Tuesday, November 29, 2011

Inspired

بسم الله الرحمن الرحيم
Perkenalan stase baru bersama preceptor yang baru tidak jarang membawa kesan tersendiri. Semua preceptor kami sangat luar biasa. Alhamdulillah, benar-benar mendapat kesempatan untuk jadi kosambi (koas ambisius). Menjadi kosambi itu kan tidak hanya bergantung pada pribadi masing-masing, tapi juga bagaimana style preceptor yg kita temui.

Sewaktu lalu, saya terinspirasi lagi dengan seorang preceptor. Setelah seperti biasa di awal pertemuan kami bergiliran memperkenalkan diri, saatnya beliau yang terakhir bercerita. BERCERITA, sahabat.

"Saya orang Sunda, SMP di Cimahi, suka main ke sekitar SMA 3 Bandung. Dari Cimahi ke sana saya pakai sepeda --cimahi ke SMA 3 dan sekitarnya itu jauh--. Lulus SMP sy daftar ke SMA 3, karena saya yakin saya mampu. Lalu diterima, Alhamdulillah. Waktu SMA saya juga aktif ngaji di Salman ITB, makanya sesuatu tentang ITB menjadi tidak asing bagi saya."
Sepakat,dok. Saya juga merasa terintoksikasi semangat sistemik gambaran tentang ITB, dulu.

"Tapi saya ingin jadi Kopasus. Saya daftarkan diri, sambil ikut tes STAN. Saya lulus tes STAN, tapi di tahap tertentu saya gagal lulus Kopasus. Malah saudara saya yg diterima. Saya jadi berpikir, apa STAN yg saya ambil?"

"Tapi..apakah saya kuat bertahan dengan kultur STAN. Cepet jadi kaya sih. Tapi, ngga, ah. Dan saat itu pendaftaran ulang STAN bersamaan dengan pendaftaran SPMB. Saya putuskan untuk meninggalkan STAN dan daftar SPMB. Saya lulus Kedokteran Unpad.", ujarnya sumringah.

"Pas kuliah, jam-jam sebelum masuk kuliah saya biasa rapat", ehm. Buat para aktivis, kuliah tanpa organisasi bagai nasi tanpa sayur. Dan berorganisasi tanpa rapat sebelum dan atau sesudah kuliah bagaikan sayur tanpa garam. Tapi kalau sampai rapat meninggalkan kuliah, hati2 hipertensi :D --kebanyakan garam :p

"Saya pernah menjabat sebagai Ketua Senat. Saya juga pernah menjabat sebagai Ketua ISMKI"
Sampai sini saya terpesona *melongo profesional dengan wajah tersenyum sopan* Wahhhhhh. Subhanallah sekaliii. Kalau sudah selevel ini, bisa-bisa jajaran rektor dan PR-nya bukan lagi orang asing yang sulit terjangkau.
"Lulus menjadi dokter, saya berpikir untuk melanjutkan ke jenjang akademis berikutnya. Saya bukan anak siapa-siapa, tapi saya bisa menjadi siapa-siapa. Pasalnya, saya suka jalan-jalan.
Bidang apa yang cocok, ya. Lalu saya bertandang ke PR 3 yg dulu dijabat oleh seorang Profesor dokter dan bilang:'Prof, kalau saya tidak bisa studi di Unpad, saya mau ke BAPPENAS'." Mengancam yg sopan, pikir saya.
"Tahu apa yang dilakukan prof?", tanya beliau kepada kami yang sedari tadi setia menyimak.
"Tunggu disini 1 jam, saya minta sekretaris saya membuat surat rekomendasi buat kamu", kata sang Prof. Rupanya beliau tidak merelakan anak didiknya beralih ke yang lain.

Oke, ini kali kedua saya terpesona lagi. Memang rejeki itu sudah ditetapkan yaa...Pilihan beliau yang pertama adalah bidang yang tidak terlalu diminati kebanyakan dokter--tapi prioritas untuk bisa tetap menyalurkan hobi jalan-jalannya, tidak perlu saya sebut ya. Pilihan kedua juga tidak terlalu banyak peminat, pilihan ketiganya NC (Bedah Saraf). Kalau yg terakhir ini banyak sekali yg berminat sekarang.

"Saya memilih mengabdikan diri saya menjadi dosen. Kalau dokter bisa begitu bermanfaat, apalagi menjadi gurunya para dokter, bukan? Karena sebaik-baiknya manusia adalah yg paling bermanfaat bagi manusia lainnya, dan...Satu dari amal jariyah, amal yg pahalanya terus mengalir walaupun kita sudah mati, adalah ilmu yang bermanfaat." tandasnya menyunggingkan senyum.

Thumbs up! Super sekali! Gurunya para dokter ya. Guru saya sebelum sekolah, guru saya waktu TK, SD, SMP, SMA, kuliah, profesi...luar biasa ya mereka itu. Terimakasih guru-guruku. Semoga Allah mengalirkan pahala kepadamu, sederas aliran air terjun yang membuat terpesona siapa saja yang memandangnya, membuat kuat badan yang merasakan terpaannya.

*Memperingati Hari Guru Nasional*
25 November 2011

4 komentar:

noteskedokteran said...

Satu dari amal jariyah, amal yg pahalanya terus mengalir walaupun kita sudah mati, adalah ilmu yang bermanfaat.

saya suka kalimat ini ;)

dr Oen said...

keknya aku tahu siapa dia... dari angkatan 89 keknya

Intan said...

@noteskedokteran: sama :)
@dr Oen: oiya dok? wah, sy udah berusaha biar ga ada yg tahu, padahal. Btw, gak nyangka dokter masih baca blog sy jauh2 di Alaska sana :)

dr Oen said...

itulah gunanya internet ntan.. :)

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.