Wednesday, October 19, 2011

Jaga Perinatologi

بسم الله الرحمن الرحيم
Subdiv Perinatologi adalah salah satu dari 11 subdiv di bagian Pediatri. Kita singkat saja menyebutnya dengan Peri (e dibaca seperti 'bebek'). Peri juga bagian yang paling saya senangi, karena disini kita tidak melulu melihat anak yang sakit. Disini ada bayi lucu nan menggemaskan. Sampai salah satu teman saya berujar "jadi pengen punya anak". Kalau dia mengelus-elus perutnya, saya cubit-cubit pipi bayi yg lucu itu. Hihi.. Kayak bakpao :p
Bayi lucu di peri 17
Bayi-bayi yang sehat ada yang tidak langsung dibawa pulang oleh ibunya. Di kamar I Ruang Peri 17, beberapa bayi harus menginap paling tidak selama 2 hari untuk diobservasi misalnya bayi yang lahir dengan SC atau Forcep atau Vaccum, meskipun mereka nampak sehat.

Siapa sih yang ga suka lihat bayi lucu. Apalagi pas mereka bobo atau pas bangun terus matanya kedip-kedip seakan memandang kita. Padahal nggak, hehe. Ya, bayi baru lahir belum bisa melihat. Penglihatannya baru sempurna sekitar akhir bulan pertama. Tapi tetep aja lucu. Irisnya yang besar nampak kelebihan proporsi menjadi ide produsen softlens model baby eyes, lho. Kalau bingung, perhatiin aja mata temen-temen sekitar yg agak 'kebesaran' bagian hitamnya, mungkin dia sedang ingin kembali menjadi bayi ^^v



Lucu dan gemas, dua kata penghibur, penyemangat, pemulih dan pemadam 'api' kalau kami jaga Peri. FYI, kawan, Ruang Peri di RSHS itu ada 2; satu di Gedung A1 (Peri A1) yang terdiri dari 2 kamar. Satu lagi di deket Obgin (Peri 17) yang terdiri dari 3 kamar. Jaga Peri artinya jaga Peri 17 yang letaknya di ujung selatan RSHS. Setiap jaga terdiri dari 3 koas. Kami bergilir ke 3 tempat: pertama di Peri 17, kedua di VK Obgin di depan Peri 17, ketiga di IGD Obgin lantai 2 di ujung utara RSHS.

Di Peri 17 tugas utamanya adalah follow up; kamar I setiap 6 jam, kamar II setiap 3 jam, kamar III setiap 1 jam. Berhubung kamar selalu terisi walaupun ga penuh, paling ga ada sekitar 15 bayi disana. Tempat 'nongkrong' juga di Peri 17; standby kalau ada telpon dari VK atau IGD Obgin. Untuk VK baiknya tanya dulu ke residen obgin ada calon partus berapa, yg paling deket berapa lama lagi, jadi bisa siap2in status.
Bayinya imut, yg follow up amit (berlebihan :p)
Telpon dari IGD Obgin bisa berarti 2, ada partus di VK IGD lantai 2 atau SC di OK lantai 3. Ohya, di deket VK ada Peri lagi, lho. Jadi, tugas yang ke IGD adalah membawa status, peneng (gelang label), 3 kain pernel, partus set dan umbilical set ke lantai 2. Siap-siap bantuin mengeringkan bayi, suction, oksigenisasi, bagging kalau distress..Kalau APGAR sudah baik, bayi dipindahkan ke Peri untuk diobservasi. Kalau perlu suction ya disuction, kl perlu oksigen ya dikasih oksigen. Yang ga boleh lupa bayi harus tetap ada di bawah radiant warmer biar ga hipotermi. Terus lanjutkan perawatan bayi dengan memberi salep mata (antibiotik profilaksis). Satu jam kemudian disuntikan Vitamin K1 di 2/3 anterolateral paha. Jangan lupa cap kaki bayi (bukan ibunya,lho) dan  antropometri; timbang bayi, ukur panjang badan, panjang kepala-symphysis, lingkar kepala dan lingkar dada. Lanjutkan dengan menghitung NBS (New Ballard Score) dan Canscore, lalu tulis semua di status.
Status, NBS, Canscore, Form riwayat orang tua & keluarga, form observasi, Kartu Periksa (+ tempat cap kaki)
Kerjaan di VK-Peri IGD dan VK-Peri 17 itu ga beda. Yang jelas beda: JAUHnya! secara dari ujung selatan ke utara yang ratusan meter itu. Status dan peneng cuma ada di Peri 17. Jadi, mau ga mau, kalau ada partus di VK atau OK kita harus meluncur segera membawa perlengkapan. Kalau 1x partus, mending. Lha kalau 9x IGD doang satu shift? (ada nih) Capek memang, tapi kalau lihat yg lahir sehat dan lucu, capeknya nguap ntah kemana ;)

