Thursday, May 21, 2009

Ikhwan, Jangan SMS yang ga penting!

بسم الله الرحمن الرحيم

Sudah banyak bahasan tentang ini. Tentang dua 'dunia' yang bersatu karena SMS. Tapi ga habis2 tuh ikhwan-akhwat yang jadi korban.
Kenapa saya bilang korban? karena SMSan seperti itu ujung-ujungnya toh ga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, malah mendatangkan keburukan bagi mereka dan orang2 disekitarnya.
Oh, ok. Saya lupa. Pembelaan dari para pe-SMS yang bilang bahwa
"SMS dari si akhi/ ukhti itu meningkatkan produktivitas saya, meningkatkan motivasi saya, meningkatkan kuantitas ibadah saya..pokoknya saya jadi lebih baik deh" mungkin tulisan ini agak menyindir ya.

Buat para kaum hawa:
Aduh ukhti, tanya deh ke hatimu. Jujur deh, seneng banget kan kalau dapet sesuatu darinya, seneng banget kan kalau ternyata itu tentang kamu. Seneng kan kalau dia ternyata merhatin kamu walaupun dari jauh? tapi kalau yang melak
ukan itu adalah saudarimu apakah akan sama yang kau rasa?

Ah, jadi teringat beberapa definisi tentang zina.
Zina-nya mata itu dengan melihat
Zina-nya telinga itu dengan mendengar
dan set
erusnya..
Lalu, sahabat saya mengingatkan
Kalau Rasulullah masih hidup di zaman sekarang pasti deh menambahkan:
Zinanya jempol itu dengan SMSan!
Hehehe..lucu ya, tapi ajleb. Menusuk sekali. Astagfirullahal adzim.
Dari ungkapan itu jadi timbul pertanyaan tentang zina. Saya cukil dari blog tetangga:
Zina berdasarkan ilmu syara’ adalah perbuatan dimana seorang laki-laki dan perempuan yang dengan jelas tidak terikat oleh suatu pernikahan yang sah (menurut syariat Islam), melakukan hubungan kelamin, sedemikian sehingga hasyafah (kepala kemaluan) si laki-laki masuk ke dalam farji si wanita, tidak peduli apakah terjadi orgasme ataukah tidak.
Sudah jelas itu hukumnya haram dan terlarang. Dan perbuatan mendekati zina juga terlarang saudaraku.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adl suatu perbuatan yg keji dan suatu jalan yg buruk.” (QS Al-Israa': 32)
Pengertian mendekati zina dalam Ayat Al Qur ‘an di atas merupakan segala perbuatan yang dilakukan yang mengarah kepada zina, baik itu merupakan pandangan, pendengaran, ucapan, ataupun gerak-gerik. Larangan mendekati disini bermakna sadd dzari’ah (prevensi) atau ihtiyath (kehati-hatian).

Ga bisa dipungkiri, terkadang ada saja jempol ini salah mengetik. Baru tersadar setelah timbul suatu keanehan, kejanggalan, keajaiban, dan sebangsanya. Padahal semua itu adalah stadium awal terjangkitnya penyakit hati.

Rasulullah besabda,"ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. tetapi bila rusak niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama Qalbu" (HR. Bukhari dan Muslim)

Berangkat dari sebuah pesan singkat bernama SMS yang nampaknya tidak penting bagi kedua belah pihak, ternyata itu bisa lo menjadi pintu gerbang menuju perbuatan mendekati zina. Perbuatan yang, secara sadar ataupun tidak, bisa membawa keduanya mendapatkan sebuah penyakit di hati. Hati atau qalbu adalah penguasa tubuh kita. Apalah yang terjadi pada tubuh bila hati dikuasai nafsu selain nafsu pula.

Lalu, bagaimana? Siapa yang bertanggung jawab terhadap hal ini? Ikhwan-kah? Akhwat-kah?

Merasa sebagai akhwat yang pernah jadi korban, saya coba ungkapkan kekesalan saya lewat tulisan ini. Mungkin bernada sinis dan sok tahu. Tapi ini bentuk rasa sayang seorang dari kaum hawa terhadap kaum adam untuk bisa bersama menjaga kemuliaan diri. Menjaga mulai dari hal yang nampak sepele, tapi nyatanya cukup mengganggu bila terus dibiarkan. Yaa ikhwan saudaraku, tolong pengertiannya untuk melanjutkan membaca uneg2 hati ini.

Terlalu banyak peringatan-peringatan yang menyudutkan pelaku akhwat. Biar penulis lain yang membahasnya. Tapi untuk sang ikhwan, saya jarang mendegar mereka dipersalahkan juga. Bagaimanapun kejahatan terjadi bukan hanya karena niat, tapi juga ada KESEMPATAN! Kesempatan yang dibuat baik oleh si ikhwan maupun si akhwat. Maka, sesuai pesan Bang Napi: Waspadalah! n_n

Bukannya ga membolehkan SMS-an. Karena, insyaAllah, SMS adalah jalan pintas untuk menjawab masalah. Tapi masalah apa yang dibahas kemudian menjadi ciri penting atau tidaknya SMS itu sendiri.

