Saturday, December 24, 2011

Ujian Konseling

بسم الله الرحمن الرحيم
My counseling session is in 24 hour. I've done prepping my patient, her medrec, reviewing her illness, writing down the scenario, speaking it not-out loud. She is a lovable old woman, though. And I got my heart beats so fast until I meet her earlier on the next day..

***

Pagi itu, saya sengaja datang satu jam lebih awal. Pendaftaran pasien di Puskemas sudah dibuka sejak sebelum saya datang, namun pemeriksaan pasien masih puluhan menit lagi. Berhubung hari ini Senin, harinya poli lansia selain hari Kamis. Pas sekali, saya mendapat giliran ujian hari Senin dan pasien saya seorang lansia. Sebagian teman lainnya tergilir besok untuk ujian.

Jam 8 kurang, batin saya melihat jam. Saya berjalan sedikit menuju Puskesmas. Dari jauh saya memperhatikan sosok nenek berjilbab duduk dekat pedagang siomay di gerbang depan Puskesmas. Saya percepat langkah mendekatinya.
"Ibu?", saya kaget, ibu itu tidak. Saya tidak lupa kalau janji bertemu adalah jam 9 pagi.
"Kok sudah datang pagi-pagi begini?" Bukannya tidak bersyukur, tapi saya heran dan penasaran. Ternyata ibu itu juga punya janji dengan cucunya yang katanya mau periksa kelenjar di lehernya yang bengkak.
"Tapi cucu ibu belum datang juga" keluhnya sedih. Kasihan, masih pagi sudah dikecewakan cucu.
"Sabar ya, ibu. Ibu mau menunggu disini atau ke dalam sama saya?"
"Disini aja, neng"
"Kalau begitu saya ke dalam dulu ya, bu. Mau siap-siap. Nanti jam 9 saya kesini lagi"

Jam 9 kurang. Puskesmas semakin ramai oleh pasien. Di Puskesmas ini jumlah pasien ratusan setiap harinya; Poli umum (BP) sekitar 70-80 pasien, Lansia 40-50 pasien, MTBS (anak 0-5th) belasan pasien, KIA (ibu hamil,dll) juga banyak dan TB ada puluhan pasien.

Saya tengok dari jendela lantai 2 ke arah para lansia mengantri duduk. Ibu itu tidak ada disana, tidak juga di depan gerbang. Makin deg-deg-an jadinya. Meskipun tadi lebih tenang karena preceptor berhalangan datang menguji karena ada tugas ke luar kota. Tapi Kepala Puskesmas sudah datang dan siap menguji walaupun sendiri.
"Pasien saya sudah datang, dok. Tapi barusan saya lihat beliau 'menghilang'"
"Ya sudah nanti langsung ke bawah saja ya. Saya siapkan tempat dulu sambil periksa di Lansia"
"Oh, iya dok. Tadi saya juga sudah daftarkan pasiennya. Nomor antrian 13"

Tidak lama, saya turun ke lantai 1 mencari sang ibu. Ternyata ibu itu sudah duduk manis seraya mengobrol dengan sejawat di sampingnya.
"Ibu, kalau ibu dipanggil, saya yang periksa di dalam, ya. Saya periksa pasien lain dulu"

Di bagian Lansia, nampak kepala puskesmas sibuk memeriksa pasien. Saya menghampirinya untuk memberi tahu kalau pasien saya sudah datang dan siap (siaaap?) diuji. Sementara menunggu nomor antrian, saya meminta izin untuk membantu teman memeriksa di MTBS. Gak nyambung sama ujian ya? Saya pikir, dari pada nunggu di kantor, lebih baik saya periksa beberapa pasien. Pasien terobati, deg-deg-an saya juga *counter-transference: mode*

***

Ujian dimulai. Setelah saya persilakan duduk, menyapa dan berkenalan *padahal sudah kenal, secara sudah homevisit 3 kali. Lalu, saya jelaskan sedikit tentang konseling dan tujuannya..
"Ibu, kita mengobrol sebentar tentang penyakit ibu ya, mungkin sekitar 10-15 menit. Tujuannya untuk mengetahui penyebab, faktor-faktor risiko, pengobatan dan pencegahannya. Bagaimana bu?"
Ibu itu menangguk dan tersenyum. Lalu saya lanjutkan dengan brief anamnesis.
"Sekarang apa yang dirasakan bu?"
"Pegel-pegel, dok", jawabnya sambil meremas pundak kanan.
"Kalau lututnya bagaimana?". By the way, saya mau konseling tentang osteoartritisnya. Kok jadi pegel pundak? Bukannya tidak mungkin tapi..*gawat.com*


