Friday, November 5, 2010

Padang Bulan

بسم الله الرحمن الرحيم
http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/2010/07/cover-padang-bulan.jpg

Padang Bulan. Sekilas membaca judul novel terbaru Andrea Hirata, sebait lagu berirama dalam ingatan saya..

Yo ‘pra kanca dolanan ing jaba
padhang wulan padhange kaya rina
Rembulane e sing awe-awe
ngelingake aja padha turu sore


Sebait lagu itu berasal dari Jawa yang dinyanyikan oleh sekelompok anak kecil. Bukan, bukan Trio Kwek-Kwek :p
Dulu, sering sekali saya mendengarnya. Iramanya riang, liriknya juga bagus, jadi bikin hati senang :)

Kembali ke novel tersebut. Padang Bulan bisa bermakna dua:
1. Ada tempat yg luas (padang) bernama Bulan
2. Bulan yang terang (padang = terang)
Nah, berhubung pilihan kedua membuat struktur kata menjadi aneh-- kalau mau jadi bahasa Jawa kan seharusnya Padang Wulan seperti lagu diatas, maka yang pertama menjadi pilihan.
*Sibuk ngartiin judul.. ampun..*

Tapi memang benar, sih.. Padang Bulan yang dimaksud memang nama tempat di Belitong. Di novel pamungkas tetralogi Laskar Pelangi, nama Padang Bulan sempat disebut-sebut. Ada Ikal dan A Ling di tempat itu, juga ada taman ria di sana. Berhubung di postingan saya tentang Maryamah Karpov sudah disinggung tentang ending kisah Ikal yang menggantung--atau digantung, entahlah-- ternyata jawabannya ada di Padang Bulan. Kisah Ikal belum selesai kawan. Novel ini menjadi yang kelima. Dan berhubung novel ini adalah dwilogi, jadi predikat tetralogi sebaiknya ditanggalkan menjadi heksalogi *widiih, panjang bener yak.

Kalau dulu di novel2 sebelumnya begitu booming karena mengungkit moral, perjuangan seorang guru, kegigihan menggapai mimpi, dan petualangan, di Padang Bulan kita akan temukan kisah cinta.. aih, kecewa saya dibuatnya.. kenapa lagi-lagi harus membahas cinta.. Tapi ada satu kalimat yang saya suka pada halaman 105:
Aku kesulitan bernapas karena diterpa sebuah pesona.
Itu ungkapan hati Ikal terhadap saingannya; lelaki tampan bukan buatan, wajahnya bercahaya, keningnya bagus, matanya teduh. *Coba kl ada kata SHOLEH, heheh* Lelaki yang membuat A Ling berpaling darinya, pikir Ikal cemburu berat. Yeah, cemburu memang omnivora. Dia bisa memakan (juga memuntahkan) segala hal; penderitaan, kesedihan, merana, atau malah terpana. Yang terakhir memang agak musykil, tapi Ikal bisa begitu.

Dibaca berulang kali, saya tetap suka dengan kalimat itu. Begitu dahsyatnya sebuah pesona hingga bisa membuat seseorang dyspneu--even only in seconds?

0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.