Tuesday, September 25, 2012

Dibalik Cerita Intan dan Ridwan

بسم الله الرحمن الرحيم
Ketika ta'aruf pertama, kamu begitu semangat berbincang dengan suami murabbiyahku. sementara aku diam memperhatikan dan sesekali menjawab atau bertanya seperlunya kepadamu.
Oh, begini tho, orang yang dulu tidak jarang kulihat di sekitar SMAku. Aku menggumam dalam hati mengingat-ingat kembali kenangan enam tahun lalu. Kami bersekolah di SMA berbeda namun berada di satu gedung yang sama. Dua SMA yang terkenal di jalan Belitung Bandung. Aku tak asing dengan wajahnya, tapi aku sama sekali tidak mengenalnya sejak dulu.

Perkenalan yang singkat, tapi kurasa itu sudah cukup menggambarkan seperti apa dirimu. Bukan diam-diam menghanyutkan, tapi hanyut-hanyut mendiamkan. Talkative, yee.. hehe. Tapi menurut pengalamanku memperhatikan manusia, biasanya yang semacam ini sosok aslinya justru sebaliknya.

Bagiku, entah mengapa, seperti tidak perlu istikharah lagi untuk memastikan bahwa dirimulah yang akan jadi suamiku. Kita begitu tidak sama. Dan itulah yang aku perlukan. Hubungan yang saling melengkapi dan bersinergi.

"Gimana kesan habis taarufnya, tan?" tanya sahabatku beberapa waktu kemudian.
"hmmm," aku tak bisa menyembunyikan senyum,"kayaknya seru ya kalau bisa hidup bareng sama dia"
Lalu kami berdua tertawa.

Pertemuan berikutnya, dirimu beberapa kali berkunjung ke rumah menemui orang tuaku. Lalu gantian aku yang ke rumah orang tuamu. Sebentar saja, dua minggu berlalu dan sesi khitbah yang membingungkan kita itu berlangsung.

"Tadi itu dah engaged kata papa. Kan papa kamu udah menyampaikan maksudnya dan diterima papaku", aku coba melerai kebingungan di antara kami. Pasalnya, ini lamaran sama sekali ga ada ritual seperti biasanya; hanya obrolan dan penyampaian secara lisan saja tanpa ada seserahan dan semacamnya.

Akhirnya, setelah melalui diskusi panjang berbau magis bin ajaib--atas kehendak Allah--kita menikah sebulan kemudian. Singkat dan mudah Alhamdulillah. Rasanya pun biasa saja hahaha.. tapi kenapa begitu indah kalau diingat lagi.





2 komentar:

Eva Rosmatia said...

selamat ya ka )
sekarang praktek dimana?

jofanviradella@gmail.com said...

Barakallah ukhti Intan :)

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.