Friday, December 23, 2011

Belajar Konseling

بسم الله الرحمن الرحيم
Kata konseling baru saya kenal saat saya duduk di SMP. Bahkan saya lupa apakah di SD dulu ada yang namanya bagian BK alias Bimbingan Konseling. Yang saya pikirkan hanya satu: BK termasuk blacklist yang harus saya hindari. Habisnya, yang dipanggil kesana kebanyakan yang bermasalah menyangkut attitude. Konseling pertama dan terakhir di SMA yg pernah saya jalani hanya satu: tentang hasil tes IQ dan prospeknya terhadap masa depan saya.

Bertahun-tahun kemudian, beberapa minggu yang lalu tepatnya, saya diingatkan lagi tentang kata konseling di rotasi Family Medicine (FM). Pembekalan sesi terakhir berupa kuliah tentang itu. Senang & inspiratif. Narasumbernya luar biasa, dosen tapi nampak seperti trainer handal. Inti materinya adalah tentang: How to be a good councelor.

eh?

Mau jadi dokter saya mah.. ;p
Iya, buat apa sih belajar tentang konseling? Saya hampir-hampir melupakan salah satu aspek penting untuk menjadi dokter-bintang-lima-plus-dua (7 Stars Doctor maksudnya): a good communicator. Bukannya di rotasi lain tidak dipelajari, tapi di FM benar-benar saya mendapatkan nilai tambah tentang berkomunikasi dengan pasien. Pasti bukan saya saja yang berpikir tidak ada hubungan yang baik tanpa komunikasi yang baik. Untuk apa kita berhubungan baik dengan pasien? Hubungan dokter-pasien bukan sebatas resep dan imbalan tapi "hubungan yang membantu". Dokter membantu pasiennya untuk menjaga kesehatan. Pasien juga membantu dokter menjaga kelangsungan hidupnya. Menjalankan profesinya, maksudnya.. (sama aja :D)

Konseling secara umum berguna untuk memberikan informasi, membantu klien (kalau dokter pasangannya pasien, kalau konselor pasangannya klien) untuk berperan sendiri dalam kelangsungan hidupnya, membantu mengambil keputusan yang bijak dan realistis, dan menuntun perilaku klien agar mampu menerima segala konsekuensi.

Jadi, dalam bimbingan konseling dengan pasien, seorang dokter tidak mendominasi percakapan tapi memotivasi pasiennya untuk mengungkapkan masalah baik dari aspek medis dan non-medis. Dokter hanya memaparkan informasi tentang masalah pasien (co: penyakit dari sisi medis), pemecahan masalah dan konsekuensinya lalu menuntun pasien mengambil keputusan yang dapat dilakukannya.

Sangat berbeda dengan apa yang saya lihat pada kebanyakan dokter yang lebih senang menyuruh pasiennya untuk tidak melakukan ini dan harus melakukan itu. Melarang dan melarang. Salahkah dokter? Ngga juga sih, kan pertanyaan pasiennya juga: "Ada pantangan ga, dok? kalau ini boleh ga? kalau itu ga boleh ya dok?" Ya otomatis jawabannya sesuai pertanyaan. Apalagi pasien banyak dan waktu terbatas. Padahal apa yang sebenarnya disarankan dokter belum tentu bisa dilakukan pasien sepulangnya berobat.

Namun demikian, tidak sedikit juga dokter yang tanpa mengikuti rotasi FM pun sudah menerapkan ilmu konselingnya dengan sangat-sangat baik. Bukan mustahil jika mereka adalah dokter-dokter yang pasiennya banyak dan disayangi.

Belajar konseling = belajar metode yang baik dalam berkomunikasi dengan pasien.

0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.