Sunday, January 30, 2011

Maafin Mama Ya, Nak

بسم الله الرحمن الرحيم
Hati-hati membeli obat tetes mata!
Siang itu adalah jadwal terakhirku stase poliklinik di Rumah Sakit Mata Cicendo. Aku perhatikan jam tanganku. Detiknya masih teratur, tidak seperti detak jantungku. Aah, apakah ini hanya perasaanku saja. Aku terlalu terbayangi sepasang mata ibu paruh baya yang memerah itu.


Dengan langkah sedikit cepat aku dan kedua temanku berjalan menyusuri koridor menuju Poli PO (Pediatric Opthalmology) untuk kedua kalinya. Tujuan kami hanya satu; mencari kasus khusus untuk dipresentasikan saat preceptoran besok pagi. Sesampainya di sana, bangku-bangku tempat tunggu pasien sudah tidak terisi sama sekali. Poli sepi, bahkan petugas administrasi pun sudah tidak ada. Bersyukur masih ada seorang residen yang tengah membereskan barang-barangnya.
 
“Sedang cari apa, dik?”
“Pasiennya sudah habis, dok?” Bukannya menjawab pertanyaan aku malah bertanya balik, khawatir. Residen itu tersenyum mengangguk paham. Aku melirik kedua temanku. Wajah kami sama-sama kecut gagal mendapati pasien yang kami maksud untuk dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik ulang.
“Kalian terlambat. Tadi saya yang periksa pasien itu. Coba lihat statusnya saja di meja depan mungkin masih ada,” ujarnya memberi saran. Tanpa komando kami berbagi tugas. Satu orang menanyai residen tersebut tentang keadaan klinis pasien. Aku dan temanku yang lainnya menuju meja penyimpanan rekam medik. 
“Retinoblastoma...retinoblastoma..”, gumam Dita sembari membuka dan membaca cepat dokumen-dokumen rahasia itu satu persatu. Sambil terus mencari nama pasien yang tertulis besar di map biru itu, pikiranku teralihkan mencari rekam medik pasien lain. Siapa tahu ada, harapku cemas.
“Dit, kalau ada yang namanya Rifki kasih tahu aku ya,” pesanku pelan tanpa memindahkan pandanganku pada map-map yang semakin tersingkirkan. Tidak sampai semenit, Dita memberikan sebuah map biru lusuh dan tebal. Aku terhenyak membaca catatan medisnya.
“MasyaAllah..ternyata..”
***
Pagi yang cerah dan udara yang segar menyemangatiku beraktivitas. Minggu ini giliran kelompokku stase di poli PO. Aku rapikan jas putihku yang panjangnya hampir sebatas lutut, lalu berjalan melewati antrian orang tua bersama anaknya menuju ruangan di ujung koridor.
Ada dua meja dokter dan satu meja pemeriksaan dengan slit lamp di ruangan ceria itu. Bagaimana tidak, dindingnya penuh dengan warna berhias bunga matahari dan lukisan bermacam binatang. Bukan tanpa tujuan ternyata gambar-gambar itu dimaksudkan untuk memfokuskan pandangan pasien yang diperiksa nantinya.
“Coba, Rifki, lihat bunga mataharinya ya”. Mata yang dipanggil namanya itu bergerak ke gambar kuning di belakang kepala dokter. Kemudian sinar-sinar dari penlight bergantian mengenai mata kiri dan kanannya. Aku beranjak dari kursi, lalu berdiri bersisian dengan residen untuk melihat respon pupil Rifki.
***
Ya, namanya Rifki—aku tahu itu dari rekam medis tebal dan lusuh yang terbuka di depanku sesaat sebelum Rifki datang. Hari ini jadwalnya kontrol kesehatan kedua matanya karena mengidap glaukoma. Laki-laki mungil gempal berkulit sawo matang itu membuatku gemas karena pipinya yang gembul. Di usianya belum genap sepuluh tahun Rifki sudah berkacamata tebal. Tidak seperti pasien berkacamata sebelumnya yang ceria walaupun dengan minus jauh lebih besar, Rifki terkesan pendiam dan memilih untuk menjawab ala kadarnya saat aku dan residen tanya tentang kondisinya. Tentu saja, dari ibu yang bersamanya dari tadi kami dapat informasi lebih lengkap.
“Obatnya masih ada, bu?”
“Habis kemarin malam, dokter..” jawab sang ibu dengan nada menggantung. Dokter mengangguk.
“Dok, mata kanan anak saya kok merah terus ya sejak dioperasi? padahal sudah rajin diberi obat”
Jari telunjuk dan ibu jari kiri dokter membuka mata Rifki lebih lebar, lalu menyinarinya bergantian kiri dan kanan. Hmm, dari tempatku duduk terlihat adanya injeksi (pembuluh-pembuluh darah yang melebar) pada kedua skleranya, tapi yang kanan memang tampak lebih merah. Kuperhatikan lagi mata kirinya. Lho, ada pseudophakianya? Pernah operasi katarak juga?