Menurut saya definisi SMS yang penting adalah
SMS yang kontennya hanya tentang membahas atau mencari solusi masalah umat. Bukan masalah berdua. Bukan bersubjek AKU dan berobjek KAMU.

Peringatan buat ikhwan:
Yang saya tahu, ikhwan itu terkenal dengan potensi pikiran yang melebihi perasaannya. Tapi untuk kasus SMS antara ikhwan dengan akhwat, justru nampaknya sang ikhwan 'berlebih' kepekaan perasaannya. Makanya jadi kurang berpikir jauh resiko tindakannya yang satu ini. Agaknya sih. Bener atau ngga, masih butuh survei nih.

Ada beberapa kasus yang saya perhatikan dari beberapa teman, kakak2, adik2 dan literatur diantaranya:
Kasus 1
Tahu ngga, wan? (bukan bakwan lo, he3)
Saat SMS pertamamu berisi
"Afwan ana ganggu. Ada masalah ni ukh, tentang registrasi acara..bla2..."

terus sang akhwat akan membalas
"Ga ganggu kok. Masalah itu gini aja...bla2.."

karena merasa ga ganggu maka kamu melanjutkan SMSnya padahal masalahnya sudah selesai
"Lagi ngapain ni ukh? hebat ya, sudah mau ujian tapi sempet ngurus sedetil ini.."

Menurut pengamatan saya, akan ada beberapa respon:
1. Kalau akhwat itu baru pertama kali dapet pertanyaan ini dari ikhwan. Maka dia akan heran. Tapi dia akan tetap menjawab.
2. Kalau akhwat itu emang udah suka sama kamu, wan, maka durasi membalas SMSmu akan jauh lebih cepat. kurang dari 1 menit!
3. Kalau akhwat itu baru akan suka sama kamu, maka dia kan tetap menjawab. Seperlunya karena dia akhwat. Tapi tetap meninggalkan rasa penasaran. "Kirain ikhwn ini kaku banget.." terus dia akan menunggu sms berikutnya untuk ngetes, bener ga kamu itu emang orangnya ga kaku, baik hati (tapi kelewat baik), atau saat itu kamu lagi ERROR alias khilaf (karena apa-saya-ga-ngerti.)
4. Kalau dia akhwat cuek, ga merasa ini adalah salah satu tanda2 'penyimpangan', dia juga akan membalas. Karena bagaimanapun itu-adalah-sebuah-pertanyaan.
5. Kalau akhwat itu beneran akhwat yang tahu batas2 bergaul dengan ikhwan, maka dia akan menjawab. Tapi ini karena kasihan. Plus rasa dongkol n il-feel. SMSnya pasti agak lama. Mungkin bisa besoknya. Atau malah ga dijawab.

Dalam hatinya, "Yah maaf ajah ya, wan, agak sadis, tapi SMS kek ini udah banyak menuhin inbox aku. Maaf ye.. aduh jadi males.."
Dan kalau ada gantengmeter, charmingmeter, seganmeter, kagummeter, pokonya ikhwanmeter yang akhwat itu punya untuk kamu, pasti semua angkanya bakalan turun drastis gara2 SMSmu itu.
Dalam hatinya juga, "Maaf ye.. bukan maksud jahat, aku jutek itu demi kebaikanmu juga ko. Demi kemuliaan ukhuwah dan dakwah ini. Ngerti ya, wan. Jangan SMS gini lagi ya. Ga usah tanya2 tentang diriku. Okey."

Kasus ke-2 nih..
Tentang dirimu yang--oke, kamu ga nanya2 tentang pribadinya, kamu ga banyak tanya tentang aktivitas/ kesibukan dakwahnya (kalaupun ada bagimu itu cuma basa-basi)--tapi, kamu suka banget 'berbagi' tentang dirimu sendiri.

Agak rumit saya mau deskripsikan ini...
Tapi, wan, saya pengen tau nih, maksud kamu menceritakan semua ini pada akhwat? kalau mau sadis lagi, si akhwat bakal bilang ke kamu.
"Aduh, penting ya SMS ini."
Tapi tenang,wan, itu cuma besitan dalam hati.

Kamu jelasin deh hal yang satu ini..

Lanjut ke kasus ketiga ni, wan..
Kamu pinter banget ngejalanin keduanya..
Bertanya tentang si akhwat iya, cerita tentang diri sendiri juga, ditambah lagi bumbu2 penyedap yang bikin nempel kaya perangko. Tapi kini perangko itu berubah. Bagaikan ganja, wan. Akhwat itu tahu kalau ini 'hal yang aneh' dan ga ahsan, mendekati zina dan lagi sudah terlanjur lama hal ini terbina.

