Thursday, September 29, 2011

Plus

بسم الله الرحمن الرحيم
Plus adalah kode kedokteran untuk mengatakan kematian. Dalam salah satu Morning Report Bedah edisi bahasa Inggris, pelapor tidak berkata 'plus' jika pasiennya meninggal. Tentu saja, karena sikonnya formal. Pun sempat ada konsulen mengkritisi pemakaian kata "passed away" yang seharusnya "dead". Jadi, 'mati' bukan 'wafat'. Perhaps you know who is him, mastering English, speak fluently and fast, having critical mind over another seniors.

Ah, forget about the words. Sekedar intermezzo tentang satu dari sekian laporan jaga yang mengesankan. *asosiasi longgar >.<

Jika sekelompok orang dengan gugup menanti detik-detik menjelang kelahiran, maka penantiannya berujung pada kebahagiaan yang sempurna ketika sang bayi lahir dengan selamat. Itu adalah kejadian di belahan ujung utara dan selatan RSHS dan tempat-tempat kelahiran lainnya. Sementara saya, selesai follow up beberapa kamar di Ruang A1 (bangsal anak), langsung diserahi tugas observasi ketat 1 pasien dengan burst abdomen karena tumor intraabdomen (susp.Limfoma Burkitt) dan 1 pasien Acute Kidney Injury dengan muntah dan kejang beberapa kali. Dua pasien yang membuat saya dan residen mondar-mandir karena kamar mereka berbeda semalaman hingga menjelang subuh. Mereka seharusnya ada PICU, btw. Alhamdulillah, pasien AKI membaik setelah tablet sublingual dan cairan intravena diberikan. Di kamar lain, pasien dengan burst abdomen tidak juga membaik, kesadarannya semakin menurun, nadinya tidak teraba, napasnya melemah, suhu tubuhnya semakin tinggi. Syoknya bertambah berat. Sampai tahap pemberian terapi terakhir keadaannya tidak juga membaik. Inikah?

Namanya D, laki-laki, usianya baru 7 tahun. Badannya kurus dengan KEP berat. Perutnya membuncit karena ada tumor yang berkembang dan menggerogoti tubuhnya. Hati siapa yang tidak terenyuh melihatnya. Hati siapa yang tidak tergetar melihat ketabahan orang tuanya. Tentu bukan hal yang mudah dan singkat mendampingi anaknya sejak awal-awal penderitaan itu timbul. Memikirkannya, mengingatkan saya akan cinta ibu yang tidak pernah habis walaupun tidak kita minta. Nampak sang ibu mendekat dan berdoa di telinga anaknya yang sedang meregang nyawa. Matanya basah. Pasrah.

Ya Allah, setiap makhuk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Itu sunahMu yang kegentingannya juga harus dihadapi. Dan inilah yang plus pertama semenjak puluhan kali saya jaga pagi/malam di RSHS. Menghadapi pasien yang sedang sakaratul maut. Perlahan dan tenang.
Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un

0 komentar:

Post a Comment

Jadilah seperti bintang yang indah kemilau namun sulit untuk digapai. Seperti melati begitu lembut dan suci, seperti mawar yang indah namun memiliki duri untuk melindungi diri. Ukhty moga kita bisa menjadi muslimah yang begitu lembut, anggun begitu banyak yang menginginkan namun sulit dimiliki sembarang orang karena kita teguh terhadap Allah dan Rasul.