Tuesday, June 7, 2011

Menulis Tulisan Populer

بسم الله الرحمن الرحيم
Menulis dengan baik memang gampang-gampang susah. Bagi yang sudah biasa menulis, tentu tidak perlu lama-lama menuangkan idenya dalam tulisan. Ide, ya, ide. Tulisan yang kita buat sebaiknya berisi gagasan kita sendiri yang cenderung terhadap suatu hal.
"Seobjektif apapun tulisan seseorang, pasti ada unsur subjektifnya. Media massa sekalipun mengarahkan pembacanya untuk memiliki pemikiran tertentu, namun 'dibungkus' dengan data-data yang objektif", jelas trainer dan penulis populer di kalangan remaja ini, sebut saja Kang Tora :)

Tidak seperti menulis karya ilmiah, tulisan populer cenderung nyeleneh dalam penggunaan EYD. Penulis lebih bebas bermain dalam kata. Beberapa langkah menulis dengan baik, diantaranya:
1. Tentukan tema
Ada contoh judul yang bombastis di suatu media massa: PEMERINTAH PENDUSTA. Hal ini akan menarik mata pembaca untuk menguak lebih lanjut isi tulisan tersebut bukan? Judul sebaiknya diambil dari kata-kata orang. Lalu beri subjudul, misalnya: Pembangunan Negara...(bla-bla). Lalu beri penjelasan tentang siapa yang mengatakan pemerintah itu pendusta. Dengan begitu, media massa akan terlepas dari tuntutan tentang tulisannya bila suatu hari ada masalah.



Kebanyakan judul dibuat adalah tema tulisan itu sendiri. Tidak perlu panjang. Tema bisa dipilih yang dekat dengan keseharian ditambah keberpihakan kita; mau pro atau kontra terhadap tema itu sendiri. Ingat, bahwa fungsi tulisan adalah menyampaikan pendapat. Bagaimana menurut kalian tentang judul: KELUARGA BAHAGIA? Judul itu adalah contoh yang baik karena bisa berisi banyak gagasan dari beberapa ustadz.

2. Kumpulkan data, fakta, opini terkait tema yang kita pilih dan tentukan keberpihakan kita. Lalu, buatlah alinea pertama yang menggambarkan tujuan tulisan kita. Antara alinea satu dan berikutnya dapat menggunakan penghubung waktu, tempat, sebab akibat dan lain-lain. Contoh:
Alinea 1. Di Bandung dana kesehatan sekitar..
Alinea 2. Sementara di Jakarta dana kesehatan..
Alinea 3. Mengapa di Bandung tidak bisa seperti di Jakarta
Alinea 4. Pada tahun sekian.. (penghubung waktu bisa jadi menceritakan masa lalu)

3. Satu alinea = Satu paragraf
Tulisan-tulisan lama yang terikat EYD memang seperti itu. Bahkan di novel-novel lama 1 paragrafnya bisa jadi sepanjang 1 halaman. Lain halnya dengan tulisan populer yang kini 1 alinea sering dipecah menjadi 2-3 paragraf.

Semua saran tersebut bukan berarti kita bebas mengesampingkan penggunaan EYD dengan baik sama sekali. Namun, ada kalanya kita mengatur kata dan kalimat yang pas agar enak dibaca dan sampainya pesan kepada pembaca. Fokus pelatihan ini adalah menyampaikan gagasan kita secara tertulis dengan baik; memikat, sistematik dan mengandung ide. Harapannya gagasan-gagasan itu dapat diketahui secara luas. Karena dalam kehidupan berorganisasi sering ditemui peristiwa-peristiwa bersejarah namun tidak tercatat dengan baik dan rapi.
Saya setuju dengan pesan dari Kang Tora bahwa "Jangan sampai ide-ide kita tidak menyejarah. Kalau kita berpikir tulisan kita tidak pantas untuk ditampilkan, maka sebenarnya hidup kita juga tidak pantas untuk ditampilkan"
Cukup sampai disitu, saya merasa tertohok karena masih saja malu untuk membuat tulisan-tulisan tertentu.
"Ingat, sekuat apapun ingatan kita, tidak pernah lebih kuat daripada tinta", imbuhnya mengakhiri pelatihan ini.

*Sebuah catatan dari Pelatihan Jurnalistik BSMI Kota Bandung.
5 Juni 2011

0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.