Saturday, September 17, 2011

Ibuku

بسم الله الرحمن الرحيم
Ibuku, ibu yang luar biasa.
Ibu yang rajin mengajari anaknya membaca. Seingat saya, sejauh memori yang bisa saya jangkau, saya duduk di pangkuan beliau. Ayah menyetir di samping kanannya. Sepanjang jalan, bila ada tulisan sebesar-besar papan reklame, ibu menunjukkannya pada saya. Kalau saya tidak juga hapal, ibu tetap sabar mengulangnya. Kalau tidak hapal juga, tamatlah pelajaran hari itu..hehe..

Kemarin, memori terdekat yang saya ingat, ketika saya terlalu lelah pulang dari perjalanan, datang langsung merebahkan badan seperti orang terkapar di atas karpet. Diam, words salad-ing, somnolen. Lapar, namun badan remuk dan rasa kantuk melebihinya. Sudah 40 jam saya di luar rumah. Malam sebelumnya saya jaga UGD, kesempatan tidur hampir tidak ada. Istirahat hanya untuk makan sambil selonjoran. Yang ada ketiduran beberapa belas menit saja setelah sholat lalu terbangun kaget karena ada telpon. Paginya dilanjutkan dengan stase seperti biasa. Sorenya ngaji ke tempat yang-seringnya-kami-tidak-kebagian angkot, jalan 2 kilo-an sambil ngobrol menghindari kendaraan yang melaju dari belakang. Sampailah di rumah ba'da isya menjelang jam 8 malam.

"Makan dulu..", kata ibu mendekati saya yang setengah tertidur dalam recovery position.
"...nggggg....", GCS mulai menurun 1 poin

"Mau diambilin?"
"....ng...."sambil ngangguk.
Bermenit-menit kemudian
"Lho kok belum di makan? Mau disuapin?"
"Aaaa...", mulut saya membuka, lalu sesuap nasi lauk dan sayur masuk ke dalam mulut.

Setelah setengah piring berhasil di lahap, energi mulai kembali, badan mulai enakan, baru saya bercerita. Ada adik-adik saya yang sedari tadi berkomentar, tertawa, bercanda satu sama lain sambil mengomentari lakon-lakon di TV. Sesekali saya diajaknya ngobrol. Tapi saya tidak ingat sama sekali ngobrol apa ya semalam. *plak

Belum selesai sampai disuapin. Setelah makan saya mencoba menggapai minyak kayu putih, sekadar memijat telapak kaki yang pegalnya luar biasa. Baru kali ini saya jaga UGD yang bikin telapak kaki dan betis entah dimana, bukan sekedar "ga bisa napak". Baru kali ini juga saya jaga UGD tidak sempat mampir ke tempat duduk di nurse station dan di pinggir radiologi, bahkan kami bertiga tidak sempat ganti baju jaga! Teman-teman jaga UGD bagian lain sampai berkomentar dan saya jawab,"Pasien banyak, residen2nya juga ga ganti baju jaga, ga enak jadinya mau minta ijin". Dan itu sudah jam 3 pagi, tanggung 3 jam lagi selesai.

Ibu yang melihat tingkah anaknya bertanya lagi,"mau koyo?"
"Iya.."
Setelah itu dicarikan daaaaannn... ditempelkan ke kedua telapak kaki dan betis saya..
Soooo sweeet bukan...      
Sayang banget sama anaknya yang satu ini.. *jadi pengen nangis*
Alhamdulillah

0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.