Saturday, April 16, 2011

Curhat Koas#2: yang pertama, yang berbeda

بسم الله الرحمن الرحيم
Ada hal-hal menarik ketika kita memasuki dunia baru. Dunia yang samar terbayang dalam pikiran kita. Sesuatu yang selama ini hanya kita dengar, tapi kita tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi di dunia itu. Sebut saja dunia perkoasan. Disamping agenda-agenda "ekslusif" yang kadang rame, seru, kadang bikin stress, kadang jenuh, kadang capek, kadang pusing, kadang serasa TTIK (tekanan tinggi intrakranial a.k.a increased ICP kalau bahasa tutorial dulu, heu), ada juga lhoo hal2 yang menarik perhatian. Menariknya karena hal itu baru pertama kali kita tahu, pertama kali kita lihat, pertama kali kita terlibat. Semua yang pertama dan berbeda dari yang lainnya seringnya menjadi yang tak terlupakan.


#1 "Bolos" hari pertama koas
Dilema tentang menghadapi salah satu hari terpenting dalam hidup saya sudah dibahas ditulisan dulu. Kalau yang lain mungkin lagi nervous-nervousnya menghadapi hari Senin. Kalau dalam pikiran saya: blank (baca: masih belum terbayang kegiatan di RS ngapain aja). Maka semua pasti mempersiapkan segala yang terbaik untuk menghadapi segala kemungkinan. Kemungkinan diapain ya..he3
"Hari pertama biasanya pengayaan dari bagian, tan. Ada orientasi terus perkenalan/ ketemuan sama preceptor, sama LO", kata salah seorang senior
"Ada preceptoran teh? Dah ada tugas? Kalau ga masuk gimana?",
cecar saya khawatir dengan hari pertama di Bagian Mata yang cuma 3 minggu.

Setelah diskusi cukup panjang, setelah saya pikir aman untuk pergi, maka saya putuskan untuk "bolos"! (sebelum surat tugas keburu dibuat & tiket keburu dibeli). Saya terima segala risiko demi datang Simposium di Padang. Kapan lagi bisa ke Padang, datang ke acara penting yang dihadiri orang-orang penting dan dibayari (lagi) oleh Fakultas pula. Mana mepet bikin motivation letternya ;p

Alhamdulillah, kepergian saya tidak sia-sia. Yang menarik, ternyata saya pulang pergi dengan para petinggi di bagian masing-masing. Petinggi dari bagian THT, bagian Saraf, bagian Jiwa, dan bagian Anak (ini saya baru tahu pas koas). Bisa ngobrol ini itu. Terus, waktu selesai salah satu sesi, Pak Dekan menghampiri tempat duduk kami (saya & senior). Beliau menghampiri dan menyapa. Uoo... sempat-sempatnya beliau turun panggung dan berjalan ke barisan mahasiswa. Mahasiswa lain bagaimana ya.. FYI, barisan kami itu di kiri belakang. Kiri depan, kanan depan dan kanan belakang itu dosen (dokter) semua.Tapi yang membuat saya agak menyesal, saya melewatkan sesi foto bersama dan tanda tangan mereka. hhhh...*plis deh intaaan.

Akhirnya, setelah melewati bagian minor pertama, saya tidak menyesal sama sekali karena "bolos" waktu itu. Dapat ilmu baru, kenalan baru, makan makanan baru, menginap di hotel baru, mendarat di bandara baru, dll.. hehe. Lagipula, jatah izin-nya 2 hari. Kalau memang kepepet banget harus izin, bisa digunakan jatahnya. Tidak mempengaruhi nilai akhir, kok. Asal jangan izin pas hari ujian aja. Dan jangan lupa, risiko ditanggung yang izin :D.

pembukaan

Forum DM

Hotel Pangeran Beach - tempat kami menginap & Simposium. Di belakang saya (yg memfoto) langsung bersisian dengan pantai Padang.

