Friday, March 26, 2010

Karakter Akhwat?

بسم الله الرحمن الرحيم

Foto: 3 IPA 7 SMA 3 Bandung 2005/2006,
Lokasi: Jln Braga Bandung

Awal tahun 2004...

"Intan, nda boleh jutek", kata sahabat saya pelan.
"Ngga, kok", sanggah saya.
"Itu kalau ada yang tanya2, jawabnya jangan singkat begitu. Ke cewek aja jutek begitu apalagi ke cowok?!"
"Ya, emang segitu jawabannya, kan"
"Tambahin lagi, apa kek", timpalnya.

"Tan, mata kamu!"
"Kenapa?"
"Tajem banget sih"
"Emang pisau?", saya makin menatapnya.
"Jangan gitu ngeliatnya, bikin takut orang"

"Ntanchu, senyum!". Yang diminta nyengir.
"Banyakin ya. Senyum bagi saudaramu itu sedekah"

"Intan.."
"Intan.."
"Intan.."


Bukannya bermaksud bersikap seperti itu.
Saya cuma ga bisa menyampaikan dengan baik perasaan dan pikiran saya (padahal ke perempuan loh)

Lalu bertahun-tahun kemudian, di penghujung tahun 2009..

"Intannnn!", sapa seorang ikhwan, agak tinggi nadanya.
"Kenapa?", kepala saya kontan mendongak bersama seluruh badan saya.
"Kamu kok makin hedon sih?!"
BLETAK! Astagfirullahal 'adzim. Tapi terdakwa cuma nyengir saja. Lebay dia. v(^.^)
Punya teman dari segala kalangan terus disebut hedon ya?


Jadi rindu masa-masa di Belitung 8. Tempat saya banyak belajar tentang arti pertemanan, cinta, pengorbanan (tadhiyah) dan pembinaan (tarbiyah). Tempat saya masih berseragam putih abu-abu dengan jilbab ala kadarnya..

Berbicara tentang karakter, dulu saya sempat bimbang. Maklum, baru awal-awal berhijab. Pikiran perempuan yg belum berhijab atau baru berhijab biasanya tidak jauh-jauh dari perubahan sikap. Berhijrah dari yg suka bergaul dengan semua gender, berikhtilat, teriak-teriak, pegang sana pegang sini, peluk sana peluk sini atau bahkan pergi ke diskotik(semua ini bukan saya, suer) ke sikap yg islami dan nyunnah itu bukan perkara mudah. Yang paling jelas menjadi momok pagi perempuan untuk menunda menghijab diri adalah ketidaksiapannya membatasi diri.

Heyyy, memang memakai jilbab dan baju panjang itu seribet apa sih? memang iya jadi terbatasi? Terbatasi apanya?

Kembali ke karakter diri --kita kesampingkan dulu tentang penting dan mulianya hijab--, mentoring mengantarkan saya pada kata akhawat. Sikap akhwat itu seperti ini dan seperti ini, kata teteh mentor saya dan dari buku-buku. Seperti apa itu? Beberapa diantaranya:
1. Lemah lembut
2. Bertutur kata yang baik
3. Menundukan pandangan
4. Tidak bercampur-baur (ikhtilat) dengan lawan jenis
5. Pengetahuan agamanya luas
6. Berbicara seperlunya
dan lain sebagainya pokoknya komplettt deh. Jadilah spesifikasi akhwat dikepala saya itu: HARUS BEGITU. Susah bener pikir saya. Lalu saya konfirmasi ke ikhwan: Apa bedanya akhwat dan bukan akhwat? Jelas sekali, apa yg mereka pikirkan pun sama. Mereka semua sudah punya stereotipe akhwat itu HARUS SEPERTI APA dan HARUS BERSIKAP BAGAIMANA.

Padahal tidak semua orang bisa bersikap FLAT A seperti itu. Maksud saya, kalau akhwat itu harus menjadi A maka semua tidak harus seperti A. Bukan All-or-none hukumnya, kalau iya, sedikit saja sang akhwat tidak bersikap "akhwat" maka luruh lah predikat akhwatnya. MasyaAllah, apakah seperti itu mindset yg kita punya?

Menjadi seorang akhwat bukan berarti menjadi ORANG LAIN. Toh, sebenarnya koridor akhlaq sudah jelas diatur sedemikian sempurna oleh Islam bukan oleh manusia. Teladan akhlaq yg paling mulia ada pada idola semua idola: Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam. Bagi perempuan masih ada lho teladan buat kita, se-gender pula. Siapa? Istri-istri Rasulullah.

Ya, para ibu orang-orang mukmin (ummahatul mu'minin) *berapa hayo jumlahnya?* bagi saya membawa hikmah tersendiri. Mereka semua punya kepribadian berbeda. Ibunda Kahadijah yang sangat dewasa dengan pengorbanannya, Ibunda Hafsah yang tegas dan agak tomboy, Ibunda Aisyah yang manja dan kekanakan, dan Ibunda lain yang juga memiliki karakter yg khas. Mereka punya karakter yg diunggulkan tanpa meninggalkan tuntunan suami tercintanya.

Jadi, kalau kamu akhwat dan merasa bimbang harus jadi seperti apa, saya hanya punya satu jawaban: Jadilah diri sendiri. Tuntunan Allah dan Rasul-Nya tentu tidak ditinggalkan. Aturan Islam sudah jelas, pelajari saja perlahan, dan mulai mencontoh sikap Istri2 Rasulullah, Sahabat, dan wanita2 yg berakhlaq Islam lainnya. Mereka masing-masing saja punya kepribadian yang berbeda, lalu kenapa kamu tidak bisa menjadi akhwat yang berbeda?


Suatu hari di Belitung no 8
18 Februari 2010


0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.