Bedanya lagi, kalau di 17 ada banyak lahiran, kita bisa melakukan tindakan dari awal sampai selesai termasuk memotong umbilikus yang kenyal kayak jeli. Di kedua tempat itu kita juga bisa membantu ibu untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Ingat, batasan IMD itu 45 menit sejak bayi lahir (ada juga yang tolerir 1 jam). Karena waktu-waktu itu bayi lagi aktif2nya. Dan setelah itu bayi akan tidur selama 4-5 jam. So, semua kerjaan tadi harus beres dalam waktu kurang dari 45 menit untuk bayi sehat. Kalau tidak sehat, sang bayi harus dipisahkan sementara waktu dari sang ibu dan tidak ada IMD :(
Jangan lupa cuci tangan & dipakai barakshotnya kalau mau masuk kamar bayi. (Model: Imel)
Ada lagi yang beda kalau ibunya SC, kita ga perlu ke OK untuk steril terus bantuin SC. Tinggal tunggu bayinya di nurse station OK, terus bawa turun ke Peri IGD karena hampir semua sudah dikerjakan residen. Berhubung nunggunya cukup lama (bisa 1 jam lebih), saya paling ga suka kalau ada SC, lebih baik standby di Peri 17 untuk panggilan VK deh..sesuatu banget :p

Ada kebodohan-kebodohan kecil yg pernah saya lakukan selama jaga salah satunya adalah: MAININ PENENG! Waktu itu lagi nunggu di peri IGD, terus saya yang penasaran belum pernah masang peneng ke siapa dan apapun sengaja mengancingkan peneng. Ceklek. Eh, pas saya mau buka lagi, kok ga bisa ya. Saya paksa, tetep juga ga bisa. Setengah khawatir saya bilang ke residen:
"Dok, penengnya kekancing"
"Haa? Kan ga bisa dibuka lagi. Coba cari lagi yang baru. Tanya suster di Obgin atau kemana.."
Panik.
Seperti yang sudah saya katakan tadi kalau peneng cuma ada di peri 17. Pasalnya, peneng itu sudah dinomori berurutan dan cuma ada 2 peneng yang bernomor sama: satu untuk bayi, satu lagi untuk ibunya. Parahnya, saya ga tau kalau peneng itu setelah dikancingkan ga bisa dibuka lagi. Huaaa....Mana bayinya mau lahir...hmmhhh, putar otak newbie anak..
Sambil bawa peneng biru yang terkancing, saya turun ke Depo IGD.
"Aa, ada peneng?"
"Ada, untuk siapa?" Alhamdulillah.
"Bayi di Obgin"
"Harus ada medrecnya" Ya, Allah. Mana saya tau.
"Tuker aja boleh ga, A? ga sengaja ke kancing"
"Tapi adanya warna pink"
Hadeeeeh....harus ke atas lagi dong ambil paneng buat ibunya. Ntar kalau warnanya beda dengan anaknya, apa2 lagi.
Alhamdulillah, barternya sukses.
Ohya, tentang sinetron bayi yang tertukar atau si kembar yang ditukar atau apalah, di jaman sekarang masih ada ya? Kalau di RSHS kemungkinannya sangat kecil bahkan bisa jadi nol. (Saya ga tau prosedur di RS/ tempat lain). Secara bayi yg baru brojol langsung ditangani di jarak yang bisa terlihat oleh ibunya dan segera diberi peneng. Penengnya ada nama bayinya dan ga bisa dibuka lagi kecuali digunting. Apalagi keluarga/orang tua hanya bisa melihat bayinya setelah peneng terpasang. Di Peri 17 pun yang menengok bayi hanya boleh ayah atau ibu kandungnya, selain itu ga boleh. Heran kalau sampai ada yang tertukar.
Peneng (pink) sakral. Berisi data diri bayi: Nama ibu, tanggal lahir, jam lahir, nomor medrec, jenis kelamin.

Apapun itu, yang jelas tolong jangan ulangi kebodohan saya T____T

0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.