“Selain itu ada keluhan apa lagi, bu?”
“Gatal, katanya,dok”
Selagi dokter itu melakukan pemeriksaan, aku balikan lembar rekam medik Rifki. Semuda itu sudah mengidap glaukoma dan katarak, kenapa?
Selembar demi selembar kubaca flashback dari tanggal kontrol terakhir. Jariku ikut mencari diagnosis lengkap penyakit Rifki. Post trabekulektomi OD + Pseudophakia OS, beberapa minggu lalu. Benar saja pseudophakia. Tapi, pertanyaanku belum tuntas terjawab. Aku balikan lagi lembar-lembar sebelumnya..tiba-tiba..
“Dik, pinjam rekam mediknya sebentar.” Belum sampai jariku membalik lembar pertama, rekam medik itu harus kuserahkan kembali kepada dokter. Aaaah...ya sudah, manfaatkan waktu bertanya kepada ibu Rifki.
“Ibu, boleh tanya, dulu waktu pertama kali kesini keluhannya Rifki apa ya?”
“Dulu kedua matanya merah dan penglihatannya tidak jelas, dok. Kayak melihat di dalam terowongan yang sempit, katanya, yang kiri yang lebih parah.”
“Kalau melihat cahaya terasa silau dan tampak pelangi?”
“Iya, dok, sudah dioperasi tapi masih merah begini. Ohya yang kiri juga pernah dioperasi, ada katarak waktu itu.”
“Kalau sekarang setelah dioperasi, penglihatan Rifki bagaimana, bu?”
“Makin kesini terowongannya makin sempit, dok..”, jawab ibu lirih. Tangannya menggenggam erat bahu Rifki, “...di sekolah juga jadi malas belajar, susah membaca katanya..”
“Dok..”
“Iya, bu?” sahutku.
“Mata anak saya bisa kembali normal? Tidak akan jadi buta,kan?” 
Dheg. Aku terkesiap. Kedua mata ibu itu menatapku, memerah. Ada sebutir air disudut-sudut matanya yang siap jatuh. Tapi aku segera tersadar, ibu itu tentu sudah sering mendapat penjelasan mengenai resiko penyakit yang diderita anaknya. Glaukoma dan kebutaan seperti magnet, yang satu mendekati yang lain.
“Ibu...”, jawab dokter disebelahku, “Ibu sudah tahu, kan, kalau anak ibu itu terkena glaukoma. Penglihatan yang sudah hilang pada pasien glaukoma tidak bisa dikembalikan lagi, tapi kebutaannya bisa dicegah kalau diobati secara teratur. InsyaAllah. Sekarang, kita berusaha agar kondisi mata Rifki tidak bertambah buruk, ya.”
Aku menunduk, tidak berani melihat raut wajah sang ibu. Bulir air mata itu kini jatuh di punggung tangan Rifki. Lalu Rifki didekapnya.
Maafin mama ya, nak...” Rifki menunduk. Hening.
Getaran hape disaku jasku membuyarkan emosiku. Panggilan preceptoran mengharuskanku meninggalkan poli. Aku segera pamit bersama tanda tanya besar memantul-mantul dalam benak.
***
“Taaan, nih rekam medisnya Rifki”, kata Dita.
“Pasien yang ibunya menangis dan minta maaf ke anaknya sendiri itu ya?” Aku mengangguk. Tanganku langsung membuka lembaran putih itu.
 “Tahun 2006. Rifki, laki-laki berusia 6 tahun... keluhan mata buram seperti melihat dalam terowongan...”
“....Setahun yang lalu pasien pernah menderita mata merah berair disertai gatal. Orang tuanya membawanya ke dokter dan diberi obat tetes mata selama seminggu lalu keluhannya membaik. Beberapa waktu kemudian pasien mengeluhkan hal yang sama....”
“....ibu pasien membeli obat seperti yang diresepkan dokter dulu dan menggunakannya setiap pasien mengeluh selama setahun..”


“Ya Allah, setahun, Dit...glaukoma sekunder karena penggunaan steroid jangka panjang, steroid-induced glaucoma.. ” Aku tertegun membaca diagnosisnya. Pseudophakia itu akibat katarak sekunder karena glaukoma. Pilu. Sungguh, ibu mana yang mau anaknya celaka karena tangannya sendiri. Ibu mana yang sanggup melihat anaknya tercuri penglihatannya secara perlahan. Salahkah sang ibu yang ingin meredakan sakit anaknya dengan membeli ulang obat yang diresepkan dokter? Ataukah ini kesalahan dokter yang lupa menjelaskan pada ibu untuk tidak membeli obat itu tanpa resep? Tentang efek sampingnya yang tidak ringan bila digunakan dalam jangka waktu lama tanpa sepengetahuan dokter?
Ya Rahiim, betapa berat ujian Rifki dan ibunya. Entah kapan aku bisa bertemu mereka lagi. Entah apa yang bisa kuperbuat untuk membantu meringankan beban mereka bila Allah menghendaki pertemuan itu. Kini, kuhanya sanggup melantunkan doa.
***

*Diangkat dari kisah nyata dengan edit seperlunya.
15 minggu setelah stase Bagian Ilmu Kesehatan Mata di Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung.



Keterangan:
OD = Oculi Dextra
OS = Oculi Sinistra
Pseudophakia =  Kondisi dimana lensa mata diganti dengan lensa sintesis (co: dengan IOL pada operasi katarak)
Glaukoma = Neuropati optik yang ditandai dengan penggaungan (cupping) diskus optikus, penurunan lapang pandang yang spesifik dan peningkatan tekanan intraokular (TIO).


0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.