Saturday, November 27, 2010

Antara Mimpi & Kenyataan; Masih Ragu Jadi Dokter?

بسم الله الرحمن الرحيم
Dulu waktu kecil dan masih imoodh, baru lahir sudah di inkubator. Setelah tanya sana tanya sini kenapa saya bisa begitu malang, akhirnya saya simpulkan: asfiksi neonatorum. Ini kali pertama sejak bernafas udara bebas, saya dirawat inap. Perkenalan pertama pada Rumah Sakit.
"Mbak, nanti kalau dah besar jadi dokter ya", pinta mama lembut. Saya: "???"
Dari garis keturunan manapun, belum ada keluarga saya yang kuliah di FK. Keseriusan mama nampaknya sudah ada sejak meng-copas nama dokter kandungan menjadi nama tengah saya. Mungkin, kalau saat itu saya sudah mengerti, saya akan jawab:
"Intan istikharah dulu ya, ma".
Hyaaaaa..berasa ditawarin apa, tapi malah bengong yg ada..heu..

Besar dikit kena infeksi, lalu rajin pergi ke dokter dan minum obat. Aa-oow dokter, senang bertemu denganmu lagi! *walau dengan berat hati diperiksa dan terpaksa menelan pulvus-pulvus pahit itu*. Rajin kontrol sampai akhirnya saya ditolak:
"Intan sudah besar, bukan anak-anak lagi. Nanti kalau sakit ke dokter umum aja ya", usul dr.N, Sp.A. yang sekarang konsulen di RSHS. Semoga saya bisa bertemu dengan dokter lagi di bag.Anak :)

Masih di klinik langganan keluarga saya. Suatu ketika dr.N tidak ada, saya direfer ke THT.
Tok-tok-tok.
Di dalam sudah menanti dr.B, Sp.THT-KL.
"Ah, ini mah ga apa2, bu", jelas dr.B ramah sambil menyoret2 kertas resep. *Nulis resep tentunya, masak menggambar kartun :p*.
"Intan, dilanjutkan ya obatnya", lanjut dr.B.
DUABELAS TAHUN kemudian, saya saya duduk berhadapan dengan beliau saat pembekalan koas.

EMPATPULUH DELAPAN JAM berikutnya, saya menghadiri acara yang sama di Padang, lalu sepesawat pulang Padang-Jakarta. Sesaat sebelum duduk, saya hampiri beliau, menyalaminya:
"Dokter.."
"Siapa kamu?!"  
JDEER! Yah, pura-pura galak nih, tapi raut wajahnya nampak sebaliknya.
Tetap dengan tampang nyengir,
"Murid baru, dok", jawab saya. Dr.B senyum.
Padahal saya pengen bilang saya mantan pasiennya. Beda dengan dr.A,Sp.S, salah satu penguji skripsi saya yang duduk di samping dr.B. Beliau senyum sejak saya mampir. Saya sapa juga tentunya.
Tidak sampai disitu, dari Bandara sudah ada yang menjemput rombongan kami, 4 dokter dan 2 koas FK Unpad, menuju Bandung. Jadi, semobil :)

Kelas 1 SMA, bukom (buku komunikasi) geng-gong kini ditangan saya. Tema kali ini adalah: Jurusan Kuliah.
Cepat saya tulis: Arsitek.
Kelas 3 SMA
Tryout pilihan 1: haduuuh, isi apa ya.. pilihan 2: apa yaaah...
entah siapa yang menggerakan tangan saya untuk memilih kode: 260143
Gagal TO 1, berhasil di TO berikutnya, gagal lagi, berhasil lagi.. tp perasaan banyak gagalnya..hoho..
Sampai akhirnya mengisi form SPMB saya merenung:
Bener nih ngambil FK Unpad? Atau Plano ITB sesuai salah satu saran jurusan di psikotest?
ITB..univ impian saya, kawan. Di SMA, saya terlalu sering di"cuci otak" untuk cenderung masuk ITB :)
Tapi, kini, pada saatnya saya harus memilih, kenapa saya cenderung memilih yang pertama?
Padahal, orang tua sudah membebaskan saya memilih jurusan apa.

Tahun 1, Labkom FK Unpad.
Wah, ada milist FK Unpad...*terpukau mode:on
Ada dokter X, dokter X', dokter X" dan dokter2 lain yang sering mereply, kadang memposting. Saya? pembaca setia diskusi mereka sampai saat ini..haha..
Salah seorang dokter itu, suatu hari bertemu dan berkenalan di lorong SMA.
Beberapa di antaranya yang mencantumkan/ dicantumkan nomor kontaknya saya catat.
Yah, siapa tahu nanti ketemu & ada yang perlu..

Pra-Koas, @Eyckman.
"...kalau kalian masih tidak ingin menjadi dokter setelah 4 tahun kalian jalani, maka sekarang adalah point of no return..kalian sudah tidak bisa pindah jurusan..", kata-kata pak Dekan sungguh mencekam. Mengendurkan niat menjadi dokter saja sia-sia, apalagi mengundurkan diri? Mau jadi S.Ked doang? Ada yg mau?

Jaga THT, @ruang conference
"Eh, ada yang punya nomernya dr.X?" tanya chief sebelumnya mau lapor.
"Ada...", jawab saya yang bukan chief setelahnya. Sambil heran kenapa yg lain ga ada yg punya sih.
"Kok punya?"
"Dah ada sejak beberapa tahun yg lalu di HP, eh, tapi ga tau ya, sekarang nomernya ganti atau ngga.", sahut saya.
"???? Hayoo Intan...", usil mereka.
"Ga kenal juga, belum pernah ketemu sebelumnya"
Tuh, kan bener.. akhirnya ada yang perlu..

Sekarang @Rumah
Masih ragu menjadi dokter?

2 komentar:

dr Oen said...

jangan ragu... maju terus. udah di track yg benar ko...

Intan said...

doanya, dok..
masih nyari feelnya :)

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.