"Masih suka sakit"
"Ada keluhan lain ibu? tentang kesehatan atau yang lainnya?"
"Ngga, pegel aja pundaknya", Oow
"Perasaan ibu bagaimana tentang pegel dan nyeri lututnya? jadi cemas atau khawatir?"
"Yah..khawatir iya.."
"Yang paling membuat ibu khawatir yang mana; pegal atau nyeri lututnya?"
"Nyeri lutut,dok" Alhamdulillah *lhoo*
"Khawatirnya bagaimana bu?"
"Gitu aja, dok,.."sambil memegang lutut kanannya"...tapi, kalau pegel atau sakit ibu istirahat atau jalan-jalan aja.. uuu, ibu mah kalau ke Antapani ke rumah saudara jalan kaki, dok"
"Begitu ya bu. Begini bu, nyeri lutut ibu itu karena sendi lutut ibu itu aus. Penyebabnya bisa karena keturunan, usia tua, berat badan berlebih, penyakit bla-bla-bla..."
"Nah, pengobatannya bisa disini, ada obat untuk mengurangi nyerinya. Tapi selain itu, ada yang bisa ibu lakukan di rumah biar mengurangi nyerinya, seperti gerakan mengayuh sepeda.."
"Mengayuh sepeda?!" potongnya,"ooh, ada sepeda di atas (lantai atas rumah), ibu mah suka mengayuh sepeda kalau ga dipakai, tapi kadang-kadang"
"Bagus, bu. Biar tidak terlalu repot, ibu mengayuh sepedanya bisa sambil tiduran. Kakinya digerakkan seperti mengayuh sepeda, begini..." Saya beri contoh pakai tangan sambil lanjut menjelaskan . "Bagus untuk otot-otot di sekitar sendi biar lebih kuat." Ibu itu menangguk.

"Ibu juga bisa jalan-jalan"
"Aaah, sering atuh itu mah. Ibu suka jalan kemana-mana. Kesini juga naik angkot terus jalan. Ke Antapani.. sering..kemana weh" sahutnya tertawa dan bangga. Saya memujinya.
"Selain itu, bu, berdiri terlalu lama dan membawa beban terlalu berat juga bisa menambah aus sendi"
"Ngga, ibu mah kalau ada yang berat minta tolong, ada cucu."

Prognosis baik buat ibu, buruk buat ujian saya, nih. Pasalnya, setelah sesi pemaparan penyakit dan pilihan pencegahan, barulah pasien diberi kesempatan menentukan pilihan yang bisa dilakukannya. Yang saya hadapi adalah campurannya. Belum juga selesai saya menjelaskan tentang penatalaksanaan. Disisi lain, ibu itu sudah terbiasa hidup sehat. Dilema. Akhirnya, saya review tentang apa keluhan dan kebiasaan ibu yang baik dan perlu diteruskan. Lalu saya tutup dan memberi kertas resep obat.
"Terimakasih, bu"
"Terimakasih, dok" sahutnya, lalu saya mencium tangan ibu yang seusia dengan nenek saya.
"Terimakasih, dok" Ibu juga menyalami Kepala Puskesmas yang sedari tadi memperhatikan di dekat kami.
"Cepat sembuh ya, bu", balas Kepala Puskesmas.
Terlihat bahagianya sang ibu. Saya menghela napas, was-was karena jauh dari apa yang saya harapkan.

"Hmmm", gumam Kepala Puskesmas membuka pembicaraan."Begitulah kalau pasien sudah sering diberi konseling saat homevisit." Yup, saya terbilang sering homevisit dan sekalian konseling pasien ini. Ternyata, sekali lagi, baik buat pasien tapi tidak saat ujian.
"Konten konseling kamu jadi kurang. Saya baru menilai sedikit. Targetnya di atas 80 ya, kamu belum mencukupi. Saya sarankan kamu mengulang konseling. Cari pasien lagi kalau mau?"
"Baik, dok", jawab saya, pasrah, sekilas melihat tanda ceklis yang sudah saya duga di lembaran yang dipegang beliau.
"Boleh penyakit yang sama, atau yang lain yang kamu kuasai. Ya. Kalau sudah ada kesini lagi"

***

Kesal. Iya. Senang. Iya. Kalau diingat-ingat, beliau adalah pasien kedua yang saya kunjungi rumahnya. Beliau juga termasuk salah satu calon pasien ujian konseling saya. Kewajiban homevisit adalah 3 pasien. Ujian konseling bisa dari salah satu pasien homevisit atau pasien baru lagi setelah tugas homevisit selesai. Dari sejak pertama bertemu saat saya stase di Poli Lansia, saya sudah berharap kelak beliau-lah pasien ujian konseling saya.

Sebenarnya beliau calon kedua. Akibat calon pertama--seorang ibu dan batita yang terkena brokhitis akut--tidak merespon undangan saya, maka beliau yang saya undang ke Puskesmas sekalian kontrol.
Alhamdulillah, responnya baik. Cucunya yang menjawab telepon saya malah proaktif. Beginilah kalau Allah berkehendak, pasti ada jalannya.

Tapi, ternyata Allah ingin memberikan pelajaran lain untuk saya yang tak kalah berharganya. Do'a dan niat yang baik diiringi ikhtiar yang sungguh-sungguh, benar Allah mengabulkan harapan saya saat pasien itu bisa hadir. Namun, setelah melalui ujian saya tahu bahwa apa yang kita anggap baik belum tentu itu yang terbaik untuk kita. Seperti firman Allah dalam surat Al-Baqarah:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui"
(QS 2: 216)

Oke, semangat lagi jadinya. Masih jam 10 lebih, masih banyak pasien mengantri. Saatnya memeriksa sambil menemukan pasien beruntung yang saya beri perhatian lebih berikutnya ;)

bersambung ke: Ujian Konseling Ulang ^^

0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.