Monday, May 7, 2012

Tentang Konsulen Saat OSCE

بسم الله الرحمن الرحيم
Sepi banget ini blog ya Allah. Maafkan saya para pembaca setia *sok eksis*. Saya sedang terkena penyakit malas tingkat Jawa Barat. Buka-buka blog sendiri, balas komentar, tapi tidak kontributif. Jadi menohok diri sendiri.
Eh, tapi ada satu cerita menggelitik pikiran saya saat OSCE (ujian praktik) beberapa bulan lalu. Tentang salah satu konsulen penguji yang menurut saya gaul di usia bayanya. FYI, konsulen-konsulen FK itu ajaib, selain sibuk bisa berpindah-pindah kota dalam sehari, apa yang mereka pikirkan pun sering membuat saya terpana. Kalau tentang kedokteran menurut spesialisasinya mah biasa ya. Tapi ini..

Pagi itu ujian OSCE 15 station yang terdiri dari 12 station kasus dan 3 station istirahat. Singkat cerita, tibalah saya di station Apendisitis Akut (radang usus buntu). Berhubung kasus ini sering dijumpai sewaktu pendidikan dokter muda (koas) bagian Bedah, saya lebih cepat menuntaskan kasusnya mulai dari anamnesis pasien, pemeriksaan fisik, lab penunjang, surat rujukan, terapi farmakologis dan non farmakologis.  Sepuluh menit dari 13 menit waktu yg disediakan. Kecepetan, pikir saya. Suka lupa waktu kalau standardized pasiennya kooperatif, tahu-tahu selesai. Haduw, ga suka kondisi begini bikin salah tingkah. Mau lari-lari salah, mau keluar duluan salah, mau loncat-loncat apa lagi, hehe. Mana konsulen penguji biasanya satu suara untuk tutup mulut berjamaah. Yaudahlah diem aja. 
"Dek, pengetahuan agama kamu dalam?" Tiba-tiba penguji bertanya.
Ini penguji dari tadi memperhatikan ya. Saya refleks lihat baju yang saya pakai. Memang ada hubungannya ya, tan, tertutup jas panjang soalnya. Jangan sampai baju yg saya pakai jadi indikator ilmu saya yang sangat cetek ini.
"Masih belajar dok, ada apa?" mau teriak "hah" nanti ga sopan.
"Ada ga ayat yang menyebutkan Allah itu tidak dzalim terhadap makhluknya?" Saya blank beberapa detik, bukan karena tidak tahu, tapi karena siapa yang bertanya. Wow. Beliau muslim, saya tahu, tapi sejak menguji tadi beliau sibuk dengan iPadnya. Sepengalaman saya jadi mahasiswa bimbingannya, saya tidak menyangka beliau akan berdiskusi tentang agama. Sepengalaman saya ujian di FK, baru kali ini diajak ngobrol di luar konteks medis saat ujian. MasyaAllah. 
"Allah tidak dzalim, dok, ada di Al-Baqarah ayat-ayat terakhir (285-red) kalau Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya" jawab saya. Beliau memperhatikan sambil tetap melirik gadgetnya. Nampaknya sedang membuka Al-Qur'an. Saya tidak bisa melihatnya, meja duduk kami terpisah cukup jauh (+/- 3m).

"Ada lagi di surat lain kalau Allah tidak menginginkan kesulitan bagi hambaNya, tapi Allah ingin memberikan dan menyempurnakan nikmatNya agar hambaNya itu bersyukur. Di surat lain juga banyak dok, maaf saya tidak hapal". Bel berbunyi menutup episode kejutan hari ini. Alhamdulillah. Save by the bell. Bener ga sih jawaban saya *ngelap keringet*

Saya segera berpamitan dan menuju station selanjutnya. Di saat seperti ini saya merasa bodoh. Gampang sekali melupakan sesuatu dan banyak sekali yang saya belum tahu tentang Al-Qur'an. Sampai di rumah saya penasaran dengan surat yang saya lupa itu; Al Maidah ayat 6, dari ayat tentang bersuci (thaharah)


“Apabila kalian sakit atau sedang dalam bepergian (safar) atau salah seorang dari kalian datang dari tempat buang air besar (selesai buang hajat) atau kalian menyentuh wanita (jima’) sedangkan kalian tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah dengan tanah/ debu yang baik (suci), (dengan cara) usapkanlah debu itu ke wajah dan tangan kalian. Allah tidak menginginkan untuk menjadikan keberatan atas kalian di dalam menjalankan syariat Agama ini, akan tetapi Allah ingin mensucikan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya atas kalian. Semoga dengan begitu kalian mau bersyukur.” (Al-Maidah: 6)

Di Al-Baqarah lainnya juga ada tentang shaum,
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (Al-Baqarah: 185)


Masih ada lagi ayat-ayat bertebaran di Al-Qur'an membuktikan bahwa Allah tidak pernah dzalim. Bahkan dalam beribadah kepadaNya, dalam setiap perintahNya pun Allah tidak menghendaki kesulitan bagi hambaNya. Lakukan semampumu, bukankah begitu? 

0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.