Wednesday, September 14, 2011

Jilbab, Bukti Kemenangan

بسم الله الرحمن الرحيم
"Jilbab bukan satu-satunya indikator kecantikan seorang wanita," kata dr.Mughni mengawali satu tulisannya pada Blue Surgeon,"akan tetapi gambaran ketundukan dia kepada Allah swt. Bukti kemenangan wanita terhadap dirinya sendiri!"

Saya suka kisah beliau di penggalan ini. Kisah tentang istri beliau yang setiap hari terdiskriminasi saat masa sekolahnya dulu (tahun 80-90an). Tentang bagaimana guru-gurunya 'mengusirnya' dari kelas karena keukeuh berjilbab untuk semua mata pelajaran. Bahkan pelajaran agama sekalipun beliau diusir karena berjilbab! Sampai-sampai kisah itu disajikan di media masa. Miris. Bukan tentang diskriminasinya yang saya suka, tapi kegigihan beliau mempertahankan prinsipnya. Satu-satunya akhwat di sekolah itu yang tetap bertahan sementara dua yang lain memilih untuk pindah sekolah! Bertahan dan berprestasi. Dan sekarang beliau jadi internist di perguruan tinggi yang sama dengan suaminya. Subhanallah, luar biasa!


Membaca kisahnya, emosi saya turun naik. Gimana nggak, kalau tentang diskriminasi saya pun pernah merasakan hal yang sama. Mungkin kisah saya tak sepedih beliau. Tapi saya cukup pedih diperlakukan seperti tidak pantas menjadi manusia selama berhari-hari. Lo gak akan maju kalau pake jilbab! Gak akan ada yang mau! dan kalimat-kalimat depresif lainnya. Rasanya pedih dan terasing. Huaaa.. pengen nangis, dan tangis itu pecah pada akhirnya.

Perasaan ingin berjilbab itu datang tiba-tiba saja, kawan. Mungkin itu yang dinamakan hidayah. Hidayah yang kemudian membuat hati saya berdesir, takut-takut bila kematian menjemput kapan saja namun aurat saya belum tertutup sempurna. Apa kata Allah nanti? Setiap detik terus berpikir, terus berencana; pokoknya harus. Tapi, saya juga takut dengan anggapan manusia bahwa saya akan 'dibuang' dan 'terusir' dari peradaban. Namun, siapa yang harus saya takuti sebenarnya?

Biarlah saya menerima takdir-takdir setelahnya. Bismillahi tawakaltu alallah. Ternyata memang saya harus berperang dengan pembuangan dan keterasingan. Hiks hiks. Benar-benar sendiri. Tapi saya bertekad untuk menang.

Bertahun-tahun kemudian, saya baru menikmati rencana Allah. Kalau istri dr.Mughni menjadi dokter, saya juga insyaAllah. Kalau beliau mengambil spesialis, saya juga akan insyaAllah. Kemudahan dalam ujian lainnya, kebaikan dari lingkungan, dukungan dari dunia..(semakin lama semakin banyak yang mengenakan jilbab dari semua 'strata' perempuan) dan lainnya. Gugur semua prasangka depresif yang dikutukan kepada saya dulu. Perlahan tapi pasti, kebaikan-kebaikan dari Allah berdatangan. Ya, hanya Allah Pemberi Pembalasan terbaik bagi hamba-hambaNya. Alhamdulillah.

Ini kisahku, ini ujian pertama terberatku. Jika engkau merasakan betapa sulitnya mengenakan jilbab, mungkin engkau akan lebih sulit untuk melepaskannya. Berbahagialah saudariku yg mendapati kemudahan sejak awal mengenakannya. Semoga kita bisa istiqomah menjaganya. Hidayah ini terlalu mahal untuk digadaikan.

0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.