Wednesday, January 13, 2010

Mama, Aku Mau Berjilbab

بسم الله الرحمن الرحيم
Baru kali ini aku takut mati. Mengapa mati begitu membuat kuduk ini berdiri. Hati ini resah dan pikiran tak fokus. Ketakutan yang terjadi saat batin ini memberontak menginginkan haknya, ketakutan yang terjadi karena kesadaran tentang kewajibannya.

Dear Diary, today is Wednesday..
And every day why I feel more guilty..It's likely the death comes closer and closer to me
Allah, aku ingin berjilbab. Tapi mengapa begitu sulit diri ini terhijab.

Sementara tekad sudah membulat, aku baru tersadar bahwa dari dulu semua keinginanku tak bisa langsung dikabulkan orang tua, termasuk yang satu ini.
"Buat apa sih kamu pakai jilbab? jadi orang biasa-biasa aja!", sahut Mama.
Biasa-biasa saja itu seperti apa. Aku tidak mengerti.
"Nanti kamu susah masuk kuliah, susah dapet kerja, susah dapet suami!", tambah Mama. Aku terdiam.

Kompromi, penjelasan, strategi, bukannya tidak kupersiapkan. Tapi hari ini baru kali pertamaku meminta izin, mungkin belum saatnya menjelaskan semua. Mama kaget dan sedang emosi, kupikir.

Dear diary, tommorow is Thursday..
Apa yang harus kulakukan
Allah, mudahkanlah..
mudahkanlah..
lembutkan hati beliau ya Rabbana...

Besoknya, sepulang sekolah aku temui lagi Mama. Aku memohon dengan sangat. Memang aku tak piawai berkata-kata, tapi aku hanya ingin berusaha. Aku takut Mama tetap tidak mengijinkan, namun aku juga ingin membebaskan ketakutanku padaNya.

Sementara Mama masih tetap pada pendiriannya, aku berlari ke kamar dan menangis sejadi-jadinya. Tubuh ini kaku, namun panas terbakar jiwanya.

"Ya Allah..", bulir bening mulai menetes lebih pelan. Kubuka tangkup dua tanganku setinggi bahu.
"Apa yang bisa aku persembahkan bila esok adalah hari kematianku, sedangkan aku belum memenuhi kewajibanku padaMu..."
Dadaku mulai sesak, nafasku medalam diiringi isak-isak kecil.
"Ya, Allah, aku takut... aku takut.. "
Raga ini begitu berat, tak kuat lagi menahan bebannya. Aku tersungkur, membenamkan kepalaku. Bersujud, khusyuk.

***

Hari ini, Jumat ceria. Setiap hari Jumat sekolahku mewajibkan muslimahnya untuk berseragam muslimah, menutup aurat. Alhamdulillah. Luar biasa. Hatiku begitu berbunga karenanya. Tapi besok. Pikiranku melayang. Strategi berikutnya mulai terbayang.

Sore ini harus kusampaikan, Mama harus tahu. Sia-sia kakak mentorku mengajariku kalau hal ini tidak diketahui Mama.

***

"Mama", kataku pelan. Kurasa suasana hatinya sedang tenang kali ini. Beliau selalu terlihat nikmat bila sedang memasak.
"Ini, mama baca deh", aku menyodorkan Al-Quran pada beliau. Mama menengok ke ayat yang kutunjuk lalu mengambilnya.
"Ternyata di Al-Qur'an ada, lho ma, perintah untuk berjilbab."
Mama membaca sepintas lalu ditutupnya Al-Qur'an itu cepat.
"Ngga", sahut Mama singkat. Beliau memalingkan wajahnya, melanjutkan memasaknya.
hhhhhhhffffh, Astagfirullahal'adzim. Rabbi.. wakhulul ukhdatammillisaani.. yafqahu qauli..
"Mama, pokoknya mulai besok, Ira mau pakai jilbab", kataku singkat.

***
"Aira!!!!!" Kulihat Ninis dari jauh melambaikan tangannya. Ia berlari mendekatiku yang baru saja sampai di depan pintu kelas.
"Cieeee.....beneran dah pakai nih sekarang???", tanyanya setengah takjub setengah sadar.
Aku mengangguk
"Alhamdulillah!" teriaknya nyaring. Aku pun tak mau kalah mengucap syukur.
Kelasku hari ini penuh dengan taburan bunga dalam mataku. Bunga itu dari hatiku. Hampir seluruh temanku, bahkan beberapa guru yang mengajar, mengucap selamat dan mendoakanku agar istiqamah. Alhamdulillah.

Sementara pagi tadi Mama tetap memalingkan matanya tak mau menatapku. Baru hari ini, baru pagi tadi, kepergianku menuntut ilmu diiringi wajah sendu orang tuaku. Hatiku gerimis.

Ya Allah, aku begitu mencintainya.. Tapi cintaku padaMu melebihinya..
Bismillahi tawakaltu alallah..

"Dan katakanlah kepada pada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putra saudara laki-laki mereka, atau putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan lelaki (tua) rumah tidak memiliki keingingan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan.

Dan janganlah mereka menghentakan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."
(An Nuur [24]; 31)

***

Tiga hari berlalu. Perang dingin yang dilancarkan Mama dihentikannya. Mamaku, wanita yang lembut tapi keras, sama persis seperti diriku. Perlahan hatinya meluluh. Mau tidak mau, beliau menerima kenyataan bahwa aku tetap pada pendirianku.

Bertambah satu yang aku yakini: Rencana Allah selalu indah. Selalu indah untuk hamba-hambaNya yang mengorbankan dirinya untukNya, yang mengorbankan peluh dan pemikiran untukNya, yang rela dijauhi orang tua kandungnya, yang berani menembus batas kejahiliyahan.



bersambung...









0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.