#2 Petani dan Dokter
Dalam salah satu sesi diskusi KBK saat Simposium, dekan FK Unhas bercerita:
"Suatu hari dekan Faperta datang ke saya, lalu bertanya: kalau kedokteran bisa maju dan selalu ada penerusnya, gimana caranya biar pertanian di Indonesia maju dan ada penerusnya?"
Intinya, sang dekan Faperta itu minta saran mungkin ada kurikulum yang harus diperbaiki di fakultasnya. Dekan FKUH itu lalu bilang (kurang lebih),"Jelas saja FK keluarannya dokter, lha yang mengajarnya saja dokter. Coba kalau Pertanian yang mengajar para petani yg sehari-hari bergelut dengan sawah dan ladang2nya.. bisa lebih hebat. Bukankah mereka yang lebih paham." Jelasnya santai :). Hmm, benar juga kata beliau. Sempat terpikirkan ga sih, profesi-profesi apa saja yang langsung dididik seperti dokter? Yang langsung menyebut dosennya dengan kata: "Dok" bukan "Pak atau Bu atau Prof"?
Pertama kali masuk FK, pertama kali juga saya bertermu dengan dokter bukan sebagai pasien, tapi seorang murid.

#3 Dokter dan Pasien
Ada tiga bekal yang penting untuk menjadi seorang dokter, kata salah seorang preceptor saya: brain, performance dan attitude. Teori tanpa praktik = nol. Praktik tanpa teori = nol. Teori hebat, praktik hebat tapi sikap buruk = nol juga. Bahkan, masalah etika pun ada undang-undangnya (dulu KODEKI, sekarang UU Kedokteran). Tapi, apakah cukup dididik oleh dokter, menguasai teori dan beretika? Ternyata tidak tanpa adanya pasien. Kalau ada anggapan bahwa dokter adalah 'dewa',William Osler bilang bahwa the patient is the teacher.
A medical student BEGINS with a patient. CONTINUES with a patient, ENDS his study with a patient and BEGINS his career with a patient.
Jadi, pasien lebih 'dewa' dong..hehe

By the way, dulu saya merasa hampa *euleuh* ketika di Jatinangor, belajar teori terus. Apalagi dengan sistem PBL yang triggernya adalah kasus. "A 33 years old-man come to you with chief complaint..bla-bla.." Sebut saja chief complaintnya mata merah, gatal dan berair.  Semua teori dipelajari dari A sampai K. Embriologi, anatomi, histologi mata, farmakologi, dst sampai komplikasi.. (LI terakhir komplikasi kan yah..he3..) Tapi pasiennya sama sekali ga tau gimana 'bentuk'nya. Ga berasa jadi dokter, kan?

Lain halnya ketika di RS seperti sekarang, pasien banyak, tapi waktu untuk bertemu dan belajar yang sempit. Cukup banyak teman-teman yang bilang: "mending dari dulu kita belajar kayak gini aja ya, langsung aja di RS..." "Kayaknya cukup deh 1 semester FBS (Fundamental of Biomedical Science) di Jatinangor, sisanya koas. biar belajarnya lebih ngena. Kan sistemnya mirip, gitu-gitu juga. Jadi bisa lebih paham & variatif." Jadi ingat, ada satu bagian minor yang sudah saya lewati. Diakhir stase kami diminta mengisi kuesioner. Salah satu pertanyaannya: Cukupkah masa rotasi di bagian ini? Kaget juga, ternyata yang menjawab "tidak cukup" hampir semua. Secara kasus yang harus dikuasainya banyak banget. Poli subdivnya banyak pula, tapi waktu stasenya minim

BP di Embryo
Beda'lah kalau langsung berhadapan sama pasien. Dulu pertama kali saya memeriksa pasien waktu ikut acara DKM (habis ujian semester 1), padahal sekedar anamnesa, mengukur vital sign aja tapi deg-deg-annya heboh. Eh, tapi habis itu nagih. Setiap acara yang berhubungan dengan 'pasien' hampir selalu ikut. Kalau ga jadi peserta ya panitia. Inilah bukti bahwa kami haus dengan pasien, dok (maaf saya bukan drakula, tapi berharap ada pihak universitas yang baca ^^v).