"Tapi kenapa ya ko jadi ngerasa tentram aja kalau kamu dah SMS. Ga bisa, wan, sehari aja ga ada SMS darimu. Aku tau kok, kamu sibuk dengan amanahmu yang selangit. aku tau kok kamu emang di "langit-langit', tapi aku pengen dapet SMS darimu."

Tak lain, tak bukan, ini adalah salah satu tanda ADICTED alias kecanduan!
Lalu apa yang akhwat itu lakukan?
Yah SMS ajah. Kan murah tuh. Lagian udah biasa.
"Lagi sibuk ya akhi, keep istiqamah ya!"

Doenk! (geleng2)
Btw, ikhwan, apa sih yang kamu rasa dan kamu pikir saat dapet SMS seperti itu?

Dan suatu hari, saat akhwat itu sedang bermuhasabah, dalam pikirannya ada kamu..
"Ikhwan nan sholeh, aku tahu keilmuanmu sungguh luar biasa. Kamu ikhwan teladan bagiku. Aku tahu kita sama2 paham dengan hal ini. Tapi, kenapa hal ini bisa terjadi? Cintakah? Sukakah? apa yang kau inginkan dari semua ini? Dibalik kerinduanku akan SMS darimu, aku tahu ini salah, tapi aku ragu ini maksiat, aku takut.. sebenarnnya aku takut, jika ini dapat mengotori dakwah ini. Mungkin selama aku merasa baik2 saja dengan amanahku, tapi aku tetap takut..Aku bingung,,"

Dan besok2nya, wan, akhwat itu akan lupa dengan pikirannya semalam. Dia baru saja dapet SMS darimu.
"Afwan ya baru bales. Kemarin ada *piiip*. Tetep istiqamah juga ukhti! miss u"

Nah lo? Ada ujungnya, sodara! Ini nih, apalagi yang bisa dibilang selain GENIT! Maksudnya apa coba, wan?

***
Eum, btw, saya kesel kalau inget fenomena-fenomena ini. Hal yang membuat seorang teman saya kehilangan mimpinya karena para ikhwan. Tapi bukan juga berarti pembelaan terhadap sang akhwat.
Seorang teman yang 'pergi' ketika saya 'datang'. Ah, banyak kata yang ingin saya sampaikan kepadanya. Banyak hal yang ingin saya dapatkan dari ilmu dan wawasannya. Namun kini, hal itu tak bisa terjadi nampaknya. Tertinggal menjadi harapan.

Bermula dari SMS, wan.



20 Mei 2009
Bersama sebuah titik yang akan berganti. Segera.

9 komentar:

cid said...

ckckckc...

ganas tan...!!! tapi tepat dan pas!! hahah...

indra permana said...

yaudah deh saya mah ga kan sms intan...
takut dianggap ga penting...
hahahaahha...

Intan said...

@Acid
Tenang cid, aq bukan singa. Terlalu emosi ya. Gara2 memori yang diparagraf terakhir.. maaf ya. Yang baik diambil, yang ngga lewat aja

@Indra
ya tergantung isinya ndra

nada ristya said...

haha setuju intan! ngabayangin intan yang ngomong gini..kebayang ekspresi intan..btw semangat soca y!! (kt semangat dr sesama akhwat hehe)

almahira said...

hm..
aku juga pernah gitu teh. parah banget malah,, kecanduan!
bodohnya ga cuma sekali. ha ha ha
tapi yaaa ga tau kenapa emang cuek kali yah, kalo akhwat lain mungkin ga kan kuat, tapi aku ga sampe suka suka banget sih. hihihi
tapi sekarang mah, ada sms nanya ga penting udah nyadar dan bilang: haduh! plis deh ini teh ga penting, kenapa mesti ditanyain.. trus balesnya ogah2an deh. ha ha ha (makin dewasa kan aku??? bletak!)

rima said...

bener bgt tu teh...
mending ga usah dibales aja kalo ada sms yg g penting mah..bodo amat dia mau mikir apa...hehe..terlalu kejam g y??

buat kasus yg pertama, kalo menurut aq mah justru karena si ikhwan itu teh ga punya kepekaan rasa yg cukup tinggi buat mengerti apa efek dari SMS2nya buat si akhwat yg nerima...
makanya bisa aja si ikhwan ngirim SMS ke akhwat tanpa maksud apa2, tapi karena kata2 SMSnya yg "aneh", bisa aja si akhwat malah jadi mensalahartikan...

intanrisna said...

@Nada, Alma, Rima
Wahwah.. senangnya dikunjungi sesepuh blog-er ^o^
Reaksi SMS dari ikhwan juga tergantung pribadi masing2 menurutq..
Akhwat yang melankolis beda dg yang plegmatis, yang koleris, sanguin..
Setiap orang punya 'benteng' sendiri untuk menjaga diri..

My Notes said...

jangan sms gx penting ... klo mau dateng temuin ortunya heheheheh

Donna Fitriana said...

gubrag -_-

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.