Saturday, August 13, 2011

Hidupku Matiku #1

بسم الله الرحمن الرحيم
Alhamdulillah selesai juga 3 bagian kecil yang aneh menurut saya. Aneh dan asing, padahal ada yang sudah pernah dipelajari di bangku kuliah; Forensik-Saraf-Jiwa.

Di Forensik saya belajar lagi tentang arti hidup dan mati, tentang sehat dan sakit. Banyak bidang ilmu yang mendefinisikan semua itu, lalu bagaimana seorang dokter mendeskripsikannya?
"Kedokteran bukan ilmu pasti, tapi kedokteran itu ilmu yang terukur", kata dr.NH, Sp.KF, SH
Maka hidup, mati, sehat dan sakit, dan apa-apa yang dipelajari di kedokteran ada ukuran-ukurannya. Ukuran itu bisa dan sangat bisa berubah seiring kemajuan ilmu pengetahuan.

Di Forensik juga saya banyak melihat jasad-jasad yang tak bernyawa. Ada bayi sekepalan tangan yang tak diinginkan ibunya. Ada seorang ibu yang menerjunkan dirinya ke waduk tak lama setelah luka operasi caesarnya sembuh. Ada yang menggembung, hijau dan berbau busuk ditemukan tak bernyawa di kamar kostnya. Ada yang sempat di RJP teman sekelompok kami karena kecelakaan lalu lintas, namun tak tertolong. Ada yang ditusuk oleh preman-preman saat sedang bertugas menjadi tukang parkir. Ada banyak yang pecah kepalanya dan tercecer otaknya. Masih ada lagi belasan jasad lainnya yang kami tangani.

Ngeri. Tetap saja, berkali-kali saya melihat, memegang, membaui, memotong, mengukur dan mendeskripsikan keadaan jasad-jasad itu saya tetap merasa ngeri. Bukan karena ngeri secara fisik, tapi saya jadi ngeri terhadap bagaimana keadaan saya ketika tak bernyawa kelak. Kematian seperti apa yang engkau harapkan wahai sahabat?

Di Forensik, sang operator akan terus menghadapi bagian yang sama. Saya dan seorang teman menjadi operator bagian kepala. Saya pasrah atas pembagian tugas yang diundi itu. Bagian kepala banyak hal-hal yang harus dideskripsikan. Ah, bukan itu yang membuat saya tidak sreg, tapi bagian wajah. Wajah adalah bagian terbaik untuk ditampilkan bukan? ...inni wajahtu, wajhiya liladzi..  Tapi, bayangkan wajah-wajah seperti apa yang kami temui. Terkadang tak sekedar lebam disana-sini, tapi ada yang tak utuh lagi bola matanya, tak putih lagi sclera nya, semuanya menonjol keluar, tak indah lagi hidung dan bibirnya. Terlihat cairan-cairan merah pekat keluar dari mata, hidung dan telinga. Sampai-sampai ada yang terlihat seperti tangis darah. Kadang tercampur gelembung-gelembung dan gas pembusukan. Kadang tertutupi dengan belatung. *Maaf kalau sampai ada yang mual membaca ini*

Di sisi lain, beberapa kali menjadi operator, beberapa kali penasaran dengan wajah-wajah 'surga'. Inikah? pada jasad yang satu. Atau itukah? pada jasad yang lainnya. Lalu, bagaimanakah wajah yang akan saya hadapkan ketika jasad ini tak ber-ruh lagi?


bersambung

0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.