Dengan berguru langsung pada pasien, jadi lebih tahu mana yang benar mana yang salah, mana yang kurang mana yang lebay. Jadi lebih ingat karena semua indera kita pakai, kecuali pengecapan ;) Mumpung masih masa belajar & ga ada tuntutan

Hecting dahi

#4 Morning Report
Ada yang bilang laporan jaga, laporan pagi, night shift report. Dulu saya kira sesi laporan & diskusi dengan Bahasa Inggris hanya ada di bagian tertentu. Tapi ternyata semua bagian yang sudah saya lewati ada kewajiban begitu.  ^^ Seru juga ya..

#5 Doa Pagi di Anestesi
Ini nih, satu-satunnya bagian yang setiap sebelum laporan pagi selalu dibacakan do'a.  Begini do'anya
"Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirabbil'alamin.
Ya Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Pada hari ini kami berkumpul bersama memohon ridhoMu ya Allah
Ya Allah yang Bijaksana
Berikanlah kami bimbingan dalam mengerjakan pekerjaan kami
 Tunjukanlah kepada kami kemudahan menghadapi segala permasalahan

Ya Allah yang Maha Mengetahui
berikanlah kami pengetahuan yang luas serta kemampuan menjalankan profesi kami.
Kami menyadari kekurangan kami. Namun rahmat dan berkahMu selalu menolong kami

Ya Allah Pemilik alam semesta raya
Sayangilah kami, guru kami, sejawat, rekan kerja, pasien dan seluruh umat manusia
lindungilah kami semua untuk mendatangkan keamanan, keadilan dan kemakmuran

Ya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung
Dengan keagunganMu.Muliakanlah derajat kami.
Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba yang Engkau cintai
Dengan kuasamu, jadikanlah hari ini menjadi hari yang lebih baik dari hari kemarin
Dan hari esok yang lebih baik dari hari ini
agar kami termasuk dalam golongan hamba-hambaMu yang beruntung.
Subhana rabbika rabbil'izzati 'amma yashifun wa salamun 'alal mursalin wal hamdulillahi rabbil 'alamin”

Habis berdo'a suasananya jadi beda, lebih tenang dan semangat!
Ohya, sekedar info buat yang tertarik menjadi anestesiologis alias dokter bius. Ternyata tugas dokter anestesi itu bukan hanya menerima pasien yang sudah berbaring di bed OK terus tinggal dibius aja. Tapi, ada tindakan pre-operatif dan post-operatif. Sehari sebelum jadwal operasi, dokter Anestesi mengunjungi pasien di bangsal, lalu memperkenalkan diri kalau "saya dokter bius-nya", anamnesis dan pemfis, lalu menjelaskan rencana tindakan pembiusan yang akan dilakukan. Tujuannya untuk menenangkan pasien. Siapa sih pasien yang senang dengan kata bius dan operasi :')
http://farm1.static.flickr.com/227/491421231_38e9d1e4a9.jpg


Besoknya, sang dokter bertemu lagi dengan pasien di OK, menjelaskan, menangkan dan memulai tindakan perioperatif. Sampai nantinya tetap bertanggungjawab hingga pasien sadar kembali. Tugas yang berat.
Kalau kata preceptor saya; "dokter anestesi itu mengganggu ya. Pasien lagi enak-enak bangun, dipaksa tidur. Terus pas enak-enaknya tidur, dipaksa bangun."
Ya, kalau ga bangun bisa bahaya >,<
http://www.airforce.com/i/careers_page/anesthesiologist.jpg


***
Mungkin cuma ditulis 5 poin yang berbeda,  padahal di lapangan masih lebih banyak lagi hal-hal baru. Semoga bermanfaat :)

0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.