Sunday, May 10, 2009

Jangan Ciptakan Citra Negatif

بسم الله الرحمن الرحيم
Judul ini tidak lengkap sebenarnya. Judul aslinya "Jangan Ciptakan Citra Negatif pada Anak". Kenapa saya potong? Karena ternyata bila kita melihat dari perspektif lain, ada hikmah lain dibalik obrolan konsultasi dibawah ini. Yuk, disimak.

Dari Bpk M:
Ibu Tieneke yang baik, Saya pernah berkonsultasi
dengan Ibu dengan membawa anak saya yang baru kelas satu SD karena keluhan dari gurunya. Menurut gurunya, anak saya tidak mau menulis dan tidak mau menurut apa
yang dikatakan oleh gurunya. Kami, ayah dan ibunya, selalu berusaha menyampaikan kepada anak kami untuk menjadi anak yang penurut, dan kami selalu mengulang-ulangnya mengatakan bahwa dia tidak boleh jadi anak malas. Hal ini baru terjadi semenjak dia kelas satu. Waktu anak kami di TK, dia termasuk anak yang cerdas menurut gurunya.

Waktu konsultasi dengan Ibu Tieneke, anak kami langsung bercerita sebelum ditanya. Katanya, "Aku malas, aku tidak suka menulis, aku tidak suka menurut, karena aku sukanya hanya main saja". Lalu Ibu Tieneke mengatakan,"Hai Rei anak pintar, anak rajin, Rei suka menulis dan kalau guru mengajarkan sesuatu dan memberi tugas, Rei selalu mengerjakannya kan? Betul kan begitu? Wah guru Rei belum tahu barangkali. Begitu kan papa dan mama Rei? Rei suka menulis. Nah sekarang Rei coba deh menulis. Tulis nama sendiri, nama papa, mama, dan adik." Dia melakukannya dengan baik.

Lalu Ibu Tieneke meminta Rei menulis apa-apa yang Ibu Tieneke katakan.
Ternyata dia menulis semuanya dengan bagus dan cepat. Ia menulis dengan senang
hati, sambil Ibu Tieneke memberikan pujian dengan mengatakan,"Lihat deh
papa dan mama Rei, tulisan Rei bagus, cepat lagi nulisnya dan Rei sangat suka
menulis."
Rei kelihatan sangat senang, gembira dan bersemangat. Ibu
Tieneke mengatakan kalau besok ke sekolah Rei menghadap guru, katakan bahwa Rei sekarang sangat suka menulis dan mengerjakan apa yang disuruh guru.
Lalu Ibu Tieneke, semenjak itu dan keesokan harinya, Rei sudah mau ke sekolah. Rei mau menulis dan mengerjakan semua tugas yang diberikan. Saya mohon saran-saran agar Rei terus suka belajar dan bersemangat.


Jawaban Ibu Tieneke

Saya sangat bersyukur karena anak bapak sekarang sudah suka menulis dan menurut kepada gurunya. Karena guru dan orang tua Rei selalu mengatakan bahwa Rei tidak mau menulis, malas dan sukanya hanya bermain, maka kata-kata itu bagaikan sugesti baginya. Dia juga mengingat-ingat dan mengulang-ulangnya, hingga masuk ke jiwanya. Sugesti itu membentuk konsep dirinya bahwa dia tidak mau menulis, malas, dan tidak disiplin. Anak menganggap bahwa apa yang dikatakan oleh orang tua dan gurunya hal yang adalah benar. Maka dari bawah sadarnya dia menganggap dirinya tidak mau menulis dan malas, maka ya tidak menulis sajalah. Saya tidak mau karena saya anak malas dan tidak patuh. Begitulah menurutnya.

Nah, waktu konsultasi itu, saya berusaha mengubah konsep dirinya dengan mengatakan bahwa dia anak rajin, sangat suka menulis, dan sangat senang belajar. Rei diberikan penghargaan. Sebetulnya pada dasarnya saya melihat bahwa Rei adalah anak yang cerdas. Karena dia diberikan penghargaan, maka timbul lagi rasa percaya dirinya dan merasa bahwa dia memang anak yang cerdas dan bersemangat untuk belajar.

