ingat kisah kondang syekh Puji yang menikahi gadis dibawah umur???
Semua orang membahasnya, mulai dari tetangga syekh Puji, temen sekolah istrinya, ibu-ibu tetangga mereka, lalu ibu-ibu tetangga saya, juga ibu saya ikut mengomentari kejadian itu :D. Seru sekali pers memberitakannya. Tidak hanya di TV dan koran, teman2 di dunia maya juga tidak mau kalah membahasnya. Dari segi medis ada yg mengaitkan pernikahan dibawah umur dapat memicu terjadi kanker seviks, bukan? Tapi benarkah demikian? Dulu di bangku kuliah, saya juga dapat teori itu dari teksbuk yang sama; Robin's.

Bang Robin's (ada juga di buku2 lawas) mengungkapkan pada nomor pertama bahwa faktor pencetus kanker serviks adalah usia muda saat intercourse (coitus) pertama kali. Hal ini sering dijadikan dalil ampuh untuk menggugurkan niat mulia seseorang untuk menikah dini oleh pihak tertentu. Hal ini juga sering menjadi alasan keji demi mengata-ngatai Rasulullah seorang pedofilia karena menikahi Aisyah ra. Padahal sudah dijelaskan bahwa kanker tidak terjadi oleh satu pencetus saja. Masih di halaman teksbuk yang sama, dari penelitian biomolekuler terbaru ditemukan bukti adanya DNA HPV (Human Papilloma Virus) pada sel penderta kanker serviks sehingga memperbarui tahap2 terjadinya kanker serviks.
Postulated steps of pathogenesis in cervical neoplasia (Robin's Pathologic Basic of Disease)


Dari tahapan tersebut dapat diketahui bahwa bukan masalah coitus dini-lah yang menyebabkan kanker, namun ada tidaknya HPV sebagai inisiator. Jadi, walaupun seseorang melakukan hubungan seksual pada usia muda sekalipun, selama keduanya tidak terjangkit virus HPV, otomatis secara teori tidak akan terjadi kanker serviks.

Hubungan seksual di sini berperan sebagai promotor. Yang harus dipertanyakan adalah hubungan seksual seperti apa yang menyebabkan kanker? Berhubungan dengan berganti2 pasangan tentu saja lebih berisiko terhadap infeksi HPV. Who knows, siapa yang tahu seseorang yang nampak sehat tapi ternyata dia membawa2 virus pencetus utama terjadinya kanker.

Allahu a'lam. Jadi panjang yaa.. Semoga bermanfaat!

Allahumma aafinii fii badani
Allahumma aafinii fii sam'ii
Allahumma aafinii fii basharii
aamiin.

2 komentar:

Anonymous said...

salam sejawat!
kamu mengulas sesuatu yang cukup membosankan menurut saya, tetapi dengan cara asyik.. ^^

Intan said...

Salam TS,
aduh, maaf ya jadi bosan. Ini juga dibikin karena penasaran aja. Siapa tau masih ada yg berpendapat keliru. ^^,

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.