Bapak M saya anjurkan janganlah mengatakan pada anak-anak bahwa dia nakal, malas, bodoh, atau tidak ganteng. Pokoknya sesuatu yang negatif. Perkataan-perkataan itu akan membekas pada dirinya dan membentuk konsep diri. Lagipula apa yang kita ucapkan sebetulnya adalah doa. Semoga tetap berhasil. Konsep diri memang sangat penting. Wassalam

Dicukil dari Majalah Dokter Kita. Edisi Mei 2009. Rubrik Konsultasi asuhan Dra. Tieneke Syaraswati A, S.Psi, S.Ed, M.FII, A.Andr.


Jangan Ciptakan Citra Negatif. Dalam dunia Public Relation dan Networking tentu saja hal ini sangat penting. Berangkat dari pencitraan terhadap diri sendiri, lalu timbul pencitraan terhadap orang lain, kelompok, masyarakat, lingkungan dan objek lainnya. Kalau dari awal saja seseorang bilang, "Ah saya kan bodoh, ga bakat,,,ya ga bisalah. Nanti malah bikin kacau lagi", lalu bagaimana bisa dia membuat orang lain berubah dan besemangat?

Dalam jenjang organisasi, penting sekali membudayakan kata-kata positif. Apalagi untuk saudaraku yang notabene para aktivis disana-sini, harus lihai menyemangati staf-stafnya agar istiqamah dengan amanahnya.

Soal konsep diri, tidak perlu ragu lagi. Tapi bagaimana cara mengonsep orang lain yang perlu ditanyakan. Masalahnya adalah tidak sedikit saya membaca, melihat, dan mendengar pemimpin dari jaman saya SMA sampai sekarang, yang saenake dewe menilai stafnya. Memarahi tanpa alasan, menggertak (apalagi pas OSPEK SMA), menghina, merendahkan, dsb.

Seperti kisah diatas, paparan kata-kata negatif akan membuat seseorang menilai dirinya negatif. Parahnya kemudian, hal itu akan mempengaruhi produktivitas seseorang. Alhamdulillah kalau makin produktif. Nah, kalau sebaliknya? Biasanya, kata teman saya, kalaupun produktivitasnya meningkat, bekas 'luka' itu tidak akan pernah hilang.

Hal yang paling menginspirasi saya adalah betapa pentingnya sebuah kata yang kita ucapkan bagi orang lain. Sedikit atau banyak kata-kata itu bisa membentuk konsep diri seseorang dan citra kita dihadapan orang itu.

Ada satu hal lagi, kalimat terakhir bu Tieneke 'Lagipula apa yang kita ucapkan sebetulnya adalah doa' mengingatkan saya sesuatu. Pernah suatu hari saya berjalan di pinggiran jalan beraspal dengan seorang akhwat, kakak kelas. Tepi jalan itu adalah jurang. Sebelum sampai di tikungan, terlihat pinggir jalan itu berbekas hancur yang lumayan lebar. Lalu saya nyeletuk, "Wah teteh, kayaknya bentar lagi jalannya mau hancur."
Sang Teteh berkata,"Hati-hati, jangan bilang gitu, Tan. Sebagian kata-kata itu adalah do'a lho."
Waa, ajleb. Astagfirullah. Na'udzubillahimindzalik. Padahal kan saya tidak bermaksud begitu.Pokoknya, setelah saat itu saya tidak berani dan berusaha tidak berkata-kata & membuat kesimpulan negatif. Dan sejak saat itu juga saya paling malas mendengar orang-orang yang berkata negatif terhadap dirinya sendiri, orang lain dan sekitarnya.

Semoga bermanfaat!

1 komentar:

Art said...

that's why I really disagree with OSPEK..lebih-lebih saya kuliah di ITS (dan sebagian besar kampus lainnya) yang menerapkan metode OSPEK ala Sosialisme-Komunisme...

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.